Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Masjid Nusantara
Showing posts with label Masjid Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Masjid Nusantara. Show all posts

Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia


Keberadaan masjid-masjid kuno menunjukkan eksistensi dan peradaban umat Islam di masa lampau. Berikut ini kami rangkumkan beberapa masjid peninggalan masa lalu yang ada di Indonesia.

Era 1200 - 1400 M


Masjid Saka Tunggal (Banyumas, Jawa Tengah)


Masjid Saka Tunggal terletak di Desa Cikakak Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Masjid ini dibangun pada tahun 1288 seperti yang tertulis pada Saka Guru masjid ini.
Baca selengkapnya >>



Masjid Tuo Pulo Kambing (Aceh Selatan, NAD)


Sepintas, masjid ini tak seperti bangunan berusia 900 tahun atau 9 abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1351 M. Masjid ini terletak di Pulo Kambing, Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, Nangroe Aceh Darussalam.
Baca selengkapnya >>


Era 1400 - 1600 M


Masjid Wapauwe (Maluku Tengah, Maluku)


Masjid Tua Wapauwe adalah masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1414 Masehi. Masjid ini terletak di Kaitetu, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.
Baca selengkapnya >>


Masjid Asal Penampaan (Gayo Lues, NAD)


Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid Asal – Penampaan didirikan pada tahun 815 H/1412 M. Masjid yang terletak di Penampaan, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Nangoe Aceh Darussalam ini didirikan dalam masa Kerajaan Pasai.
Baca selengkapnya >>


Masjid Agung Karawang (Karawang, Jawa Barat)


Masjid Agung Karawang memiliki sejarah cukup panjang. Masjid yang berlokasi di Alun-alun Barat Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Jawa Barat ini tidak lepas dari sosok Syeikh Quro. Masjid yang dulunya merupakan mushala kecil itu, dibangun tahun 1418 M.
Baca selengkapnya >>

Masjid Ampel (Surabaya, Jawa Timur)


Masjid Ampel adalah sebuah masjid kuno yang berada di Pegirian, Semampir, Ampel, Semampir, Surabaya, Jawa Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel pada tahun 1421, Hingga tahun 1905, Masjid Ampel adalah masjid terbesar ke-2 di Surabaya.
Baca selengkapnya >>


Masjid Baiturrohim Gambiran (Pati, Jawa Tengah)


Berada di Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Masjid Baiturrohim Gambiran menjadi masjid tertua di Pati. Masjid itu itu kini telah berusia lebih dari 572 tahun. Ini jika dilihat dari tahun pembuatan masjid yang tertera pada prasasti yaitu 9 Oktober 1445.
Baca selengkapnya >>


Masjid Sekayu (Semarang, Jawa Tengah)


Masjid Sekayu adalah sebuah masjid yang berada di Semarang. Masjid ini terletak di Kampung Sekayu Kecamatan Semarang Tengah. Masjid Sekayu ini dibangun dalam rangkaian proses pembangunan Masjid Agung Demak. Konon Masjid Sekayu dibuat tujuh tahun sebelum berdirinya Masjid Demak.
Baca selengkapnya >>


Baca juga : Tiga Masjid Tertua Di Semarang 

Masjid Agung Demak (Demak, Jawa Tengah)


Masjid Agung Demak adalah salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia. Didirikan pada tahun 1479 M. Masjid ini terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Baca selengkapnya >>



Masjid Merah Panjunan (Cirebon, Jawa Barat)


Masjid ini merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Masjid ini terletak Jl. Kolektoran No.43, Panjunan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.
Baca selengkapnya >>


Masjid Agung Sang Cipta Rasa (Cirebon, Jawa Barat)


Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, yang berada Jl. Jagasatu, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.  Masjid ini didirikan pada tahun 1480 M.
Baca selengkapnya >>


Masjid Sultan Suriansyah (Banjarmasin, Kal-Sel)


Masjid Sultan Suriansyah di Jl. Alalak Utara RT 5, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550).
Baca selengkapnya >>


Masjid Menara Kudus (Kudus, Jawa Tengah)


Menurut sejarah, Masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H/1549 M. Hal ini terlihat dari batu tulis yang terletak di Pengimaman masjid. Mesjid Menara Kudus berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Baca selengkapnya >>


Masjid Laweyan (Solo, Jawa Tengah)


Masjid Laweyan atau yang sering disebut Masjid Ki Ageng Henis berdiri sejak 1546. Disebut Masjid Ki Ageng Henis karena pendirinya adalah Ki Ageng Henis yang merupakan trah dari raja Kerajaan Majapahit terakhir, Adapun letak Masjid Laweyan berada di Jl. Liris No 1 RT 4 RW 4 Kelurahan Pajang, Laweyan, Solo.
Baca selengkapnya >>

Masjid Agung Banten (Serang, Banten)


Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Masjid ini dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid ini terletak Jl. Banten Lama, Banten, Kasemen, Serang, Banten.
Baca selengkapnya >>


Masjid Mantingan (Jepara, Jawa Tengah)


Masjid Mantingan adalah masjid kuno di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini didirikan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1559. Model bangunan masjid Mantingan masih kental dengan arsitektur China, seperti ubin lantai tinggi dan kereta api-undakannya dengan mendatangkan bahan dari Makao.
Baca selengkapnya >>

Masjid Sendang Dhuwur (Lamongan, Jawa Timur)


Masjid Sendang Dhuwur terletak di Jl. R. Nur Rahmat Sunan Sendang, Desa Sendang Dhuwur, Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Masjid ini diperkirakan didirikan pada abad ke-16 berdasarkan Candrasengkala yang bertuliskan 'Gurhaning Sarira Tirta Hayu' (1483 Saka = 1561 M).
Baca selengkapnya >>

Masjid Tuo Kayu Jao (Solok, Sum-Bar)


Masjid Tuo Kayu Jao adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Masjid ini didirikan pada tahun 1599. Masjid Tuo Kayu Jao adalah salah satu cagar budaya di Sumatera Barat yang diawasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Indonesia.
Baca selengkapnya >>

Era 1600 - 1800 M


Masjid Jami’ Indrapuri (Aceh Besar, NAD)


Masjid Jami’ Indrapuri terletak di Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam, di pinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh. Masjid ini pada mulanya merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12 M.
Baca selengkapnya >>

Masjid Al-Hilal Katanga (Gowa, Sul-Sel)


Masjid Al-Hilal atau lebih dikenal dengan nama Masjid Katangka adalah salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan, Indonesia. Dinamakan Masjid Katangka karena berlokasi di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Sebuah prasasti menginformasikan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1603.
Baca selengkapnya >>

Masjid Tua Palopo (Palopo, Sul-Sel)


Masjid Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu yang berlokasi di Jl. Andi Jemma No.88, Batupasi, Wara Utara, Batupasi, Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M.
Baca selengkapnya >>

Masjid Besar Tegal Kalong (Sumedang, Jawa Barat)


Masjid Besar Tegal Kalong terletak di Jl. H. Sulaeman, Talun, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Raden Suriadiwangsa membangun masjid ini pada sekitar tahun 1600-an.
Baca selengkapnya >>



Masjid Raya Baiturrahman (Banda Aceh, NAD)


Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Masjid Raya Baiturrahman dengan alamat lokasi di pusat kota Banda Aceh, Jl. Masjid Raya, Kp. Baru, Kota Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam.
Baca selengkapnya >>

Masjid Teungku Dipucok Krueng (Pidie Jaya, NAD)


Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa kekuasan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636 M). Masjid Teungku Dipucok Krueng terletak di Jl. Raya lintas Banda Aceh-Medan, Simpang Beuracan, Kemukiman Beuracan, Gampong Kuta Trieng, Kecamatan Meureudu, Kab, Pidie Jaya, Nangroe Aceh Darussalam.
Baca selengkapnya >>

Masjid Ladju (Sumenep, Jawa Timur)


Masjid ini terletak di Jl. Panglima Sudirman, Kelurahan Kepanjin, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, atau tepatnya berada di depan Rumah Dinas Bupati Sumenep atau sebelah utara Kraton Sumenep. Di dalam Babad Songenep dijelaskan bahwa yang membangun Masegit Ladju adalah Pangeran Anggadipa pada tahun 1639.
Baca selengkapnya >>

Masjid Al-Anshor Pekojan (Jakarta)


Masjid Al-Anshor di Pekojan adalah masjid yang tertua yang masih ada di wilayah DKI Jakarta. Telah tercatat keberadaannya semenjak tahun 1648, masjid ini merupakan peninggalan orang-orang Moor di Jakarta. Keberadaan masjid ini untuk pertama kalinya diketahui dari sebuah laporan berangka tahun 1648 yang ditujukan kepada Dewan Gereja di Batavia.
Baca selengkapnya >>

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Jakarta 

Masjid Gedhe Mataram Kotagede (Bantul, Yogyakarta)


Masjid Kotagede adalah salah satu masjid tertua di Yogyakarta. Masjid Gedhe Mataram berada di komplek pemakaman raja-raja Mataram yang beralamat di Dusun Sayangan RT 04 Jagalan, Kecamatan Baguntapan, Kabupaten Bantul. Masjid Gedhe Mataram Kotagede dibangun pada zaman Kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung.
Baca selengkapnya >>

Masjid Agung Kauman (Semarang, Jawa Tengah)


Masjid ini berdiri megah di depan alun-alun Kota Semarang. Menurut sejarah, Masjid Agung Kauman dibangun pada 1170 Hijriyah atau 1749 Masehi. Bagian masjid yang berdiri kokoh hingga saat ini adalah yang didirikan oleh Adipati Suradimanggala (Kiai Terboyo).
Baca selengkapnya >>


Masjid Agung Sumenep (Sumenep, Jawa Timur)


Menurut catatan sejarah Sumenep, Pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi. Masjid yang terletak di Alun-alun Barat, Kota Sumenep, Kab.Sumenep, ini menjadi salah satu landmark di Pulau Madura.

Baca selengkapnya >>

Era 1800 - 1900 M


Masjid Bingkudu (Agam, Sum-Bar)


Masjid Jamik Bingkudu adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan oleh kaum Padri di tengah kecamuk perang Padri di Sumatera Barat pada tahun 1823. Masjid dengan arsitektur khas Minangkabau ini terletak di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Baca selengkapnya >>

Masjid Keramat Banua Halat (Tapin, Kal-Sel)


Masjid Al-Mukarromah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Keramat Banua Halat adalah masjid tua yang berada di Desa Banua Halat Kiri, Tapin Utara, Tapin, Kal-Sel. Masjid ini berjarak sekitar 120 km dari ibukota provinsi Kalimantan Selatan.
Baca selengkapnya >>


Masjid Agung Al-Baitul Qadim (Kupang, NTT)


Masjid Agung Al-Baitul Qadim Air Mata yang terletak di Jl. Trikora No.32 Kota Kupang, merupakan masjid pertama dan tertua di Pulau Timor bagian barat NTT. Masjid ini dilukiskan sebagai simbol pemersatu antarumat beragama di Kota Kupang dan sekitarnya, karena dibangun bersama umat Nasrani yang hidup dan menetap di Kampung Air Mata.
Baca selengkapnya >>

Masjid Jami Kesultanan Sambas (Sambas, Kal-Bar)


Inilah Masjid Jami Kesultanan Sambas yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Barat. Masjid Jami Kesultanan Sambas terletak di Jl. Istana, Dalam Kaum, Kecamtan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Baca selengkapnya >>




(Dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid Menara Kudus



Masjid Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan sejarah, sebagai bukti proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Masjid ini tergolong unik karena desain bangunannya, yang merupakan penggabungan antara Budaya Hindu dan Budaya Islam. Sebagaimana kita ketahui, sebelum Islam, Di Jawa telah berkembang agama Budha dan Hindu dengan peninggalannya berupa Candi dan Pura. Selain itu ada penyembahan terhadap Roh Nenek Moyang (Animisme) dan kepercayaan terhadap benda-benda (Dinamisme). Masjid Menara Kudus menjadi bukti, bagaimana sebuah perpaduan antara Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Hindu telah menghasilkan sebuah bangunan yang tergolong unik dan bergaya arsitektur tinggi. Sebuah bangunan masjid, namun dengan menara dalam bentuk candi dan berbagai ornamen lain yang bergaya Hindu.

Menurut sejarah, Masjid Menara Kudus didirikan oleh Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq ialah putera dari R. Usman Haji yang bergelar dengan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan tempat tersebut terletak di sebelah utara Blora). Sunan Kudus kawin dengan Dewi Rukhil, puteri dari R. Makhdum Ibrahim, Kanjeng Sunan Bonan di Tuban. R. Makhdum Ibrahim adalah putera R. Rachmad (Sunan Ampel) putera Maulana Ibrahim. Dengan demikian Sunan Kudus adalah menantunya Kanjeng Sunan Bonang. Sunan Kudus selain dikenal seorang ahli agama juga dikenal sebagai ahli ilmu tauhid, ilmu hadits dan ilmu fiqh. Karena itu, diantara kesembilan wali, hanya beliau yang terkenal sebagai “Waliyil Ilmi”. Adapun cara Sunan Kudus menyebarkan agama Islam adalah dengan jalan kebijaksanaan, sehingga mendapat simpati dari penduduk yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Salah satu contohnya adalah, Sapi merupakan hewan yang sangat dihormati oleh agama Hindu, suatu ketika kanjeng Sunan mengikat sapi di pekarangan masjid, setelah mereka datang Kanjeng Sunan bertabligh, sehingga diantara mereka banyak yang memeluk Islam. Dan sampai sekarang pun di wilayah Kudus, khususnya Kudus Kulon dilarang menyembelih sapi sebagai penghormatan terhadap agama Hindu sampai dengan saat ini.

Penghormatan lain adalah diwujudkan dalam bentuk bangunan menara masjid yang bercorak Hindu. Menurut sejarah, masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H/1549 M. Hal ini terlihat dari batu tulis yang terletak di Pengimaman masjid, yang bertuliskan dan berbentuk bahasa Arab, yang sukar dibaca karena telah banyak huruf-huruf yang rusak. Batu itu berperisai, dan ukuran perisai tersebut adalah dengan panjang 46 cm, lebar 30 cm. Konon kabarnya batu tersebut berasal dari Baitulmaqdis/Al-Quds di Yerussalem – Palestina. Dari kata Baitulmaqdis itulah muncul nama Kudus yang artinya suci, sehingga masjid tersebut dinamakan masjid Kudus dan kotanya dinamakan dengan kota Kudus.

Masjid Menara Kudus ini terdiri dari 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918 – an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang berbentuk “padasan” tersebut merupakan peninggalan jaman purba dan dijadikan sebagai tempat wudhu. Masih menjadi pertanyaan sampai sekarang, apakah kolam tersebut peninggalan jaman Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengadopsi budaya Hindu. Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai “Lawang kembar”, konon kabarnya gapura tersebut berasal dari bekas kerajaan Majapahit dahulu, gapura tersebut dulu dipakai sebagai pintu spion.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Cerita mengenai Menara Kudus pun ada berbagai versi, ada pendapat yang mengatakan,” bahwa Menara Kudus adalah bekas candi orang Hindu,”. Buktinya bentuknya hampir mirip dengan Candi Kidal yang terdapat di Jawa Timur yang didirikan kira-kira tahun 1250 atau mirip dengan Candi Singosari. Pendapat lain mengatakan kalau di bawah menara Kudus, dulunya terdapat sebuah sumber mata air kehidupan. Kenapa? karena mahluk hidup yang telah mati kalau dimasukkan dalam mata air tersebut menjadi hidup kembali. Karena dikhawatirkan akan dikultuskan, ditutuplah mata air tersebut dengan bangunan menara. Menara Kudus itu tingginya kira-kira 17 meter, di sekelilingnya dihias dengan piringan-piringan bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah banyaknya. 20 buah diantaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sedang 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Dalam menara ada tangganya yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Tentang bangunannya dan hiasannya jelas menunjukkan hubungannya dengan kesenian Hindu Jawa. Karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian : (1) Kaki (2) Badan dan (3) Puncak bangunan. Dihiasi pula dengan seni hias, atau artefix (hiasan yang menyerupai bukit kecil).

Tampak dari depan sekilas memang masjid Menara Kudus ini kelihatan kecil, namun setelah masuk ke dalam luas sekali. Selain masjid, ternyata di belakang masjid adalah komplek makam Kanjeng Sunan Kudus dan para keluarganya. Pintu masuk makam terletak di sebelah kanan masjid, kemudian setelah melalui jalan kecil kita akan melalui pintu kedua memasuki komplek yang di dalamnya ada pondokan-pondokan. Di tengah-tengah pondokan tersebut ada sebuah bangunan paling besar, konon kabarnya bangunan tersebut adalah tempat pertemuan para Walisongo sekaligus tempat Sunan Kudus memberikan wejangan kepada para muridnya. Di sebelah utara sebuah komplek ini ada sebuah pintu kecil menuju ke komplek pemakaman Kanjeng Sunan. Komplek-komplek makam tersebut terbagi-bagi dalam beberapa blok, dan tiap blok merupakan bagian tersendiri dari hubungannya terhadap Kanjeng Sunan. Ada blok para putera dan puteri Kanjeng Sunan, ada blok para Panglima perang dan blok paling besar adalah makam Kanjeng Sunan sendiri. Uniknya adalah semua pintu penghubung antar blok berbentuk gapura candi-candi. Tembok-tembok yang mengitarinya pun dari bata merah yang disusun berjenjang, ada yang menjorok ke dalam dan ke luar seperti layaknya bangunan candi. Panorama yang nampak adalah komplek pemakaman Islam namun bercorak Hindu.

Kesan unik dan historis inilah yang sangat menarik para wisatawan religi maupun wisatawan biasa. Setiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, wisatawan yang berasal dari sekitar kota Kudus biasanya berkunjung pada hari biasa, hari Sabtu dan Minggu biasanya lebih banyak pengunjung dari luar kota. Tanggal 10 Syura’ merupakan puncak keramaian di komplek masjid ini, dalam rangka khaul wafatnya Kanjeng Sunan Kudus. Walaupun mengandung keunikan yang khas, namun tata ruang sekitar masjid nampak amburadul. Karena terletak di pusat kota Kudus, hanya 5 menit dari alun-alun kota Kudus, masjid ini dikepung oleh perumahan penduduk yang cukup padat. Sehingga, mengurangi keindahan komplek bangunan Masjid Menara Kudus ini yang sekarang masuk sebagai salah satu cagar budaya. Selain itu, banyaknya pengemis yang berada di sekitar masjid, juga dapat mengganggu para pengunjung yang datang. Agar terus terjaga kelestariannya, penataan ruang sekitar masjid harus diperbaiki kembali untuk mempertahankan kesan indah dan unik Masjid Menara Kudus ini.

Sumber: duniamasjid.islamic-center

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid Saka Tunggal



Nama resmi masjid ini adalah Masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama Masjid Saka Tunggal. Nama ini tak lepas dari struktur bangunan masjid yang memang hanya mempunyai satu tiang penyangga tunggal (Saka Tunggal) sebagai maksud gambaran bahwa Allah itu satu.

Berukuran 12x18 meter, Masjid Saka Tunggal ini menjadi satu-satunya masjid di Pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16 Masehi. Ini sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai masjid tertua di Indonesia.

Masjid ini didirikan tahun 1288 Masehi, sebagaimana terukir di Guru Saka (Pilar Utama) masjid. Proses pembangunan masjid kuno ini ditulis dalam buku karangan Kyai Mustolih, pendiri masjid. .

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Lokasi Masjid Saka Tunggal persisnya berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, di tengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental, sekitar 30 km dari kota Purwokerto.

Kera-kera yang berkeliaran bebas masih sering dijumpai di sekitar area masjid. Di depan halamannya kini sudah disediakan tempat berwudhu dan kamar mandi.

Dari jalan raya, pintu gerbang masjid ini cukup jauh letaknya karena berada di antara pemukiman rumah penduduk. Di belakang masjid terdapat komplek pemakaman tua dengan gerbang yang masih bertuliskan aksara Jawa. Makam di dalamnya masih rutin diziarahi oleh warga muslim setempat. Setiap tanggal 27 Rajab diadakan ziarah di masjid dan membersihkan makam Kyai Jaro Mustolih.

Kawasan Masjid Saka Tunggal kini telah menjadi cagar budaya yang dilindungi pemerintah daerah setempat.


Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid Baiturrohim Gambiran



Berada di Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Masjid Baiturrohim Gambiran menjadi masjid tertua di Pati. Menjadi penanda masuknya Islam ke wilayah Pati, masjid itu itu kini telah berusia lebih dari 572 tahun. Ini jika dilihat dari tahun pembuatan masjid yang tertera pada prasasti yaitu 9 Oktober 1445.

Dinamakan juga Masjid Wali oleh masyarakat setempat, masjid yang ukurannya tidak terlalu besar itu disebut-sebut sebagai pusat penyebaran dan pengembangan Islam di wilayah Pati pada abad ke 19. Selain itu masjid ini juga masih memiliki kaitan erat dengan sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati. Karena tonggak sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati yang berupa sebuah prasasti pembangunan justru tersimpan di Masjid Baiturrohim Gambiran ini. Bahkan Masjid Baiturrohim Gambiran pada masanya menjadi masjid utama di Pati, sebelum akhirnya pusat keislaman berpindah ke Masjid Agung Baitunnur.

Jika dibandingkan dengan bangunan aslinya, Masjid Baiturrohim Gambiran sudah mengalami banyak perubahan. Jika dahulu atapnya terbuat dari ijuk, kini telah diganti dengan genting tanah. Dinding masjid yang sebelumya dari kayu juga sudah berubah menjadi tembok semen. Lalu lantainya juga kini sudah berkeramik.

Walaupun sudah banyak perubahan, tetapi masih bisa melihat beberapa bagian masjid yang masih asli. Salah satunya adalah bentuk atap limas bersusun yang menyerupai Masjid Demak yang merupakan arsitektur khas pada masa Kerajaan Islam Demak. Mimbar khatib yang terbuat dari kayu jati kuno juga masih utuh seperti aslinya, serta tabung beduk di halaman masjid yang tetap terawat hingga sekarang.

Di Masjid Baiturrohim Gambiran ini, juga masih dapat melihat kekunoan pada pilar masjid yang masih asli. Memiliki empat pilar, masing-masing memiliki dua buah jendela yang berada di depan dan di belakang, serta di samping. Keempat pilar masjid itu dibuat dari kayu jati utuh langsung dari pohon. Kayu jati dibentuk persegi memanjang dengan pahatan sederhana tanpa sentuhan modern.

Konon, kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid tersebut juga sangat istimewa, karena diambil dari hutan di Semenanjung Muria, saat Muria masih terpisah dengan Pulau Jawa.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Sementara itu, pintu dan jendela yang dibuat dari pahatan alat pertukangan kuno juga masih asli seperti semula. Di atas pintu depan masjid, terdapat sebuah catatan dengan huruf Arab pegon. Yakni, huruf Arab yang bila dibaca memiliki bahasa dan makna Jawa. Bahkan, satu-dua kata ditemukan bahasa Belanda. Catatan yang disebut “Prasasti Gambiran” itu menceritakan tentang renovasi pertama yang dilakukan oleh Pemerintahan Adipati Ario Candrahadinegoro pada 1885, saat masa penjajahan Belanda.

Diceritakan, dalam renovasi tersebut ada suatu perubahan yang sangat mendasar, yakni pergantian kubah. Dan kubah yang diganti kemudian dipasangkan pada Masjid Tawangrejo. Saat renovasi itu pula, dinding masjid yang awalnya kayu mulai diubah menjadi tembok.

Selain empat pilar masjid, mihrab dan pintu, ada pula tempat semacam kolam kuno yang dulu digunakan untuk bersuci sebelum shalat. Kolam itu tepat berada di samping kiri masjid, dekat pinggir jalan. Dahulu, ketika masjid tersebut masih digunakan sebagai tempat untuk menikah, maka para pengantin sebelum memasuki masjid, terlebih dahulu membasuh kakinya di kolam. Namun kini kolam tersebut sudah tidak dipergunakan lagi.

Selain ada makam Mbah Cungkruk, di samping kiri masjid juga terdapat kompleks makam para penghulu (sebuah jabatan yang bertugas menikahkan orang Islam). Para penghulu dan keluarganya yang meninggal dunia dimakamkan di tempat ini, walaupun mereka sekarang sudah tidak bermukim lagi di Gambiran.

Mbah Cungkruk adalah murid Sunan Kalijaga dari dusun setempat. Pada awalnya Masjid Baiturrohim Gambiran ini dibangun oleh Sunan Kalijaga. Sayang, pembangunan masjid sempat tertunda karena beliau harus berangkat ke Demak untuk memenuhi tugas-tugasnya. Setelah itu pembangunan baru dilanjutkan kembali oleh Mbah Cungkruk. Dia dipercaya oleh sang wali untuk menjaga masjid sekaligus menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Sebagai tanda penghormatan, makam Mbah Cungkruk yang berada hanya beberapa meter dari lokasi masjid tersebut masih terawat hingga sekarang. Bahkan tak jarang ada yang menziarahi makamnya.

Meski jauh dari popularitas dan keramaian, keberadaan Masjid Baiturrohim Gambiran merupakan bukti sejarah tentang penyebaran agama Islam di wilayah Pati. Dari masjid inilah, Islam akhirnya berkembang pesat ke seluruh pelosok desa di Kabupaten Pati.

Dikutip dari inibaru.id

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid Besar Tegal Kalong



Tegal Kalong dalam sejarah Sumedang merupakan ibukota Kerajaan Sumedanglarang, setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada tahun 1600-an. Pemindahan ini terjadi pada waktu R. Suriadiwangsa menggantikan ayahnya, Prabu Geusan Ulun. Setelah Kerajaan Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram Islam, tempat ini oleh R. Suriadiwangsa dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Sebagai kelengkapan kota seperti yang berlaku pada umumnya kota-kota masa Islam di Indonesia, R. Suriadiwangsa membangun masjid ini pada sekitar tahun 1600-an merupakan bangunan permanen berdenah segi empat berukuran 22 x 8 m.

Ruang utama dilengkapi juga dengan pintu-pintu dan jendela-jendela. Masjid Besar Tegal Kalong beratap tumpang yang disangga empat tiang utama atau saka guru dengan puncaknya dilengkapi dengan mustaka. Selain ruang utama, masjid dilengkapi juga dengan teras dan tempat wudhu. Pada bagian masjid terdapat halaman yang dilengkapi dengan pagar keliling dengan dua pintu. Menurut keterangan dari pihak Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM), semula masjid merupakan bangunan rumah panggung, dinding dari anyaman bambu atau bilik. Setidaknya masjid telah mengalami 5 kali pemugaran.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Selain masjid, di tempat ini terdapat tinggalan arkeologi – sejarah yang cukup penting, yaitu bekas Pendopo Kabupaten Sumedang. Bangunan pendopo tersebut terletak di dekat masjid. Bangunan yang mengalami perubahan dan penambahan bentuk ini sekarang difungsikan sebagai Kantor Camat Sumedang Selatan. Salah satu peristiwa sejarah yang cukup penting di Masjid Besar Tegal Kalong ini adalah ketika pada tahun 1786 terjadi serangan tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Cilik Widara.

Serangan dilakukan ketika Bupati dan para pejabat serta masyarakat sedang menjalankan shalat Hari Raya Idul Fitri yang mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak Sumedang. Setelah peristiwa tersebut pusat pemerintahan dipindahkan ke pusat kota yang sekarang. Peristiwa yang memilukan tersebut juga berakibat lain adalah tabu bagi para bupati selanjutnya bila shalat Idul Fitri jatuh pada hari Jum'at untuk shalat di ibukota Sumedang.

Masjid Besar Tegal Kalong terletak di Jl. H. Sulaeman, Talun, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Sumber : situsbudaya

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid Wapauwe



Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda yang telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon pada tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis ini, terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis pada tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.

Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan di mana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid tersebut yakni tersimpan dengan baiknya Mushaf Al-Qur'an yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-salat Jumat maupun salat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu.

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464, tanpa mengubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid.

Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama.

Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini. Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap yang terbuat dari pelepah sagu diganti yang baru.

Untuk mencapai Negeri Kaitetu di mana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan, orang yang hendak menuju Masjid Wapauwe bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang kadang-kadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkeh dan pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum mencapai Kaitetu, terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, bagi yang membawa kendaraan harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, maka akan menemukan Negeri Kaitetu, lokasi Masjid Wapauwe.

Sumber : wikipedia

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid Jami’ Indrapuri



Masjid Jami’ Indrapuri terletak di Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, dipinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh.

Masjid Jami Indrapuri pada mulanya merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12 M di Kerajaan Indrapuri. Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam di abad ke 15 M. Sultan pertama Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah dinobatkan sebagai Sultan pada hari Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Pengaruh Kesultanan Aceh menyebar di pulau Sumatera hingga ke wilayah semenanjung Malaya.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Manakala Islam kemudian masuk ke wilayah Indrapuri dan kemudian mengubah peradaban di sana ke peradaban Islam, fungsi candi Indrapuri pun kemudian berubah menjadi sebuah masjid. Konon perubahan itu terjadi semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kesultanan Aceh Darussalam tahun 1607 M hingga 1636 M. Sultan Iskandar Muda juga lah yang kemudian membangun masjid Indrapuri menggantikan candi di lokasi tersebut.

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Masjid-Masjid Bersejarah di Jakarta


Jakarta, dulu Sunda Kelapa, dan lalu berganti nama menjadi Batavia dan Jakarta, pernah menjadi pusat kekuasaan Islam. Para penguasa kawasan ini konon, seperti dinukilkan dari kitab al-Fatawi, masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Fatahillah.

Pada 1511 M, penguasa Sunda Kelapa dikisahkan pernah bergabung dengan Kesultanan Demak dalam mengadang kekuatan Portugis di Malaka. Dari sini sejumlah sejarawan menyimpulkan bahwa sejatinya perwajahan kota ini dulu adalah bernuansa Islam, hingga akhirnya kekuatan Kerajaan Pajajaran masuk di Sunda Kelapa pada 1522.

Kuatnya Islam di Jakarta dapat dilihat dari masih banyaknya masjid-masjid bersejarah. Masjid tersebut selain sebagai tem pat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan aktivitas lainnya. Berikut tiga masjid bersejarah di Jakarta yang dikutip dari buku Masjid- Masjid Bersejarah di Indonesiakarya Abdul Baqir Zein:

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Masjid Jami Al-Atiq Kampung Melayu Besar


Foto suaramasjid.com

Masjid Jami Al-Atiq Kampung Melayu Besar Masjid ini berlokasi di Jalan Masjid I Kam- pung Melayu Besar, Jakarta Selatan. Masjid ini merupakan peninggalan Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama yang pusat pemerintahannya di daerah Banten Lama. Sultan Maulana Hasanuddin adalah putra Syarif Hidayatul- lah dari istrinya, Ratu Kaung Anten.

Melihat bentuk arsitektur masjid yang berdiri pada abad ke-16 ini, tampak pada atap bangunan- nya yang bersusun dan lambang panah sebagai simbol bersejarah, seperti beberapa masjid yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, antara lain, Masjid Demak, Masjid Sunan Giri dan Gresik. Masjid ini telah beberapa kali direnovasi, kendati luas masjid sebelumnya dapat dilihat pada batas keempat tiang yang beridiri kokoh di dalamnya.

Masjid Jami An-Nawier Pekojan


Foto fabana.id

Keberadaan masjid Jami An-Nawier atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Jami Pekojan ini tidak da pat di lepaskan dari kiprah perjuangan pendirinya bernama Komandan Dahlan. Ia adalah seorang tokoh ulama yang sangat disegani pada masanya. Kini, makamnya terletak di sebelah utara masjid, dikelilingi batu-batu besar pahatan abad ke-18.

Masjid Jami Pekojan ini merupakan salah satu masjid tua dan berperan di Jakarta, serta sangat besar pe nga ruhnya pada penyebaran agama Islam pada masa yang lampau. Konon, masjid ini merupakan induk dari masjid-masjid seki- tarnya. Setiap Jumat tidak kurang dari 2.000 jamaah shalat di masjid ini.

Baca juga : Masjid Al-Anshor Pekojan 

Masjid Al-Anwar Muara Angke



Masjid Al-Anwar Muara Angke Masjid Al-Anwar yang dahulu mempunyai nama Masjid Angke terletak di wilayah Jakarta Barat. Keberadaan masjid ini tidak bisa dilepaskan dengan tokoh-tokoh pejuang dan pendiri Jakarta tempo dulu, seperti Pangeran Fatahillah dan Tubagus Angke.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 400 meter persegi dan berukuran 15x15 m ini memang termasuk kecil. Bentuk bangunannya memperlihatkan perpaduan dari berbagai gaya arsitektur, seperti gaya Belanda, Banten kuno, dan Cina. Tempat ini konon adalah lokasi pertemuan- pertemuan rahasia melawan Belanda.

Sumber : republika.co.id

Baca Selengkapnya »


Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse