Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Al-Akhlaq lil Banin
Showing posts with label Al-Akhlaq lil Banin. Show all posts
Showing posts with label Al-Akhlaq lil Banin. Show all posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


19. Kisah-kisah Nyata

  1. Imam asy-Syafi'i adalah seorang yang sangat beradab di hadapan gurunya yaitu Imam Malik, semoga Allah merahmati keduanya. Beliau berkata, “Aku membuka kertas di hadapan Imam Malik dengan perlahan-lahan karena aku segan kepadanya supaya beliau tidak mendengar bunyinya.”
  2. Ar-Rabi’ bin Sulaiman adalah seorang yang sangat mengagungkan gurunya, yaitu Imam asy-Syafi'i. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak berani minum air sementara Imam asy-Syafi'i melihat kepadaku, karena aku segan kepadanya.” Gurunya sangat mencintainya dan berkata kepadanya, “Hai Rabi’, seandainya aku mampu memberimu makanan ilmu, tentulah aku memberikannya kepadamu.”
  3. Harun ar-Rasyid menyerahkan kedua anaknya, yaitu Al-Amin dan Al-Makmun pada seorang guru yang sangat pandai bernama Al-Kisa’iy. Pada suatu hari sang guru berdiri untuk keluar dari tempat mereka. Maka kedua anak itu berlomba-lomba untuk mengambilkan kedua sandalnya dan saling bergegas untuk memberikannya kepada guru mereka kemudian keduanya bersepakat untuk memberikan sandal itu, masing-masing sebuah sandal. Ar-Rasyid mendengar hal itu, lalu menyuruhnya datang. Kemudian ia berkata kepadanya, “Siapa orang yang paling mulia?” Al-Kisaaiy menjawab, “Amirul Mukminin”. Ar-Rasyid berkata, “Tidak, orang yang paling mulia adalah orang yang anak-anak Amirul Mukminin berlomba untuk mengambilkan sandalnya.” Sang guru risi dan kurang enak dan mengira (tak enak) ia bersalah serta ingin melarang mereka melakukannya sekali lagi. Maka Ar-Rasyid berkata, “Adaikata anda melarang mereka, tentu aku akan menegurmu dengan keras. Kedua anak itu tidak melakukan sesuatu yang menjatuhkan derajat mereka. Bahkan hal itu menambah kemuliaan mereka. Aku telah memberi imbalan kepada mereka 20 ribu dinar atas sopan santun mereka, dan bagimu 10 ribu dirham atas pendidikanmu yang baik terhadap mereka.”
  4. Diceritakan bahwa Harun ar-Rasyid mngirim salah seorang putranya kepada Al-Ashamaiy agar ia mengajarinya ilmu dan adab. Pada suatu hari ia melihatnya berwudhu dan mencuci kakinya sementara putra khalifah menuangkan air di atas kakinya maka ia menegur Al-Ashamiy atas hal itu dengan perkataan, “Sesungguhnya aku mengirimnya kepadamu agar supaya engkau mengajari dan mendidiknya. Mengapa anda tidak menyuruhnya menuangkan air dengan tangannya yang satu dan mencuci kakimu dengan tangannya yang lain?”

20. Apa Kewajibanmu Terhadap Teman-temanmu?


Engkau wajib memperhatikan sopan santun persahabatan terhadap murid-murid yang belajar bersamamu di sekolah yang sama, terutama murid-murid sekelasmu, karena ikatan pengajaran yang menyatukan antara kamu dan mereka. Maka mereka mempunyai hak-hak yang melebihi hak-hak orang lain diantara teman-temanmu yang lain. Maka laksanakanlah sopan santun yang berikut ini :

1. Hendaklah engkau hormati mereka yang lebih tua darimu dan sayangi mereka yang lebih muda darimu. Engkau bekerja sama dengan mereka dalam memelihara peraturan dan ketenangan serta waktu belajar atau pada waktu istirahat dan untuk menyenangkan guru-guru sedapat mungkin. Hal itu dilakukan dengan menunaikan kewajiban-kewajiban seperti menghafal pelajaran dan giat dalam menuntut ilmu, menyediakan kitab-kitab buku tulis serta alat-alat belajar dan memelihara keselamatan dari kerusakan dan kebersihan dari kotoran, serta hadir dengan teratur setiap hari sekolah sebelum waktu pelajaran. Hendaklah engkau atau salah seorang temanmu bisa menggantikan guru yang tidak hadir bilamana hal itu memungkinkan, agar supaya pelajarannya tidak berhenti dan tidak terjadi kekacauan di dalam kelas. Tentu saja gurumu sangat gembira karena engkau memelihara peraturan.

2. Termasuk sopan santun pula adalah bila engkau menyukai kebaikan bagi teman-temanmu sebagaimana engkau menyukai bagi dirimu. Sebagaimana dalam hadits : “Tidaklah seorang dari kamu beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hendaklah engkau berlapang dada dengan mereka dalam semua urusan dan memperlakukan mereka dengan ramah dan senyum. Engkau bantu mereka memperoleh kebutuhan mereka dan hindari hal-hal yang dapat menimbulkan pertengkaran dan kebencian. Maka jangan kikir terhadap mereka apabila mereka meminjam sesuatu darimu. Jangan pula bersikap sombong terhadap mereka atau mendengki mereka atau berdusta terhadap mereka ataupun mengadu domba di antara mereka. Jangan menyempitkan mereka di tempat-tempat duduk mereka atau merusak alat-alat tempat duduk mereka atau menyembunyikan sebagiannya atau berburuk sangka kepada mereka ataupun mendebat mereka tanpa sopan santun atau sering bergurau dengan mereka bukan pada waktunya. Karena hal itu menyebabkan permusuhan dan kedengkian.

3. Hendaklah engkau do'akan mereka pada waktu mereka tidak hadir. Dalam hadits : “Do'a seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di dekat kepalanya berada malaikat yang bertugas. Setiap kali ia mendo'akan kebaikan bagi saudaranya , barkatalah malaikat yang ditugasi itu: amin, bagimu seperti itu:”. Hendaklah engkau menerima maaf mereka, apabila mereka minta maaf kepadamu atas kesalahan mereka. Dan mendamaikan mereka bilamana terjadi perselisihan di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, maka itu damaikalah antara kedua saudaramu” (Al-Hujarat : 10). Hendaklah engkau berlomba dengan teman-temanmu untuk menghafal pelajaran dan memahami masalah-masalah demi mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : “Dan untuk yang demikian hendaknya orang berlomba-lomba” (Al-Muthaffifiin : 26). Hendaklah engkau membantu orang-orang yang lemah dari mereka untuk belajar dan tidak membanggakan diri terhadap mereka, karena hafal pelajaran dan cepat mengerti. Hendaklah engkau mengadakan pembahasan ilmiah pada waktu luang (senggang), karena hal itu mengembirakan hati gurumu. Termasuk sopan santun pula adalah bila ada kerumitan pada salah seorang temanmu tentang suatu masalah, lalu ia bertanya kepada guru tentang hal itu, maka janganlah engkau marah kepadanya atau mengejeknya, tetapi engkau dengarkan jawaban guru agar bertambah pengertianmu tentang masalah itu dan temanmu gembira terhadapmu.

4. Apabila engkau laksanakan sopan santun ini terhadap teman-temanmu, maka tidaklah diragukan bahwa mereka akan menghormati dan mencintaimu serta berusaha membelamu dan menghindarkan bahaya darimu serta menganggapmu benar-benar teman yang setia bagi mereka. Mereka senang berteman denganmu dan engkaupun senang berteman dengan mereka. Sebaliknya apabila engkau tinggalkan sopan santun ini, maka mereka menjadi musuhmu dan tidak suka berjumpa denganmu. Maka engkaupun menjadi sendirian dan kesepian seperti burung yang patah sayapnya.

5. Wahai murid yang beradab! Apabila engkau mendapati seorang murid yang nakal di antara teman-temanmu, suka membangkang terhadap guru-gurunya dan tidak menunaikan kewajibannya, maka hendaklah engkau menjauhi dari berteman dengannya agar tabiatnya yang jahat tidak menular kepadamu. Benarlah ketika penyair berkata :
Sesungguhnya tabiat itu mencuri tabiat
Dan barangsiapa menemani orang jahat, ia pun tertular

6. Apabila engkau berhenti dari sekolah, maka termasuk hak persahabatan adalah jangan melupakan teman-temanmu, tetapi engkau pelihara masa-masa persahabatan dan hari-hari menjadi murid. Engkau khususkan mereka diantara para sahabatmu yang lain dengan penghormatan dan kebaikan yang melebihi lainnya. Demikianlah kesetiaan di antara sesama saudara


Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »

Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


17. Kisah-kisah Nyata

  1. Berkata Mujahid, “Aku sedang berada di tempat Abdullah bin Umar. Ketika itu seorang sahayanya sedang menguliti kambing.” kemudian Abdullah berkata kepadanya, “Hai anak, jika engkau menguliti, mulailah dengan memberi tetangga kita orang Yahudi.” Ia ucapkan itu berkali-kali maka aku berkata kepadanya, “Berapa kali anda ucapkan itu?” Abdullah menjawab “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu mewasiati kami mengenai tetangga hingga kami khawatir beliau menjadikannya mewarisi kami.”
  2. Seorang laki-laki mengeluh atas banyaknya tikus di rumahnya. Maka dikatakan kepadanya, “Bagaimana seandainya engkau pelihara kucing?” orang itu menjawab, “Aku khawatir tikus mendengar suara kucing, lalu lari ke rumah para tetangga. Maka akupun tidak menyukai bagi mereka apa yang ku tidak sukai bagi diriku sendiri.”
  3. Adalah Imam Abu Hanifah ra mempunyai seorang tetangga yang dengki yang mengganggunya dan mengunjingnya. Akan tetapi beliau bersabar terhadapnya. Apabila beliau melewatinya dan memberi salam kepadanya, Orang itu tidak membalas salamnya. Maka sebagian orang menegurnya atas ketabahan dan kesabarannya yang sangat terhadap tetangganya. Maka beliau berkata, “Sesungguhnya tetangga itu mempunyai hak.”

18. Apa kewajiban Terhadap Gurumu?


Wahai anak yang beradab! Sebagaimana ayahmu yang telah memelihara tubuhmu mempeunyai hak besar padamu, maka begitu pula gurumu yang telah memelihara rohaniahmu dan mendidik akhlakmu serta menerangi pikiranmu dan mengajari ilmu yang berguna, ia mempunyai hak yang besar padamu, maka engkau wajib mencintai dan memuliakannya serta memperlakukannya dengan adab-adab ini :

1. Hendaklah engkau patuh kepada nasihat-nasihatnya dan tunduk kepada perintah-perintahnya, bukan karena takut hukuman, tetapi menjalankan kewajiban dengan ikhlas dari dalam hatimu. Sebagaimana seorang sakit yang patuh kepada dokter yang berbelas kasih. Maka hendaklah engkau menerima segala yang diberikannya kepadamu dengan pengertian yang baik, ucapan terimakasih dan kegembiraan. Hendaklah engkau bersikap rendah hati terhadapnya dan mencari pahala serta kemuliaan dengan mengabdi kepadanya. Hendaklah engkau menyadari bahwa engkau mendapat pemberian dari gurumu dan tidak dapat membalasnya, betapapun engkau berbuat baik kepadanya. Hendaklah engkau sangat berhati-hati agar tidak menentangnya atau membangkang kepadanya atau bersikap sombong terhadapnya. Dalam hadits : “Mencari muka (pujian) bukanlah termasuk akhlak seorang mukmin, kecuali dalam menuntut ilmu.” Berkata Sayyidina 'Ali karramallahu wajhah “Aku adalah budak dari orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia mau dijualnya dan jika ia mau dibebaskannya dan jika ia mau diperbudaknya.” Adapun kesombongan dan pembangkangan, keduanya menyebabkan manusia tidak mendapat ilmu.

Penyair berkata :
Ilmu itu menerangi seorang pemuda
Yang sombong
Seperti banjir membinasakan
tanah yang tinggi

Murid yang beradab dan rendah hati, ia mendapat ilmu dan memanfaatkannya. Kebalikannya adalah murid yang kurang ajar dan sombong. Miskipun ia mendapat sedikit ilmu, namun ia tidak bisa memanfaatkannya bagi dirinya dan tidak pula memberi syafaat kepada orang lain. Bahkan ilmu itu membahayakannya dan menambah baginya kesombongan dan akhlak yang buruk.

2. Diantara nasihat-nasihat guru : hendaklah engkau berniat untuk menuntut imu demi mendapat ridha Allah dan negeri akhirat, menghidupkan agama dan memberi manfaat bagi kaum muslim serta bersyukur atas nikmat akal dan kesehatan badan. Janganlah engkau bermaksud mencari pujian dan kedudukan di antara orang banyak atau mengumpulkan kesenangan duniawi.

Diantara nasihat-nasihatnya ialah hendaklah engkau berjuang dengan keras dalam mencari ilmu. Maka hafalkanlah semua pelajaranmu dan hendaklah mempelajarinya dirumah. Janganlah menyia-nyiakan waktumu dengan percuma, karena ia lebih mahal daripada permata yang berharga. Apabila luput, maka ia tidak pernah kembali. Hendaklah engkau perhatikan kebersihan buku-buku dan alat-alatmu serta pengaturannya pada tempatnya hendaklah engaku selalu hadir setiap hari pada waktu yang telah ditentukan dan jangan terlambat,, kecuali dengan alasan yang benar. Hendaklah engkau mendengarkan pelajaran-pelajaran yang diberikannya dengan penuh perhatian hingga engkau memahaminya dengan cepat dan tidak memayahkan gurumu dengan banyak mengulang. Maka kerjakanlah nasihat-nasihat yang berguna itu.

3. Termasuk sopan santun terhadap guru adalah engkau berdiri menyambutnya jika engkau duduk demi menghormati dan mengagungkannya. Janganlah duduk hingga ia mengizinkan engkau duduk. Kemudian engkau duduk di depannya dengan sopan dan jangan mendahuluinya berbicara atau memutus pembicaraannya atau menyuruh dan melarang seorang di depannya. Jika engkau tidak mengerti suatu masalah, maka hendaknya engkau ajukan pertanyaan kepadanya dengan lembut dan penghormatan. Yaitu engkau angkat jarimu lebih dulu dan jangan berbicara hingga ia mengizinkanmu bicara. Apabila ia bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka hendaklah engkau bangkit berdiri dan menjawab pertanyaannya dengan baik. Janganlah mendahuluinya menjawab, jika ia mengajukan pertanyaan kepada orang lain.

4. Hendaklah engkau memberi salam kepadanya dan menjabat tangannya setiap hari di sekolah dan menghadapinya dengan wajah tersenyum. Engkau lakukan itu pula jika menjumpainya di jalan dan menjenguknya di rumahnya, terutama pada waktu hari raya atau jika ia sakit. Engkau tanyakan kepadanya tentang kesehatannya dan hendaklah mendo'akan kesembuhannya. Engkau bantu dia dalam memenuhi kebutuhannya dan bermusyawarahlah dengannya dalam urusan-urusanmu serta mengerjakan apa yang diperintahnya janganlah memanggilnya dengan namanya tetapi dengan kata guru. Jangan berjalan di depannya atau membelakanginya dengan punggungmu. Janganlah duduk di tempatnya atau mengambil bukunya tanpa izinya. Janganlah banyak bicara kepadanya dan jangan menyebarkan rahasianya. Janganlah menggunjingkan seseorang dih adapannya. Janganlah berkata kepadanya, “si fulan mengatakan: kebalikan dari perkataannya.”

5. Janganlah malu menegaskan yang sebenarnya jika ia bertanya kepadamu tentang pengertian suatu masalah yang mana engkau tidak memahaminya agar supaya engkau tidak berdosa karena berdusta dan agar bisa memahami masalah itu. Janganlah engkau marah jika ia menegurmu, tetapi hendaklah engkau diam dan gembira atas hal itu karena, ia tidak menegurmu kecuali karena cinta kepadamu agar engkau menunaikan kewajibanmu. Kelak engkau akan berterimakasih atas teguran itu bila engkau sudah besar termasuk kesalahan besar adalah bila engkau menyangka bahwa gurumu membencimu karena ia menegurmu. Tidaklah berburuk sangka kepada gurunya kecuali murid yang kurang ajar dan tidak berilmu.

6. Termasuk kesetiaan kepada gurumu adalah engkau tidak melupakan kebaikannya sepanjang hidupmu, walaupun engkau telah keluar dari sekolah atau gurumu telah berhenti dari sana atau bepergian ke negeri lain misalnya. Maka hendaklah engkau hubungi ia dengan surar menyurat terutama pada peristiwa-peristiwa menentu. Begitu pula jika ia berpindah ke alam kekal, hendaklah engkau mendo'akannya agar mendapat rahmat dan ampunan serta bersedekah untuknya

Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »

Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


14. Apa Kewajibanmu Terhadap Pelayanmu?

  1. Engkau wajib memperlakukan pelayanmu secara baik dengan berbicara kepadanya dengan lemah lembut apabila engkau menginginkan sesuatu darinya. Dan janganlah engkau menyakitinya dengan kata-kata kasar dan jangan pula membentaknya atau bersikap sombong terhadapnya. Hendaklah engkau menunjukkan kesalahannya jika ia bersalah dengan lemah lembut dan lunak, kemudian memaafkannya. Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Berapa kali kita memberi maaf kepada pelayan ya Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Maafkanlah dia setiap hari 70 kali.”
  2. Apabila engkau memanggil pelayanmu sedangkan ia tidak segera menjawabmu, engkau menyuruhnya melakukan sesuatu, lalu ia berlambat-lambat, maka jangan terburu-buru menegurnya, mungkin saja ia tidak mendengar suaramu atau sibuk. Hendaklah engkau suka memaafkan dan bersabar atas kesalahan-kesalahannya yang dilakukan para pelayan, karena mereka biasanya tidak terdidik.apabila mereka melayanimu dengan baik, maka jangan lupa berterimakasih kepada mereka atas kebaikan mereka dan memberi mereka imbalan atas hal itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan” (Ar-Rahman: 60).
  3. Janganlah menunjukkan kepada pelayan rahasia-rahasia ayahmu agar tidak ada keinginan padanya untuk mencuri dan jangan mengandalkannya dalam setiap keadaan. Hendaklah engkau berhati-hati terhadapnya. Jangan duduk bersamanya untuk bergurau dan berbicara yang tak berguna agar engkau tidak mengkuti tabiatnya dan tidak jatuh derajatmu di sisinya, dan agar ia tidak berani terhadapmu serta tidak berkurang adabnya terhadap dirimu. Janganlah menganiaya pelayan dengan membebaninya pekerjaan yang melebihi tenaganya atau tidak memberikan upahnya atau menunda-nundanya atau mengurangi upah yang berhak diperolehnya. Dalam hadits : “Mendzalimi (berbuat aniaya) pelayan mengenai upahnya termasuk dosa besar.” Janganlah memukulnya tanpa hak. Dalam hadits : “Barangsiapa memukul dengan cambuk secara aniaya, ia akan dibalas atas perbuatan itu pada hari kiamat.”

15. Demikian Cara Memaafkan Pelayan

  1. Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah membentak seorang pelayanpun. Sahabat Anas radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku melayani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Selama 10 tahun namun beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, “off” (cih)” sama sekali. Dan beliau tidak pernah berkata atas segala sesuatu yang aku lakukan : kenapa engkau lakukan itu? Dan tidaklah beliau berkata atas segala sesuatu yang aku tinggalkan : “kenapa engkau meninggalkannya?” tidaklah istri-istrinya mencela aku, melainkan beliau berkata biarkan dia. Sesungguhnya hal ini terjadi karena telah ditetapkan oleh takdir Allah.”
  2. Diceritakan bahwa Imam 'Ali karramallahu wajhah memanggil seorang sahayanya, namun ya tidak menjawabnya. Maka Imam 'Ali memanggilnya untuk kedua dan ketiga kalinya namun ia tidak menjawabnya. Kemudian beliau mendatanginya. Dilihatnya sahaya itu sedang berbaring. Maka Imam 'Ali berkata, “Hai anak, tidaklah engkau mendengar?” Anak itu menjawab, “ Ya” Imam 'Ali berkata, “Mengapa engkau tidak menjawab aku, ketika aku memanggilmu?” Anak itu menjawab, “ Karena aku merasa aman dari hukumanmu. Maka akupun bermalas-malasan.” Maka Imam 'Ali berkata, “Pergilah, engkau bebas merdeka demi Allah.”
  3. Diceritakan dari Qais bin Asim bahwa disaat ia sedang duduk pada suatu hari di rumahnya tiba-tiba datang kepadanya seorang sahaya perempuan membawa alat pemanggang daging yang ada dagingnya. Tiba-tiba alat itu terjatuh dari tangannya hingga menimpa seorang anaknya, lalu meninggal dunia. Sahaya itu terkejut. Kemudian Qais berkata kepadanya, “Tidak perlu engkau merasa takut.” Qais memaafkannya dan membebaskannya karena Allah Ta’ala

16. Apa Kewajibanmu Terhadap Tetanggamu?


1. Para tetanggamu mencintaimu dan mencintai ibu bapakmu, kedua orangtuamu menyuruhmu mencintai mereka dan berbuat baik kepada mereka, karena mereka mempunyai hak yang besar. Hingga dikatakan dalam hadits : “Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka engkau akan menjadi muslim sejati.” Dalam hadits lain : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.”

Disebutkan pula : “Tetangga itu ada tiga macam, tetangga yang mempunyai satu hak, dua hak dan tiga hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetangga muslim yang mempunyai ikatan kerabat. Maka ia mempunyai hak sebagai tetangga, hak Islam dan hak kerabat. Adapun tetangga yang mempunyai dua hak adalah tetangga muslim. Ia mempunyai hak tetangga dan hak Islam. Adapun tetangga yang mempunyai satu hak adalah tetangga musyrik yang hanya mempunyai hak tetangga.”

2. Tetangga-tetangga itu saling membantu satu sama lain. Apabila seseorang membutuhkan alat-alat dan barang-barang misalnya, maka ia meminjamnya dari tetangganya. Maka merekapun meminjamnya dengan senang dan gembira. Terkadang ia meminjam uang atau makanan dari mereka. Merekapun bisa meminjam darinya jika membutuhkannya. Apabila seorang pencuri masuk ke rumahnya atau terjadi kebakaran di tempat itu, datanglah para tetangganya untuk membantunya menangkap pencuri dan memadamkan api. Begitu pula apabila datang dari perjalanan atau lahir seorang anaknya datanglah para tetangganya ke rumahnya untuk ikut bergembira atas kelahiran itu apabila ia sakit, mereka turut bersedih dan datang ke rumahnya menanyakan keadaannya. Mereka mendo’akannya agar sehat kembali. Bilamana ada yang meninggal di antara keluarganya, mereka datang ke rumahnya untuk membantu dan berduka cita serta mengantarkan jenazah orang yang meninggal itu.

3. Kau harus bersikap sopan santun terhadap tetanggamu dengan mendahului dalam memberi salam kepada mereka dan tersenyum di hadapan mereka, membantu mereka bila mereka memerlukan bantuanmu dan sangat berhati-hati untuk tidak mengganggu mereka. Apabila engkau membeli buah-buahan atau sesuatu lainnya, berilah mereka. Jika engkau tidak melakukannya, maka masukkan ke dalam rumahmu secara diam-diam dan jangan membuat mereka marah. Jangan mengganggu mereka dengan bau masakan dari pancimu kecuali engkau memberi mereka dari makanan itu. Dalam hadits : “Tidaklah beriman denganku barangsiapa yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya lapar di sampingnya sedangkan ia mengetahuinya.” Hendaklah engkau berhati-hati agar jangan bertengkar dengan mereka atau bersikap sombong terhadap mereka dengan hartamu atau harta ayahmu, atau mengejek mereka, ataupun mengeraskan suaramu pada waktu mereka tidur, atau melempari rumah-rumah mereka ataupun mengotorinya atau memata-matai mereka dari atas atap, dari lubang dinding atau dari pintu-pintu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Janganlah kamu memata-matai” (Al-Hujarat : 12). Mengganggu tetangga adalah dosa besar dalam hadits : “Tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.”

4. Jika engkau terganggu oleh tetangga yang jahat maka bersabarlah atas gangguan mereka. Waspadalah, jangan mengikuti perilaku mereka yang buruk agar engkau selamat dari kejahatan mereka. Jauhilah pergaulan dengan anak-anak mereka agar tidak meniru watak mereka yang buruk, sehingga engkau menjadi jahat seperti mereka.

Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »

Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


11. Persatuan Menimbulkan Kekuatan


Diceritakan bahwa seorang laki-laki mempunyai banyak anak. Ketika hampir datang ajalnya, ia memanggil mereka dan memberi kepada masing-masing seikat tombak dan menyuruh mereka mematahkannya. Merekapun berusaha mematahkannya sekuat tenaga, namun mereka tidak mampu. Kemudian orang itu melepaskan ikatan tombak dan memberi masing-masing mereka sebatang tombak. Maka mereka mematahkan dengan mudah. Kemudian ia berkata kepada mereka, “Perumpamaan kalian adalah seperti ikatan, jika kalian bersatu dan berkumpul, maka musuhmu tidak mampu mengalahkanmu seperti ikatan tombak yang telah dilepas dan dapat kalian patahkan tanpa susah payah” kemudian ia melagukan syair :

Bersatulah hai anak-anakku pada waktu Musibah menimpa
Dan jangan berpecah belah sendiri-sendiri
Tombak-tombak itu tidak bisa patah jika dikumpulkan jadi satu
Apabila dipisah-pisah, dapatlah dipatahkan
Satu demi satu

12. Apa Kewajibanmu Terhadap Para Kerabatmu?


1. Sesungguhnya orang terdekat setelah ibu bapakmu dan saudara-saudaramu adalah para kerabatmu seperti : saudara-saudara ayahmu yang laki-laki dan perempuan, saudara-saudara ibumu yang laki-laki dan perempuan, anak-anak mereka dan anak dari saudara-saudaramu laki-laki dan perempuan. Dalam hadits : “Bibi (saudara perempuan ibu) itu sederajat dengan ibu. Paman (saudara laki-laki ayah) seseorang adalah sederajat dengan ayahnya. Putra saudara perempuan dari suatu kaum adalah termasuk golongan mereka.” Para kerabatmu mencintaimu dan mencintai ibu bapakmu. Maka apakah yang harus engkau lakukan terhadap mereka?

2. Engkau harus memperlakukan mereka seperti memperlakukan saudara-saudaramu. Maka hormatilah orang-orang tua diantara mereka dan hendaklah menyayangi anak kecil mereka. Engkau bantu mereka dalam pekerjaan mereka dan hendaklah menolong yang membutuhkan di antara mereka serta mengujungi mereka dalam dalam waktu-waktu tertentu, khususnya hari-hari raya, hari-hari gembira dan waktu-waktu musibah dan kesedihan. Apabila kerabatmu sakit, segeralah pergi ke rumahnya untuk menjeguknya dan mendo'akan bagi kesehatannya. Apabila ia berpulang ke rahmat Allah, maka segeralah bertakziah ( menyatakan belasungkawa/dukacita) kepada anak-anak dan keluarganya serta membantu mereka. Janganlah engkau sampai ketinggalan dalam menghadiri shalat atas kerabatmu yang meninggal dan mengantarkan jenazahnya. Dengan itu para kerabatmu gembira, karena engkau gembira bila mereka gembira dan bersedih bila mereka bersedih. Mereka mengetahui bahwa engkau seorang anak terdidik yang menunaikan kewajiban terhadap para kerabat.

3. Bersatulah dengan para kerabatmu dan jauhilah segala sesuatu yang menyebabkan pemutus hubungan atau pertengkaran dengan mereka. Jangan mendengarkan pembicaraan pengadu domba dan maafkanlah mereka jika mereka bersalah kepadamu. Jangan mendendam kepada mereka karena kesalahan mereka dan jangan pula mendengki atas kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka. Apabila engkau menjalankan adab-adab ini maka tentulah engkau hidup bersama kerabatmu dengan rukun dan damai, aman, dan senang. Kebahagiaan manusia tergantung pada kebahagiaan keluarga. Mereka seperti sayap bagi burung.
Penyair berkata :
Ketahuilah wahai putra paman,
Manusia adalah sayap
Bisakah burung elang terbang tanpa sayap?

4. Allah telah memerintahkan agar berbuat baik kepada para kerabat dan mangaitkan mereka dengan ibu bapak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Dan sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan sesuatu dangan-Nya dan berbuat baiklah kepada ibu bapak serta anak kerabat” (An-Nisa’ : 36). Dalam hadits “Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung hubungan kekeluargaan.” Orang yang berbuat baik kepada para kerabatnya, maka Allah melapangkan rizkinya dan memanjangkan umurnya. Dalam hadits : “Berhubungan baik dengan kerabat, memperbanyak harta, dan silaturrahmi, menambah umur dan Allah mengampuni dosa-dosanya.” Datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seorang laki-laki lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku berdosa besar, apakah aku bisa bertaubat?” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau mempunyai seorang ibu?" Orang itu menjawab, “Tidak.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi, “Apakah engkau mempunyai seorang bibi?” Orang itu menjawab, “Ya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Berbaktilah kepadanya.” Adapun orang yang berbuat buruk kepada para kerabatnya dan mengganggu mereka, maka akibatnya kebalikan dari itu. Ia terhalang untuk masuk syurga. Dalam hadits : “Tidak masuk syurga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia dalam hadits : “Tiada dosa yang lebi pantas untuk disegerakan Allah hukuman bagi pelakunya di dunia di samping hukuman yang disimpan Allah baginya di akhirat dari pada kedzaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.”

5. Jika kerabatmu berbuat jahat kepadamu misalnya, maka sabarlah. Balaslah kejahatan dengan kebaikan. Dalam hadits : Seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai kerabat yang aku hubungi sedangkan mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka sedangkan mereka berbuat jahat kepadaku. Aku berbuat sabar kepada mereka, tetapi mereka tidak menghiraukan aku. “ Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jika benar seperti yang engkau ceritakan, maka seakan-akan engkau memberikan mereka makanan abu panas. Dan Allah tetap menolongmu terhadap mereka selama engkau dalam keadaan demikian.”

13. Abu Thalhah al-Anshary dan Para Kerabatnya


Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Abu Thalhah al-Anshary radhiyallahu 'anhu adalah seorang Anshar yang paling banyak hartanya yaitu berupa pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah biruha (sebidang kebun kurma) dan menghadap masjid. Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memasukinya dan minum dari air yang segar tatkala turun ayat: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Ali Imran: 92). Datang Abu Thalhah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu berkata, “Ya Rasulullah, Allah Ta'ala telah menurunkan kepadamu: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah biruha dan ia adalah sedekah karena Allah Ta'ala yang aku harapkan sebagai kebaktian dan simpanan di sisi Allah Ta'ala. Maka pergunakanlah ya Rasululah, sesuai yang ditunjukan Allah kepadamu.“ Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bagus, itulah harta yang beruntung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat agar engkau membagikannya bagi para kerabat” Maka Abu Thalhah berkata, “Aku lakukan ya Rasulullah” Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada para kerabatnya dan putra-putra pamannya.

Cerita lain
Disaat para sahabat radhiyallahu 'anhumma duduk di dekat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba beliau bersabda, “Janganlah duduk bersama kami seseorang yang memutus hubungan kekeluargaan.” Kemudian seorang pemuda berdiri dari majlis itu dan mendatangi bibinya. Sebelumnya kedua orang itu berselisih. Maka iapun meminta maaf kepadanya, kemudian kembali ke majlis. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rahmat itu tidak turun kepada kaum dimana terdapat seorang pemutus hubungan kekeluargaan."

Kembali ke halaman utama >>

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


9. Kisah-kisah Nyata Ketaatan Anak Pada Orangtua

  1. Sayyidina Ismail putra Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah seorang yang berbakti kepada Ibu Bapaknya. Ketika umur mencapai 3 tahun, Ayahnya berkata kepadanya, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab, “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash-Shaffaat : 102). Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah dan ingin menyembelih putranya. Di saat yang menakutkan ini Sayyidina Ismail teringat akan ibunya. Maka ia berkata pada Ayahnya, “Wahai ayahku, ikatlah aku erat-erat agar aku tidak goyah dan tanggalkan bajuku agar tidak terkena darahku. Karena jika ibuku melihatnya, semakin bertambah kesedihannya. Sampaikan salam kepada ibuku. Jika ayah ingin mengembalikan bajuku kepadanya, maka lakukanlah. Karena hal itu akan menghibur hatinya dan menimbulkan kenangan terhadap anaknya.” Kemudian Nabi Ibrahim menelungkupkan Ismail dan meletakkan pisau pada tenggorokan, tetapi tidak berpengaruh padanya dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka Allah menebus dengan seekor domba dari syurga. Kemudian Nabi Ibrahim menyembelihnya. Lihatlah wahai anak tercinta bagaimana Sayyidana Ismail berbakti dan bersabar dan bagaimana Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah serta tabah salam menerima cobaan yang nyata ini.
  2. Sayyidina Ali Zainal Abidin ra adalah seorang yang banyak berbakti kepada ibunya, hingga seorang sahabatnya berkata, “Anda adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu. Mengapa kami tidak melihatmu makan bersamanya?” Ia menjawab, "Ya, karena saya khawatir tanganku mendahuluinya mengambil suatu makanan yang telah dipandangnya dan ingin dimakannya, jika demikian, maka aku pun telah mendurhakainya.”
  3. Datanglah seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, di sana ada seorang pemuda yang hampir meninggal, ia disuruh mengucapkan : “laailaha illallah” namun tidak dapat mengucapkannya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Bukankah ia telah mengucapkannya di masa hidupnya?”, orang-orang pun berkata, “Ya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Apa yang menghalangi mengucapkan itu menjelang wafatnya?” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dan kami bangkit bersamanya hingga kami datangi pemuda itu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Hai anak ucapkanlah : laa ilaha illallah,” Pemuda itu menjawab, “Aku tidak bisa mengucapkannya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Mengapa?” Pemuda itu menjawab, “Karena mendurhakai ibuku”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, “ Apakah ia masih hidup?” Pemuda itu menjawab, “Ya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Datangkan dia”. Kemudian ibu pemuda itu datang. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Bagaimana seandainya dinyalakan api, lalu dikatakan kepadamu jika engkau tidak memberi syafa'at (pertolongan/memaafkan) baginya maka kami lemparkan dia ke dalam api?” "Kalau begitu saya beri maaf baginya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Maka jadilah kami sebagai saksi bahwa engkau meridhainya”. Perempuan itu berkata, “Ya Allah, jadikan engkau dan rasulmu sebagai saksi bahwa aku telah ridha kepada putraku”. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Hai anak ucapkanlah “laa ilaha illallah”. Maka anak itu mengucapkan “laa ilaha illallah”. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Segala pui bagi Allah yang telah menyelamatkannya dati api neraka.” Hai anak tercinta renungkanlah kisah ini agar engkau tahu bahwa durhaka kepada orangtua menyebabkan kesudahan yang buruk. Semoga Allah melindungi kita darinya. Dalam hadits : “Tiga macam perbuatan dosa yang tidak berguna amalan lain di sampingnya yakni : menyekutukan Allah, mendurhakai ibu bapak dan lari dari peperangan.”
  4. Ada seorang anak yahudi yang melayani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Pada suatu sakit Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang menjenguknya, beliau duduk di dekat kepalanya. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Masuklah agama ke dalam Islam.” Anak itu memandang kepada bapaknya yang berada di situ. Bapaknya berkata, Taatilah Abal Qasim (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam).” Kemudian anak itu masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumah itu seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dari api neraka.” Lihatlah bagaimana anak itu berbakti kepada ayahnya hingga menjelang wafatnya. Dengan itu Allah memberinya taufiq untuk masuk Islam di saat terakhir dari umurnya. Maka iapun menjadi penghuni syurga. Dari kisah ini engkau dapat mengetahui bahwa berbakti kepada ibu bapak menyebabkan kesudahan yang baik.
  5. Haiwah bin Syuraih adalah seorang yang berbakti kepada ibunya. Ia tidak pernah menentang perkataanya. Ia termasuk ulama besar dan mempunyai murid yang banyak. Pada suatu hari ibunya datang kepadanya ketika ia sedang mengajar, kemudian ibunya berkata, “Berdirilah wahai Haiwah, berikan gandum kepada ayam-ayam.” Ia pun tidak merasa berat dan tidak berlambat-lambat. Akan tetapi ia tinggalkan mengajar, dan segera mematuhi perintahnya.
  6. Di antara orang-orang yang berbakti juga adalah Dzar bin Umar al-Hamdani. Termasuk salah satu baktinya kepada ayahnya adalah bahwa ia tidak pernah berjalan bersama ayahnya di siang hari, kecuali ia berjalan di belakangnya. Dan tidaklah ia berjalan bersamanya di malam hari, melainkan ia berjalan di depannya untuk menghadapi bahaya di depannya. Dan tidaklah ia menaiki atap ketika ayahnya berada di bawahnya.

10. Apa Kewajibanmu Terhadap Saudara-saudaramu Laki-laki Dan Perempuan?

  1. Orang yang terdekat setelah ibu bapakmu adalah saudara-saudaramu laki-laki dan perempuan. maka amalkan adab-adab ini agar engkau hidup bahagia dan senang serta mendapat ridha ibu bapakmu
  2. Hendaklah engkau menghormati mereka dalam keadaan bagaimana pun dan mencintai mereka dengan tulus. Engkau dan mereka berasal dari satu keturunan. Mereka mencintaimu dan mengharapkan kebahagiaanmu. Maka hiduplah dengan mereka dalam kerukunan dan persatuan. Hindarilah penyebab-penyebab perselisihan dan pertentangan.
  3. Hendaklah engkau mengkhususkan saudaramu yang tua, baik laki-laki ataupun perempuan dengan lebih banyak penghormatan dan mengangap mereka sebagai pengganti kedua orangtuamu. Maka hendaklah engkau laksanakan nasehat-nasehat mereka dan tidak menentang perintah-perintah mereka. Dalam hadits : “Hak saudara yang lebih tua pada yang lebih muda adalah seperti hak ayah pada anaknya.”
  4. Hendaklah engkau menyayangi saudaramu yang lebih muda, baik laki-laki maupun perempuan dan perlakukan mereka dengan baik seperti ayah ibu memperlakukan engkau. Dalam hadits : “Bukanlah dari golongan kami barangsiapa yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orangtua.”
  5. Bantulah saudara-saudaramu lak-laki dan perempuan sekuat tenagamu. Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Perumpamaan dua orang bersaudara adalah sepertti dua tangan, yang satu mencuci yang lain,” hendaklah engkau selalu bersabar terhadap mereka. Apabila mereka bersalah, maka ingatkan mereka atas kesalahan mereka secara halus dan lunak, karena perkataan yang lembut bisa menyadarkan hati dengan sebaik-baiknya, sedangkan perkataan yang keras menimbulkan kebencian dan pemutusan hubungan. Wasapadalah, jangan saling memukul atau memaki dengan mereka ataupun mengadu domba diantara mereka atau mengambil suatu dari mereka tanpa persetujuan mereka ataupun memutuskan hubungan dengan salah seorang dari mereka. Dalam hadits :”Haram seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Maka barangsiapa memutuskan hubungan lebih dari tiga hari, lalu ia mati maka ia pun masuk neraka.”
  6. Saudaramu adalah tangan kananmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Sayyidina Musa mengenai saudaranya Sayyidina Harun 'alaihissalam, “Kami akan membantumu dengan saudaramu.” (Al-Qashash : 35). Ia adalah senjata bagimu untuk membela dari musuh-musuhmu dalam kancah kehidupan. Sebagaimana kata syair : Berbaiklah kepada saudaramu, karena siapa yang tak punya saudara  seperti orang yang pergi perang tanpa senjata.
Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »


Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


7. Mencintai Kedua Orangtua

  1. Kedua orangtuamu sangat mencintaimu dan menyebabkan keberadaanmu. Keduanya amat payah memeliharamu. Akan tetapi keduanya gembira atas hal itu. Ibumu mengandungmu dalam perutnya 9 bulan, kemudian menyusuimu. Ia memperhatikan kebersihan badan dan bajumu dan membuat pakaian yang halus serta mengantar ke tempat tidurmu yang bersih. Ia mengusir nyamuk darimu agar engkau bisa tidur dengan tenang dan memeliharamu dalam setiap waktu dari segala sesuatu yang mengganggumu pada waktu engkau berjalan atau duduk, bermain dan tidur. Dialah yang menyiapkan makananmu dan mengajarimu berjalan dan bebicara. Alangkah sangat gembiranya bilamana engkau mulai berjalan atau berbicara.
  2. Setiap hari ayahmu keluar dari rumah. Ia bersabar atas kepayahan, panas dan dingin untuk memperoleh harta yang akan dibelanjakan untuk kepentinganmu, ibumu dan seluruh keluargamu. Maka ia membelikan bagimu pakaian dan makanan serta segala sesuatu yang engkau perlukan seperti alat-alat sekolah dan lain-lainnya. Apabila engkau meminta sesuatu yang bermanfaat bagimu iapun tidak menghalangimu darinya dan memberi apa yang engkau inginkan dengan amat gembira.
  3. Ayahmu juga ingin agar engkau hidup sehat jasmani, selamat dari gangguan dan penyakit. Oleh karena itu iamencegah darimu segala sesuatu yang membahayakan dan menyuruhmu untuk memelihara kesehatan. Ia ingin agar engkau tumbuh dalam akhlak yang luhur dan adab yang sempurna. Oleh karena itu ia melarangmu bergaul dengan orang-orang jahat dan ingin agar masa mendatang engkau menjadi seorang laki-laki sempurna dalam ilmu, terdidik dalam akhlak berpegang pada agama, di hargai diantara orang-orang dan bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. Oleh karena itu ia memasukkan dalam sekolah dan membiayai pendidikanmu.
  4. Sesungguhnya orangtuamu sangat mengasihimu. Oleh karena itu, jika engkau sakit, keduanya sangat sedih atas dirimu dan mencurahkan tenaga mereka bagi keselamatanmu. Keduanya berdo'a kepada Allah siang dan malam agar engkau cepat sembuh. Ibumu tidak tidur semalaman untuk menjagamu. Ia menangis dengan air matanya yang deras, karena kasihan kepadamu. Ayahmu memanggil dokter dan membeli obat-obatan untukmu. Ia tidaklah peduli mengeluarkan banyak uang demi kesehatanmu yang mahal.

8. Apa Kewajibanmu Terhadap Ibu Bapakmu?


Wahai anak tercinta! Engkau telah mengetahui kadar kecintaan ibu bapakmu terhadapmu dan apa yang dilakukannya demi pemeliharaanmu. Maka wajiblah engkau membalas kebaikan ini dengan kebaikan serta berbakti kepada keduanya.

Walaupun begitu dapat engkau saksikan keutamaan dan jasa dari keduanya. Engkau akui bahwa engkau tidak bisa memenuhi hak-hak mereka dengan sempurna. Maka kerjakanlah nasehat-nasehat ini :
  1. Engkau cintai kedua orangtuamu dari lubuk hatimu dan hormati mereka dengan penuh penghormtan. Engkau perlakukan mereka berdua dengan segala sesuatu yang mengembirakan hatinya dan engkau hindarkan sesuatu apapun yang menyusahkan kedua orangtua. Engkau dengarkan nasehat-nasehat kedua orangtua dan segera mematuhi perintah-perintahnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Engkau jabat tangan kedua orangtuamu setiap pagi dan sore dan menghadapi mereka dengan wajah yang berseri-seri serta do'akan meraka agar diberi panjang umur dalam kebaikan dan kesehatan, dan tercapai cita-cita mereka. Engkau do'akan agar Allah membalas kedua orangtuamu dengan sebaik-baiknya atas pemeliharaan mereka yang baik.
  2. Hendaklah engaku ketahui bahwa hidup ibu bapakmu merupakan kenikmatan besar dari Allah bagimu dan berkah serta rahmat bagimu yang engkau nikmati dengan memandang kepada mereka. Dalam hal itu terdapat pada pahala yang besar. Dalam hadits dikatakan : “Tidaklah seorang melihat kepada wajah kedua orangtuanya dengan pandangan kasih sayang, melainkan Allah menetapkan baginya akibat pandangan itu adalah haji yang diterima dan mabrur”. Hendaklah engkau jabat tangan mereka setiap hari dan engkau bermusyawarah dengan mereka tentang urusan-urusanmu. Engkau masukkan kegembiraan pada mereka dan engkau penuhi kebutuhan mereka. Mereka mendo'akanmu dengan segala kebaikan. Betapa besarnya kenikmatan-kenikmatan ini! Dan betapa banyaknya pahala ini! Seorang anak tidak mengetahui besarnya kenikmatan yang sebenarnya atas keberadaan ibu bapaknya, kecuali ia kehilangan mereka. Pada waktu itu ia merasakan kerugian yang besar dan kesedihan yang sangat atas perpisahannya dengan mereka.
  3. Hedaklah engkau bersikap sopan santun terhadap mereka setiap waktu. Maka jangan membelakangi mereka seraya memanggil namanya, jangan tertawa di hadapannya tanpa keperluan atau bersuara keras. Janganlah enkau memandang mereka dengan pandangan yang tajam, jangan berdusta terhadap mereka atau memaki mereka atau berbicara dengan perkataan yang buruk ataupun mengeraskan suaramu di atas suara mereka. Alllah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : wahai Rabb, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil” (Al-Israa’ : 23-24).
  4. Berusahalah selalu untuk memperoleh ridha ibu bapakmu, dengan bersungguh-sungguh dalam mempelajari pelajaran-pelajaranmu dan pergi setiap hari ke sekolah, memelihara buku-buku dan pakaian serta seluruh alatmu. Hendaklah engkau mengaturnya pada tempatnya masing-masing dan tidak merusakkan atau menghilangkan sesuatu darinya. Hendaklah engkau kerjakan segala sesuatu yang mengembirakan mereka di dalam dan di luar rumah. Janganlah engkau mengganggu salah seorang dari saudaramu dan pelayan dan jangan pula bertengkar dengan anak-anak tetangga atau teman-temanmu di sekolah.
  5. Apabila engkau meminta sesuatu dari ibu bapakmu, maka janganlah meminta di hadapan orang banyak. Apabila kedua orangtuamu tidak memberikan apa yang engkau minta maka diamlah. Karena mereka lebih tahu tentang maslahatmu (kebaikanmu). Waspadalah jangan sampai marah dan mengerutu serta bermuka cemberut. Apabila engkau duduk di depan mereka, maka duduklah dengan cara yang baik, jangan meletakkan kaki di atas kaki, jangan duduk di atas mereka berdiri dan jangan pula berjalan di depan mereka. Apabila salah seorang dari mereka memanggilmu, maka segeralah menjawabnya jangan berlambat-lambat atau berpura-pura tidak mendengar atau jemu karena panggilan yang berulang-ulang. Waspadalah dengan sangat agar engkau tidak memaki ayah seseorang atau ibunya agar ia tidak memaki ibu bapakmu. Dalam hadits :”Termasuk dosa besar adalah orang yang memaki ibu bapaknya.” Orang-orang berkata , “Ya Rasuullah, apakah ada orang memaki ibu bapaknya?”, “beliau menjawab, "Ya, jika ia memaki ayah seseorang, lalu orang itu memaki ayahnya. Dan jika ia memaki ibu orang itu, lalu orang itu memaki ibunya”.
  6. Apabila engkau sudah besar dan mulai berkerja, maka engkau harus membantu kedua orangtuamu. Berilah nafkah menurut kemampuanmu dan berbaktilah kepada ibumu lebih banyak daripada ayahmu, karena ia lebih sayang kepadamu dan lebih banyak payah dalam memeliharamu. Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.. Lalu berkata,” Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling patut mendapat perlakuan baik dariku?” beliau menjawab, “Ibumu”. Orang itu berkata lagi, “Kemudian siapa?” beliau menjawab, “Ibumu”. Orang itu berkata lagi, “Kemudian siapa?” beliau menjawab, “Ibumu” Orang itu berkata lagi, “Kemudian siapa?” beliau menjawab, “Ayahmu”. Apabila salah seorang dari mereka atau kedua-duanya meninggal dunia, maka anakpun wajib berbakti kepada mereka dengan berdo'a dan memohonkan ampun serta bersedekah untuk kedua orangtuanya. Dalam hadits : :Ya Rasulullah, apakah saya masih bisa berbakti kepada ibu bapakku sesudah mereka wafat?” beliau menjawab, “Ya”, menshalatkan janazahnya, memohonkan ampun bagi keduanya, melaksanakan wasiat mereka, dan menghormati teman-teman mereka serta menyambung hubungan kekeluargaan yang hanya bisa disambung melalui mereka”.
  7. Apabila engkau berbakti kepada kedua orangtuamu, maka engkau mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala dan pahalanya yang besar. Dalam hadits : “Ridha Allah diperoleh karena rdha orangtua, dan murka Allah diperoleh karena murka kedua orangtua. Dalam hadits lain : “Berbakti kepada kedua orangtua lebih utama daripada shalat (sunnah), sedekah, puasa, haji, umrah, dan jihad di jalan Allah.”. dan anak-anakmu akan berbakti kepadamu dimasa mendatang sebagaimana dikatakan dalam hadits : “Berkatilah kepada ayahmu, tentu anakmu akan berbakti kepadamu.” Adapun durhaka kepada orangtua adalah termasuk dosa-dosa terbesar. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Dosa-dosa terbesar adalah mempersekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda pula : “Janganlah kamu durhaka kepada kedua orangtua, karena bau syurga itu tercium dari jarak 1000 tahun. Demi Alah seorang yang durhaka maupun yang memutuskan hubungan kekeluargaan tidaklah merasakannya”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Terkutuklah bagi siapa yang mendurhakai kedua orangtuanya”.
  8. Apabila engkau melakukan kesalahan terhadap kedua orangtuamu, maka segeralah meminta maaf kepada mereka selama mereka masih hidup. Berjanjilah kepada dirimu untuk tidak mengulangi lagi kesalahan seperti itu, karena hukuman orang yang durhaka itu disegerakan di dunia, terutama setelah wafat kedua orangtuanya. Dalam hadits : “Semua dosa ditangguhkan Allah hukumannya sekehendak-Nya hingga hari kiamat, kecuali durhaka kepada orangtua. Karena Allah menyegerakan bagi pelakunya di masa hidup sebelum matinya”. Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Seraya meminta bai’at untuk hijrah. Ia berkata, “Aku tidak datang kepadamu sebelum membuat kedua orangtuaku menangis.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Kembalilah kepada mereka dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.”
  9. Tiada sesuatu yang lebih mengembirakan kedua orangtua daripada melihat anak yang menyenangkan hati mereka, berbakti, taat, bersopan santun dan mintalah do'a dari mereka hingga tercapai cita-citamu. Dalam hadits : “Do'a ayah bagi anaknya seperti do'a nabi bagi ummatnya.”
Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »


Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


5. Sekelumit Dari Akhlak Nabi SAW (1)

  1. Nabi shallallahu'alaihi wasallam adalah manusia terbaik akhlaknya. Allah Ta’ala telah memujinya dengan firman-Nya : “Sesungguhnya engkau seorang yang memiliki budi pekerti yang agung”. (Al-Qalam : 4). Allah menjadikannya sebagai teladan bagi kaum muslimin dalam perkataan dan perbuatannya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Adalah bagi kamu dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik”. (Al-Ahzab : 21). Allah telah mengutusnya untuk menyempurnakan adab dan akhlak. Dalam hadits : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”.
  2. Termasuk akhlak adalah kesuciaan diri dan rasa puasnya dengan apa yang ada (qana'ah). Beliau menerima pakaian dan makanan yang ada dan tidak menanyakan yang tidak ada. Beliau tidak mencela sesuatu makanan sama sekali, akan tetapi jika disukai, beliau memakannya, dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. Beliau tidak menyuruh orang lain membencinya dan tidak meminta apa-apa dari seseorang. Beliau tidak memandang (mengharap) milik orang lain. Beliau seorang pemaaf yang tidak marah. Beliau bersabar atas cobaan dan gangguan yang menimpanya. Beliau memaafkan orang yang menyakiti hatinya dan rendah hati terhadap anak kecil maupun orang dewasa. Termasuk kerendahan hatinya adalah apabila beliau berjalan melewati anak-anak kecil, maka beliau memberi salam kepada mereka. Apabila seorang memanggilnya, maka beliau menjawabnya dengan perkataan “labbaik”. Beliau tidak suka seorang bangun dari tempat duduknya untuk menyambutnya. Beliau menjahit bajunya, memperbaiki sandalnya, menyapu rumahnya dan melayani keluarganya. Beliau membeli sesuatu lalu membawanya sendiri lalu membawa ke rumahnya sendiri. Kemudian sahabatnya berkata kepadanya, “Berikan kepadaku aga aku membawanya.” Maka beliau berkata, “Pemilik sesuatu lebih pantas membawanya.”
  3. Termasuk akhlak adalah keberanian. Orang pemberani mendekatinya pada waktu perang karena beliau dekat dari musuh. Teguh di atas perinsip, sabar dalam menunaikan kewajiban meskipun ada hambatan-hambatan yang berat dan gangguan-gangguan yang besar. Berkata benar dan bersikap jujur dalam semua perkataan dan perbuatannya hingga beliau tersohor diantara kaumnya dengan julukan Al-Amien (jujur).
  4. Beliau sangat takut kepada Allah Ta’ala. Memiliki banyak rasa malu besar kasih sayangnya dan tidak mengganggu manusia maupun hewan serta mengasihani kaum fakir miskin. Beliau banyak bersedekah kepada mereka dan memenuhi panggilan mereka jika mereka memanggilnya. Beliau makan bersama mereka dan menjenguk orang yang sakit diantara mereka. Beliau orang yang paling pemurah dan tidak menolak orang yang minta sesuatu darinya. Apabila tidak menemukan sesuatu padanya beliau berjanji untuk memberinya di lain waktu. Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki kepadanya meminta sesuatu. Maka beliau memberinya kambing yang banyak, menutupi di antara celah gunung, kemudian ia kembali kepada kaumnya dan berkata, “Masuklah kamu ke dalam agama Islam. Sesungguhnya Muhammad memberi pemberian sebagai orang yang tak takut miskin”.
  5. Beliau menyayangi pelayan dan tak pernah membentak seorang pelayanpun. Beliau menyuruh memaafkan pelayan apabila bersalah. Beliau mengasih anak-anak kecil dan memberi salam kepada mereka. Apabila sedang mengerjakan shalat dan mendengar anak kecil menangis, beliau meringankan shalatnya. Pada suatu hari masuklah Sayyidina Hasan radhiyallahu 'anhu. Yang masih kecil ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat kemudian ia menaiki punggung beliau di saat beliau sedang bersujud, maka belaiupun melambatkan sujudnya karena sayang kepadanya hingga ia turun dari punggung beliau. Adalah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mempunyai saudara laki-laki bernama Abu Umair yang mempunyai seekor burung kecil berparuh merah sebagai teman bermainnya. Kemudian burung itu mati, pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang menemuinya, Beliau melihat anak itu bersedih. Maka beliau berkata,“Kenapa dia?” Ada yang menjawab burungnya mati “Maka beliaupun berkat, “Hai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair nama burung kecil berparuh merah (burung gelantik)?”

6. Sekelumit Dari Akhlak Nabi SAW (2)

  1. Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berlaku baik kepada para sahabatnya. Beliau tersenyum dan bersikap ramah terhadap mereka dan memulai salam serta berjabat tangan dengan mereka. Beliau mengutamakan mereka daripada dirinya sendiri sehingga mereka mencintainya daripada diri dan anak-anak mereka Beliau menghormati tetangga dan menyuruh berbuat baik kepadanya, pada suatu hari beliau berkata pada salah seorang sahabatnya, “Apabila engkau memasak kuah maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu”. Beliau menghormati tamu dan berbuat baik kepada para kerabatnya. Ketika datang kepadanya wanita yang menyusui Sayyidah Halimah as-Sa’diah radhiyallahu 'anha, di saat beliau sedang duduk, maka beliau menggelarkain serbannya dan memenuhi keperluannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghormati pamannya, Al-Abbas seperti penghormatan terhadap ayah dan ibu.
  2. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengingat masa persahabatannya yang lama dan beliau bersabda, “Sesungguhnya memelihara persahabatan termasuk pengamalan iman”. Sesudah wafat Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha, apabila beliau menyembelih seekor kambing, maka dibagikannya daging kepada teman-teman. Apabila beliau diberi hadiah maka beliau berkata, “Bawalah ia ke rumah si fulan” ia adalah teman Khadijah”, bilamana tidak menjumpai salah seorang sahabatnya selama 3 hari, beliau menanyakannya, jika ia telah pergi jauh, maka beliau mendo'akannya, jika ia berada di rumah, beliau mengujunginya dan jika ia sakit maka beliau menjenguknya. Apabila menjanjikan sesuatu beliau menepatinya. Beliau melarang keras pelanggaran janji. Beliau suka mengatur pekerjaan-pekerjaannya dan menyempurnakannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kebaikan atas segala sesuatu”. Beliau menyukai pula kebersihan dalam segala sesuatu : makanan, pakaian, tempat tinggal serta menyuruh memelihara kebersihan. Beliau bersabda dalam haditsnya “Kebersihan itu termasuk pengamalan iman”.
  3. Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada waktu berjalan tidak menoleh ke kanan ke kiri, apabila makan, beliau tidak makan sampai kenyang. Allah Ta’la berfirman : “Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (Al-A’raf : 31). Pada waktu bicara beliau hanya bicara seperlunya, beliau bersabda, “Siapa yang diam dia selamat”. Beliau memelihara waktu-waktunya dan menghabiskan seluruhnya dalam mentaati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam hadits, “Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut nama Allah dalam seluruh waktunya dan shalat di tengah malam hingga pecah-pecah kedua telapak kakinya.
Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »

Older Posts

Terjemah Akhlaq Lil Banin Juz 2


2. Kewajiban Anak Terhadap Allah Ta'ala

  1. Wahai anak yang beradab! Allah Ta’ala telah mengaruniamu kenikmatan yang banyak, Ia menjadikan kamu setelah dulu tidak ada. Allah memberimu akal dan menunjukimu kepada agama Islam yang merupakan kenikmatan terbesar. Allah memberimu kenikmatan berupa pendengaran, penglihatan dan lidah, serta kedua tangan dan kedua kaki. Allah menciptakanmu sebagai manusia sempurna dalam bentuk yang terbaik. Allah Ta’ala berfirman : “Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (At-Tiin : 4). Allah memberimu keadaan sehat wal afiat. Allah menanamkan kasih sayang bagimu dalam hati ibu bapakmu hingga mereka memeliharamu dengan sempurna dan Ia menjadikan kamu mencintai gurumu hingga Ia mengajarimu ilmu yang berguna bagimu dalam agama dan dunia serta banyak lagi kenikmatan Allah Ta’ala bagimu yang tak terbilang. “Dan jika kamu menghitung kenikmatan Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya” (An-Nahl : 18).
  2. Engkau harus bersyukur kepada Tuhanmu atas kenikmatan-kenikmatan-Nya dengan mentaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta mengagungkan-Nya dari lubuk hatimu. Maka janganlah berbuat buruk walaupun engkau berada sendirian. Dalam hadits dikatakan : “Takutlah kepada Allah dimanapun engkau berada”. Hendaklah engkau mencintai Tuhanmu lebih banyak daripada kecintaanmu kepada ibu bapakmu dan dirimu sendiri. Hendaklah engkau mencintai pula semua malaikat-Nya, rasul-Nya, nabi-nabi-Nya dan hamba-Nya yang shalih, karena Allah Ta’ala mencintai mereka.
  3. Engkau wajib pula meminta tolong kepada-Nya dalam berbagai keperluanmu dan bertawakkal kepada-Nya dalam urusan-urusanmu. Allah Ta’ala berfirman : “Dan kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang beriman” (Al-Maidah :23). Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya : “Hai anak, aku ajari kamu beberapa kalimat, pelihara (agama) Allah, niscaya Allah akam memeliharamu. Pelihara (agama) Allah, niscaya engkau mendapati pertolongan-Nya di hadapanmu. Apalagi engkau memohon kepada Allah. Apabila engkau minta pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh ummat berkumpul untuk memberimu sesuatu manfaat, maka mereka tidak bisa memberimu manfaat, kecuali dangan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena-pena malaikat yang mulia takdir Allah telah diangkat dan lembaran-lembaran yang tertulis takdir Allah telah kering dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakanmu, maka mereka tidak bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu”.
  4. Apabila engkau bersyukur kepada Allah maka Allah menambah kenikmatan-Nya bagimu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an yang mulia : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu” (Ibrahim : 7). Dan Allah melindungimu dari berbagai musibah dan mewujudkan keinginan yang engkau harapkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencintaimu dan menjadikan pula manusia mencintaimu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : “Sesungguhnya orang yana beriman dan beramal shalih, kelak Allah yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang” (maryam :96). Yakni allah mencintai mereka dan menjadikan orang-orang mencintai mereka. Dalam hadits disebutkan : “Apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, dia menyeru Jibril 'alaihiassalam, sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia, maka Jibril mencintainya,. Kemudian Jibril berseru di langit : Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia, maka penghuni langit mencintainya dan letakkanlah kecintaan kepadanya pada penghuni bumi”.

3. Murid Yang Dicintai


Ada seorang guru yang lebih mencintai salah seorang muridnya saja dari pada murid-muridnya yang lain. Mereka merasa heran atas hal itu. Mereka berkata , “mengapa guru kita ini lebih mencintai murid yang ini daripada kami ?” maka sang guru pun ingin menunjukkan sebabnya. Ia memberi kepada mereka masing-masing seekor ayam. Lalu ia berkata “hendaklah masing-masing kalian menyendiri di suatu tempat dan menyembelih ayam agar tidak terlihat oleh seorangpun.” Semua muridpun mematuhi perintah guru itu, kecuali murid itu saja, ia mengembalikan ayam itu. Kemudian gurunya bertanya, “ mengapa engkau tidak menyembelih ayammu seperti yang dilakukan oleh teman-temanmu ? “ anak itu menjawab : “ karena saya tidak bisa menyendiri di suatu tempat tanpa terlihat oleh seorangpun, sungguh allah melihatku disetiap tempat. Kemudian guru itu berkata kepada murid-muridnya, “lihatlah kepada murid ini, ia takut kepada allah dan tidak melupakanNya ditempat manapun. Itulah sebabnya saya mencintainya daripada akalian. Tidaklah ragu bahwa jika sudah besar, ia menjadi orang salih dan taat kepada allah di setiap waktu”.[alkhoirot.org]

4. Kewajiban Anak Terhadap Nabinya SAW

  1. Ketahuilah bahwa Nabi SAW, mempunyai hak yang besar padamu, dan haknya adalah yang terbesar sesudah hak Allah Ta’ala. Adab terhadap beliau adalah adab yang paling kuat dan paling wajib. Beliau membawa agama Islam, dan dengan perantaranya engkau dapat mengenal Allah dan dapat membedakan antara yang halal dan haram. Engkau tidak dapat membalas jasanya untuk selama-lamanya. Maka wajiblah engkau mencintainya dengan kecintaan yang sangat istimewa. Dalam hadits : “Tidaklah beriman seorang diantara kamu hingga aku lebih dicintainya dari pada anak-anaknya dan ayahnya serta orang-orang semua”.
  2. Tanda kecintaanmu kepada Tuhanmu adalah engkau mencintai Nabimu dan mengikutinya dalam perikehidupannya. Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu” (Ali Imran : 31). Engkau cintai pula keluarganya dan para sahabatnya serta seluruh ummatnya. Dalam hadits dikatakan : “Cintailah Allah karena memberimu nikmat-nikmat-Nya, dan cintailah aku (Nabi Muhammad), karena cintamu kepada Allah, dan cintailah keluargaku dami mencintai aku”. Dalam hadits lain : “Peliharalah aku mengenali para sahabatku. Janganlah kalian jadikan mereka caci maki setelah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan membenci aku, akupun membenci mereka”. Dalam hadits lain : “Tidaklah seseorang dari kamu beriman hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.
  3. Mentaati Nabi SAW dalam semua perintahnya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “ Barangsiapa mentaati rasul, ia pun telah mentaati Allah” (An-Nisa’ : 80). “Apa yang diberikan Allah hendaklah kamu ambil. Dan apa yang dilarang-Nya terhadap kamu maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr :7). Termasuk ketaatanya adalah engkau bela agamanya dengan perkataan dan perbuatanmu. Engkau bela syari'atnya dengan segenap kemampuanmu dan mengucapkan shalawat kepadanya sebagaimana perintah Allah kepadamu dalam firman-Nya : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab : 56). Terutama di malam Jum'at dan pada hari Jum'at sebagaimana dalam hadits dikatakan : “Perbanyak bershalawat untukku di hari Jum'at dan malam Jum'at, barangsiapa melakukan itu, maka aku menjadi saksi dan memberi syafa'at baginya pada hari kiamat”

Kembali ke halaman utama >>


Baca Selengkapnya »


Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse