Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Ziarah Wali
Showing posts with label Ziarah Wali. Show all posts
Showing posts with label Ziarah Wali. Show all posts

HAUL HABAIB DAN MAULID SE-JAWA


Bulan MUHARRAM


1. Al-Habib Hadi bin Abdullah al-Haddar

Muharram, Minggu Pertama Hari Ahad
Tempat : Lateng, Banyuwangi, Jawa Timur
Al-'Arif billah al-Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh al-Haddar lahir pada tahun 1908 M (1325 H) di Banyuwangi.
Beliau wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Al-Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf (Pasuruan) dan dimakamkan di kompleks makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.

2. Fakhrul Wujud Syeikh Abubakar bin Salim

Muharram, Minggu Terakhir
Tempat : Jl. Kompleks Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Syeikh Abubakar dilahirkan di kota Tarim, Hadhramaut pada 13 Jumadil Akhir tahun 919 H. Terlahir sebagai bayi kembar dengan saudara kembarnya adalah Agil bin Salim (leluhur keluarga Al-Atthas). Syeikh Abubakar lahir dari pasangan Al-Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf dan Syarifah Afifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar Assakran bin Imam Quthb Abdurrahman Assegaf.
Syeikh Abubakar bin Salim menurunkan tujuh belas anak, yang terdiri dari empat perempuan dan tiga belas laki-laki. Di antara anak laki-lakinya, Husein bin Syeikh Abubakar yang dipilih sebagai pengganti kedudukan orang tua. Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim dikenal sebagai guru Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas. 
Syeikh Abubakar wafat di kota Inat, Hadhramaut pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 992 H.

3. Al-Habib Abubakar bin Husein Assegaf

27 Muharram
Tempat : Bangil, Pasuruan, Jawa Timur
Beliau adalah putra dari pasangan Al-Habib Husein bin Abdullah Assegaf dan Syarifah Syifa binti Abdul Qodir al-Bahr yang dilahirkan di kota Seiwun, Hadhramaut pada tahun 1309 H. 
Beliau wafat pada hari Senin 27 Muharram 1384 H waktu Shubuh dan dikebumikan di Bangil pada hari Selasa waktu Dhuha

Bulan SHAFAR


1. Al-Habib Husein bin Hadi al-Hamid

12 Shafar
Tempat : Brani Kulon, Probolinggo, Jawa Timur
Habib Husein lahir di Hadhramaut, Yaman Selatan pada tahun 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim al-Hamid dan Ummu Hani. 
Beliau wafat hari Jum’at Legi, 11 Shafar 1406 H/25 Januari 1986. Jenazahnya kemudian di pmakamkan di sebelah utara Masjid Al-Mubarok, kompleks Pondok Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah, desa Brani Kulon, kecamatan Maron, Probolinggo.

2. Al-Habib Abdullah bin Ali al-Haddad

27 Shafar
Tempat : Bangil, Pasuruan, Jawa Timur
Al-Quthb al-Habib Abdullah bin Ali al-Haddad dilahirkan di kota Hawi, Tarim, pada tanggal 2 Shafar 1261 H. Beliau wafat pada hari Jum’at, 15 Shafar 1331 H, sesudah melaksanakan shalat Ashar. Beliau dimakamkan di Beji, Bendo Mungal, Bangil, Pasuruan

3. Al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad (Mbah Priuk)

Shafar, Minggu Terakhir
Tempat : Koja, Jakarta Utara
Al-Imam al-Arifbillah al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M.

4. Do’a Tolak Bala dan Maulid di Pon-Pes Darul Hadist Alfagihiyah

Shafar, Rabu Terakhir
Tempat : Alun-alun Malang, Jawa Timur

Bulan RABI'UL AWWAL


1. Al-Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf

Rabi'ul Awwal, Minggu Pertama
Tempat : Tuban, Jawa Timur
Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf lahir di Seiyun, Hadhramaut, pada tahun 1241 H / kurang lebih 1821 M. 
Beliau wafat pada tanggal 13 Rabi'ul Awwal 1331 H (1912 M). Jasadnya yang suci kemudian dimakamkan di pemakaman Bejagung, Tuban.

2. Maulid di Makam Habib Ahmad al-Haddad

Rabi'ul Awwal, Minggu Pertama Sore
Tempat : Kalibata, Jakarta

3. Al-Habib Ali bin Husein al-Atthas (Habib Ali Bungur)

Rabi'ul Awwal, Selasa Terakhir
Tempat : Condet, Jakarta

Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam al-Quthb al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas lahir di Huraidhah, Hadhramaut, 1 Muharram 1309 H atau sekitar 1891 M.

Beliau wafat pada tanggal 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi dam usia 88 tahun dan ia dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.


4. Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas

Rabi'ul Awwal, Rabu Terakhir (Selasa malam Maulid, Rabu pagi Haul)
Tempat : Empang, Bogor, Jawa Barat
Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas dilahirkan di desa Haurah, salah satu desa di Al-Kasri, Hadharamaut, Yaman, pada hari Selasa 20 Jumadil Awwal 1265 H. 
Beliau wafat pada hari Selasa tanggal 29 bulan Dzulhijah 1351 H, dan dimakamkan di kompleks Masjid Keramat An-Nur kawasan Empang, Bogor Selatan.

5. Maulid di Habib Abubakar Assegaf

Rabi'ul Awwal, Jum’at Pertama
Tempat : Gresik, Jawa Timur

6. Maulid di Habib Muhammad al-'Aydrus

Rabi'ul Awwal, Jum’at Pertama
Tempat : Ketapang Kecil Surabaya, Jawa Timur

7. Maulid di Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Rabu sore ziarah, Kamis sore maulid)

Rabi'ul Awwal, Rabu Terakhir
Tempat : Kwitang, Jakarta Pusat

8. Maulid di Darul Aitam

Rabi'ul Awwal, Jumat Pagi
Tempat : Tanah Abang, Jakarta

9. Al-Habib Muhsin bin Muhammad al-Atthas

Rabi'ul Awwal, Sabtu Pagi
Tempat : Al-Hawi, Condet, Jakarta
Beliau adalah tokoh yang pertama mendirikan Masjid Al-Hawi yang berada di Ujung Cililitan, Jakarta Timur.

10. Maulid di Habib Ahmad Al-Atthas

15 Rabi'ul Awwal, Malam
Tempat : Pekalongan, Jawa Tengah

11. Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan

Rabi'ul Awwal, Senin Sore
Tempat : Otista, Jakarta Timur

Al-Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Sholeh bin Abdullah bin ‘Umar bin ‘Abdullah (bin Jindan) bin Syaikhan bin Syaikh Abubakar bin Salim adalah ulama dan wali besar ini dilahirkan di Surabaya pada 18 Rajab 1324.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabi'ul Awwal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.

12. Maulid di Habib Abdurrahman Assegaf

Rabi'ul Awwal, Minggu Pagi
Tempat : Al-Busro Citayam, Depok

Bulan RABIUTS TSANI


1. Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shahibul Simthuddurar)

20 Rabi'uts Tsani
Tempat : Kompleks Masjid Ar-Riyadh, Solo, Jawa Tengah
Habib Ali lahir di desa Qosam pada hari Jum’at, 24 Syawwal 1259 H / 1839 M; dan diberi nama Ali oleh Al-Allamah Sayyid Abdullah bin Husein bin Thohir untuk mengambil berkah dari Sayyidina Ali Kholi’ Qosam. Ibunda beliau, Sayyidah Alawiyah binti Husein bin Ahmad al-Hadi al-Jufri (lahir tahun 1240 H), berasal dari kota Syibam, adalah seorang yang sangat gemar mengajar dan berdakwah, yang memiliki banyak karomah. Ayahanda beliau, Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi (lahir, 18 jumadil Akhir 1213 H) adalah Mufti Haramain di masanya. 
Dari perkawinannya dengan Hababah Fathimah binti Muhammad bin Segaf Maulakhela, mempunyai 4 anak (Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah). 
Habib Ali wafat pada waktu Dzuhur, hari Ahad, 20 Rabiuts Tsani 1333 H / 1913 M. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh, kota Seiwun.

2. Haul Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi dan Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor

22 Rabiuts Tsani
Tempat : Kompleks Masjid Ampel, Surabaya, Jawa Timur
Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi lahir di kota Khala’ Rasyid, Hadhramaut, Yaman Selatan, pada 1265 H atau 1845 M. Sejak kecil ia diasuh oleh pamannya, Habib Shaleh bin Muhammad al-Habsyi. Ayahandanya, Habib Idrus bin Muhammad al-Habsyi, berdakwah ke Indonesia dan wafat pada 1919 M di Jatiwangi, Majalengka. Ibunya bernama Syaikhah Sulumah binti Salim bin Sa’ad bin Smeer. 
Sebagai dermawan, Habib Muhammad bin Idrus dikenal gemar membangun tampat ibadah. Beliau banyak membantu pembangunan beberapa masjid di Purwakarta (Jawa Barat) dan Jombang (Jawa Timur). Beliau pula yang pertama kali merintis penyelenggaraan haul para waliyullah dan shalihin. Untuk pertama kalinya, beliau menggelar haul Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad di Tegal, Jawa Tengah. Ia juga merintis kebiasaan berziarah ke makam para awliya dan shalihin. 
Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mukim di Surabaya pada pertengahan abad ke-20 silam. Beliau adalah seorang  ulama besar yang wafat di Surabaya pada malam Rabu, 12 Rabi’ul Akhir 1337 H /1917 M. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Ampel Gubah, kompleks Masjid Ampel, Surabaya.

3. Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas

23 Rabi'uts Tsani
Tempat : Petamburan, Jakarta
Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas lahir pada 992 H/1572 M di desa Lisk, dekat kota Inat, Hadhramaut. Beliau yang mula-mula mendapat gelar Al-Atthas, “orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad al-Jufri, ia sering bersin. 
Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas wafat pada 23 Rabi'ul Akhir 1072 H/1652 M, dan jenazahnya dimakamkan di Hadhramaut.

4. Al-Habib Alwi bin Salim al-'Aydrus

23 Rabi'uts Tsani
Tempat : Tanjung, Malang, Jawa Timur
Al-‘Allamah al-Wari’ al-Habib Salim bin Ahmad al-‘Aydrus lahir di kota Malang, Jawa Timur, dari pasangan Habib Salim bin Ahmad dengan Hababah Fathimah. 
Habib Alwi meninggal pada tahun 1995 M dan dimakamkan di pemakaman Kasin, Malang, di sebelah utara kubah gurunya Al-‘Arif billah al-Quthb al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.

5. Al-Habib Umar bin Hud al-Atthas

29 Rabi'uts Tsani
Tempat : Cipayung, Jakarta

Al-Allamah al-Arifbillah al-Quthub al-Habib Umar bin Muhammad bin Hasan bin Hud al-Atthas dilahirkan oleh seorang wanita shalihah bernama Syarifah Nur binti Hasan al-Atthas di Huraidhah, Yaman Selatan pada tahun 1313 H (1892 M). 

Beliau wafat pada Rabu malam Kamis, tanggal 11 Agustus 1999 M (1420 H) pada usia 108 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, Cililitan, Kalibata, Jakarta sesuai dengan wasiat beliau.


Bulan JUMADIL AWWAL


1. Al-Habib Muhammad bin Husein al-'Aydrus (Habib Neon)

Jumadil Awwal, Kamis Terakhir
Tempat : Ketapang Kecil, Surabaya, Jawa Timur
Al-Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad al-'Aydrus lahir di Tarim, Hadhramaut, pada 1888 M. Ketika lahir beliau diberi nama Muhammad Masyhur. 
Beliau menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Musthafa al-'Aydrus. Dari pernikahan itu ia dikaruniai Allah tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan. 
Habib Muhammad Husein al-'Aydrus wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H / 22 Juni 1969 M dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Jannatul Arab  (makam pegirian) di samping makam paman dan mertuanya, Habib Musthafa al-'Aydrus, sesuai dengan wasiatnya.


Bulan JUMADIL AKHIR


1. Al-Habib Ahmad bin Abdullah al-'Aydrus

Jumadil Akhir, Minggu Pertama
Tempat : Bendungan Hilir, Jakarta Pusat

2. Al-Habib Ja’far bin Syekhon Assegaf

Jumadil Akhir, Minggu Ketiga
Tempat : Masjid Jami’ Pasuruan, Jawa Timur
Al-Habib Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim Assegaf dilahirkan di kota Ghurfah, Hadhramaut pada tahun 1298 H. Dalam usia 40 tahun yaitu tahun 1338 H, beliau berhijrah ke Indonesia. Mulanya beliau menetap di Surabaya, tinggal di kota Bondowoso, sebelum berpindah ke kota santri Pasuruan, dan menetap di sana. Beliau wafat pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir 1374 H. Jasad beliau lalu disemayamkan di samping Masjid Jami' Pasuruan.

3. Haul Imamain, Al-Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih dan Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih

Jumadil Akhir, Minggu Terakhir
Tempat : Pon Pes Darul Hadist, Malang, Jawa Timur
Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. 
Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur.

Bulan RAJAB


1. Al-Habib Muhammad bin Thahir Ba’abud

Rajab, Minggu Pertama
Tempat : Kediri, Jawa Timur
Ad-Da’i ilallah al-Habib Muhammad bin Thahir Ba’abud lahir di Yaman. Beliau wafat pada tahun 1976 dan dimakamkan di Maesan, Pelem, Mojo, Kediri. Tepatnya di depan kediaman putra tertua beliau, yaitu Al-Habib Musthafa bin Muhammad Ba’abud.

2. Khataman Bukhari di Habib Ahmad al-Atthas

12 Rajab
Tempat : Pekalongan, Jawa Timur

3. Khataman Bukhari di Masjid Al-Hawi

26-27 Rajab
Tempat : Condet, Cililitan, Jakarta

4. Khataman Bukhari di Habib Abubakar Assegaf

Rajab, Jum’at Terakhir
Tempat : Gresik, Jawa Timur

5. Al-Habib Syech bin Salim al-Atthas

27 Rajab
Tempat : Masjid Jami' Tipar, Sukabumi, Jawa Barat
Al-Habib Syech bin Salim al-Atthas lahir di Huraidhah, Hadhramaut, Yaman, pada hari Jum'at bulan Shafar, 1311 H. Pada tahun 1338 H / 1920 M, ketika usianya 27 tahun, Habib Syech bin Salim berkunjung ke Indonesia, langsung menuju Tegal, Jawa tengah. Di sana beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama, sesepuh dan pembesar setempat. Ketika itu di Indonesia sudah banyak tokoh Alawiyyin yang sudah bermukim. Di kota Bahari inilah beliau menikah dengan seorang putri dari keluarga bangsawan Tegal, Raden Ali. Dan sejak itu di Tegal beliau sangat disegani oleh berbagai lapisan masyarakat. 
Habib Syech bin Salim al-Atthas kemudian tinggal di Sukabumi. Beliau wafat pada hari Sabtu, 25 Rajab 1398 H / 1 Juli 1978 M, dalam usia 86 tahun, dikebumikan di kompleks Masjid Jami' Tipar, Sukabumi. Al-Habib Hasan bin Abdullah asy-Syatiry yang bertindak sebagai Imam dalam shalat jenazah.

6. Al-Habib Muhdhor bin Muhammad al-Muhdhor

29 Rajab
Tempat : Bondowoso, Jawa Timur

Bulan SYA'BAN


1. Habib Balawi, Al-Syathiri, Al-Qudsi

10 Sya’ban
Tempat : Kampung Bandan, Jakarta Utara

2. Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas

14 Sya’ban
Tempat : Pekalongan, Jawa Tengah
Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas dilahirkan di kota Hajeriem, Hadhramaut, pada tahun 1255 H. Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 1347 H dan dimakamkan di Sapuro Kebulen, Pekalongan Barat., kota Pekalongan.

3. Al-Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad

15 Sya’ban
Tempat : Tegal, Jawa Tengah
Al-Habib Muhammad bin Thahir bin Umar bin Abubakar bin Ali bin Alwi bin Abdullah (Shahib Ratib al-Haddad) lahir di Seiwun, Hadhramaut, Yaman pada tahun 1273 H/ 1838 M.Ketika berumur 47 tahun, beliau bersama dua anaknya berkunjung ke Indonesia. Selama 45 hari, beliau berdakwah dan berdagang di berbagai kota; namun kemudian jatuh sakit dan meninggal di kota Tegal pada 18 Rajab tahun 1885 M. Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad dimakamkan di kompleks pemakaman Al-Haddad, Kauman, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Jawa Tengah.

4. Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf

16 Sya’ban
Tempat : Indramayu, Jawa Barat

5. Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang)

Sya’ban, Sabtu Ketiga (ziarah di makam Habib Ali, besoknya Haul)
Tempat : Kwitang, Jakarta Pusat

Al-Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad (Shohib Syi’ib) lahir pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil ‘Awal 1286 bertepatan tanggal 20 April 1870. Ibunda beliau yaitu Nyai Salmah berasal dari Jatinegara, Jakarta Timur.

Habib Ali Kwitang wafat pada hari Minggu tanggal 20 Rajab 1388 bertepatan dengan 13 Oktober 1968, di tempat kediaman beliau di Kwitang, Jakarta, dalam usia 102 tahun menurut Hijriyah atau usia 98 tahun menurut perhitungan Masehi.

6. Al-Habib Salim bin Thaha al-Haddad

Sya’ban, Jum’at Terakhir
Tempat : Damai Kalibata, Jakarta
Al-Habib Salim bin Thaha al-Haddad lahir di Kalibata, Jakarta Selatan, dari pasangan Habib Thaha bin Ja'far aI-Haddad dan Ibu Tihamah, seorang wanita Betawi yang dikenal shalihah. Orangtuanya, Habib Thaha bin Ja'far, juga kelahiran Kalibata. Yang pertama kali masuk ke Indonesia dan mendiami Kampung Kalibata adalah kakeknya, yaitu Habib Ja'far al-Haddad. Merujuk pada tanggal wafatnya seperti yang tertulis dalam batu nisan dimakamnya, tercatat bahwa Habib Salim wafat pada tanggal 20 Oktober 1978.

7. Al-Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad (Habib Kuncung)

Sya’ban, Minggu terakhir
Tempat : Rawajati Kalibata, Jakarta

Al-Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad lahir di Gurfha, Hadhramaut, Tarim pada tanggal 26 Syaban 1254. Beliau wafat pada tanggal 29 Syaban 1345 H atau sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun dan dimakamkan di pemakaman keluarga Al-Haddad di Rawajati Timur II, Jakarta Selatan. Setiap hari Minggu ketiga bulan Rabi'ul Awwal diadakan peringatan Maulid Nabi di pemakaman beliau bada Ashar.

Bulan SYAWWAL


1. Al-Habib Umar bin Ja’far Assegaf 

5 Syawwal
Tempat : Cibedug, Bogor, Jawa Barat
Beliau adalah kakek dari Habib Hasan bin Ja’far Assegaf. Beliau lahir tahun 1889 di kota Palembang. Ayah beliau Al-Habib Ja’far adalah seorang saudagar besar dan beliau mempunyai saudara Al-Habib Ali bin Ja’far Assegaf yang pertama kali di Indonesia menukil silsilah para habaib di Indonesia. 
Habib Umar bin Ja'far Assegaf wafat pada 10 Dzulhijjah tepat hari Kamis ba’da Ashar pada usia 99 tahun. Jenasah beliau dishalatkan di Bogor, yang dipimpin langsung oleh anak Habib Abdullah bin Muchsin al-Atthas yaitu Al-Habib Husien bin Abdullah al-Atthas. Dan dikebumikan hari Jum’at di Cibedug, Bogor, Jawa Barat

2. Al-Habib Syech bin Ahmad Bafaqih (Sunan Boto Putih)

Syawwal, Kamis Kedua
Tempat : Boto Putih, Surabaya, Jawa Timur
Al-Imam al-Arif billah al-Habib Syech bin Ahmad bin Al-Arif Billah al-Quthub Abdullah Bafaqih dilahirkan di kota Syihr pada tahun 1212 H. Beliau wafat pada tahun 1289 H di Surabaya.

3. Al-Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid (Habib Sholeh Tanggul)

Syawwal, Minggu Kedua
Tempat : Tanggul, Jember, Jawa Timur
Al-Habib al-Quthub Sholeh bin Muhsin al-Hamid lahir di Korbah,Ba Karman (Wadi Amd) Hadhramaut pada tahun 1313 H. Ayahnya adalah Habib Muhsin bin Ahmad yang terkenal dengan sebutan Al-Bakry al-Hamid, seorang yang shaleh dan wali yang arif dan dicintai serta dihormati oleh masyarakatnya. 
Pada usia 26 tahun, tepatnya pada bulan keenam tahun 1921 M, dengan ditemani Asy-Syekh al-Fadil ash-Sholeh Salim bin Ahmad al-Asykary, Habib Sholeh meninggalkan Hadhramaut menuju Indonesia. Mereka berdua singgah di Jakarta untuk beberapa saat. Kemudian sepupu beliau, Habib Muhsin bin Abdullah al-Hamid, seorang panutan para Sadah atau masyarakat, mengajak beliau singgah di kediamannya di Lumajang. Beliau menetap di Lumajang untuk beberapa saat. Kemudian pindah ke Tanggul dan akhirnya menetap di desa tersebut. 
Al-Habib Sholeh wafat pada hari Ahad 9 Syawwal 1396 H, bertepatan dengan tahun 1976 M dalam usia 83 tahun. Beliau meninggalkan 6 putra-putri, yaitu : Habib Abdullah, Habib Muhammad, Syarifah Nur, Syarifah Fatimah, Habib Ali, Syarifah Khadijah. Jasad beliau dimakamkan di samping Masjid Riyadhus Shalihin, Tanggul, Jember, Jawa Timur.

4. Al-Habib Ahmad bin Ali Bafaqih (Habib Ahmad Tempel)

Syawwal, Ahad Terakhir
Tempat : Tempel, Yogyakarta

Habib Ahmad bin Ali Bafaqih sebenarnya wafat pada bulan Sya'ban. Sedangkan haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah haul ayahandanya, yakni Al-Habib Ali bin Ahmad Bafaqih. Karena haul Ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak zaman Habib Ahmad hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh. Acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi, malam Ahad ziarah kubra dan tahlil sedangkan Ahad Shubuh Maulid Nabi SAW.



5. Al-Habib Husein bin Abubakar al-'Aydrus

Syawwal, Minggu Terakhir
Tempat : Luar Batang, Jakarta Utara

Al-Imam Husein bin Abubakar al'Aydrus yang terkenal dengan kramat Luar Batang, lahir di desa Ma'ibad, Migrab, dekat Hazam, Hadhramaut, Yaman Selatan. Datang di Betawi sekitar tahun 1746 M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau wafat di Luar Batang, Betawi, tanggal 24 Juni 1756 M. bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun (di bawah 40 tahun).


Bulan DZULHIJJAH


1. Al-Habib Alwi bin Muhammad Assegaf

10 Dzulhijjah
Tempat : Gresik, Jawa Timur

2. Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf 

17 Dzulhijjah
Tempat : Masjid Jami’ Gresik, Jawa Timur

Al-Habib al-Quthb Abubakar bin Muhammad Assegaf lahir di kota Besuki, Jawa Timur, pada tahun 1285 H. Semenjak kecil beliau sudah ditinggal oleh ayahnya yang wafat di kota Gresik. Pada tahun 1293 H, Habib Abubakar kemudian berangkat ke Hadhramaut karena memenuhi permintaan nenek beliau, Syaikhah Fatimah binti Abdullah ‘Allan. Setelah menuntut ilmu di sana, pada tahun 1302 H beliau pun akhirnya kembali ke pulau Jawa.

Beliau wafat pada tahun 1376 H pada usia 91 tahun. Jasad beliau disemayamkan di sebelah Masjid Jami' Gresik.

3. Al-Habib Harun bin Abdullah Baharun

17 Dzulhijjah
Tempat : Sumur Songo, Gresik, Jawa Timur


Baca Selengkapnya »




Older Posts

Masjid dan Kompleks Makam Kadilangu



Makam dan Masjid Kadilangu berada di Desa Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak Jawa Tengah. Lokasinya berada 2 kilometer di sebelah tenggara Kota Demak. Lokasi ini berada pada ketinggian 22 m dpl sehingga merupakan daerah yang cukup rendah karena berada di pesisir pantai utara Jawa Tengah. Lingkungan makam dan masjid berada disekitar pemukiman penduduk yang padat.

Makam dan Masjid Kadilangu merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga salah satu dari Wali Songgo yang menyebarkan agama Islam di Indonesia khususnya Jawa. Bangunan-bangunan berupa masjid dan makam Kadilangu merupakan bukti dari keberadaan Sunan Kalijaga dan pengaruhnya di Demak.

Bangunan masjid dan makam Kadilangu menunjukkan ciri khas type bangunan pada masa itu. Bangunan masjid berbentuk jogla dengan atap tumpang (susun) 3 seperti halnya asjid-masjid kuno di Jawa lainnya. Bangunan makam dan masjid yang berada dalam satu kompleks juga merupakan ciri khas pola tata letak masjid dan makam yang ada di Jawa saat itu.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Bentuk-bentuk jirat yang ada di makam merupakan bentuk jirat kuno dengan beberapa variasi antara lain bentuk gada, kurawal, dan bentuk matahari. Makam-makam disusun dalam beberapa halaman yang disekat tembok juga menunjukkan ciri khas makam raja atau pejabat dimana makam utama terletak di halaman paling belakang. Di Kadilangu ini, makam Sunan Kalijaga sebagai makam utama sehingga terletak dihalaman belakang. Untuk masuk ke makam Sunan Kalijaga harus melewati tiga pintu gerbang.

Kedudukan Sunan Kalijaga di Kadilangu adalah sebagai kepala daerah perdikan yang menguasai beberapa desa di sekitar Kadilangu dan memiliki kekuasaan penuh terhadap daerah tersebut untuk mengaturnya. Mengingat Kadilangu merupakan daerah khusus yang memang diperuntukkan untuk Sunan Kalijaga dan kemudian dilanjutkan oleh keturunannya, maka keberadaan makam dan masjid ini memilki arti khusus bagi Kadilangu dan bukti pengaruh Sunan Kalijaga salah satu Wali Songo yang sangat dihormati dari dulu sampai sekarang.

Sumber: Studi Kelayakan Masjid dan Makam Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (kebudayaan.kemdikbud)


Baca Selengkapnya »



Older Posts

Masjid Kewalian dan Kompleks Makam Kalisoka


Sejarah Tegal tidak lepas kaitannya dengan Desa Kalisoka, sebuah desa yang terletak di barat laut Kantor Pemkab Tegal. Secara administratif, Kalisoka ikut dalam Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Di tempat inilah sejarah Tegal dimulai.

Setelah rombongan Ki Gede Sebayu hijrah dari Kerajaan Pajang menuju Purbalingga atau tempat keberadaan bapak dari Ki Gede Sebayu, Pangeran On-Dje. Namun sesampainya di sana, ternyata bapak Ki Gede Sebayu sudah lama meninggal, sehingga rombongan melanjutkan perjalanan ke utara. Hingga sampai di Tegal.

Ki Gede Sebayu membagi rombongan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan keahliannya. Salah satunya rombongan ditempatkan di Kalisoka. Sebelum Ki Gede Sebayu datang, memang sudah ada desa tersebut. Di tempat inilah Ki Gede Sebayu bersama keluarganya tinggal dan membangun pondok pesantren dan masjid yang kini dinamakan sebagai Masjid Kewalian Kalisoka.


Konon, dari pembangunan masjid itulah awal mula berdirinya Slawi. Diambil dari jumlah pendekar yang berusaha mengambil kayu jati yang akan digunakan sebagai saka masjid. Di depan masjid (sebelah timur) terdapat sebuah sungai yang cukup lebar dan posisinya tepat di sisi masjid, di sebrang masjid tersebut kabarnya merupakan lokasi Kraton Kalisoka. Namun sayangnya hingga sekarang tidak diketemukan bekas-bekas kratonnya maupun cerita mengapa kraton tersebut tidak ada bekasnya sama sekali. Yang ada kini hanyalah sawah-sawah warga.

Pada masa kepemimpinan Tumenggung Tegal / Pangeran Purbaya pusat pemerintahan Tegal berpindah ke Kraton Kaloran yang kini menjadi SMKK. Setelah pusat pemerintahan berpindah ke Kraton Kaloran, berpindah lagi ke Balaikota Lama (DPRD Kota Tegal) dan karena politik pada saat itu, Tegal menjadi dua. Sehingga, pusat peerintahan Kabupaten Tegal pindah kembali ke kantor Pemkab Tegal sekarang. Sedangkan Pemkot Tegal menempati Balaikota Tegal yang sekarang.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Terlepas dari sejarah zaman dahulu, banyak peninggalan-peninggalan penting yang hingga kini masih berdiri dengan baik, sebut saja Masjid Kewalian Kalisoka, Komplek Makam Mbah Purbaya yang ada di belakang masjid, komplek Makam Anggawana, dan tempat khalwat.

Yang cukup menarik untuk ditelisik lagi adalah Masjid Kewalian atau penduduk menyebutnya Masjid Wali atau Masjid Kalisoka. Masjid ini masih terjaga dengan baik, meskipun ada beberapa bagian yang direnovasi. Di pelataran masjid terdapat jam matahari yang dulu digunakan untuk menentukan waktu sholat. Hingga kini jam tersebut masih ada, meskipn sudah tidak digunakan lagi.

Menara masjid menjulang tinggi. Di bagian dalam terdapat mimbar yang bentuknya masih tradisional, tampak kelambu hijau yang menutupi mimbar tersebut. Pintu dan jendela masih menggunakan kayu jati yang sangat awet. Atap masjid tidak terlalu tinggi, mekipun begitu, masjid ini memiliki lantai bawah tanah yang lantai tersebut dekat dengan bibir sungai. Untuk tempat wudhu sangat unik, kita tidak adakn menemukan kran air untuk wudhu, yang ada hanyalah kolam besar dengan beberapa gayung untuk mengambil air. Tempat wudhu tersebut hampir digunakan pada masjid-masjid model lama.

Di selatan masjid ini ada mata air yang tidak berhenti mengalir, warga menyebutnya dengan nama Tuk Dandang. Hingga sekarang pun warga masih menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Foto situsbudaya.id

Pemakaman Purbaya terdapat makam-makam orang penting dalam sejarah ada makam Pangeran Purbaya yang legendaris beserta keluarganya, ada juga makam keturunan Ki Gede Sebayu dan keturunanya. Makam ini sangat dihormati oleh warga sekitar. Sehingga apabila kita hendak masuk ke dalam kompleks makam, alas kaki harus dilepas.

Baca juga : Wisata Ziarah Tegal 

Makam Hanggawana posisinya tidak terlalu jauh dengan Masjid Kalisoka ini. Hanya berjarak sekitar 200 meter dan lokasinya berada di samping jalan raya. Di samping makam juga terdapat Masjid Kasepuhan Ki Ageng Anggawana. Masjid ini merupakan masjid baru.

Pemkab Tegal beserta organisasi masyarakat sudah lama sekali membangun Kalisoka sebagai kawasan reiligi, namun baru tahun-tahun ini rencana tersebut mulai sedikit demi sedikit terlaksana, yaitu dengan adanya ziarah makam Kalisoka pada saat hari jadi Kabupaten Tegal.

Sumber : wisatategal

Baca Selengkapnya »



Older Posts

Kompleks Pemakaman Ki Ageng Pandanaran



Makam Tembayat adalah makam dari Sunan Bayat yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, yang terletak di atas perbukitan Gunung Jabalkat. Lokasi makam yang berada di ketinggian 860 meter dpl ini dapat dicapai dengan terlebih dahulu menaiki 250 anak tangga dengan membayar tiket masuk seharga Rp 2.000.

Sunan Bayat adalah seorang tokoh religius penyebar agama Islam di kawasan Jawa Tengah pada abad 16. Sunan Bayat berjuang menyebarkan agama Islam pada waktu yang sama dengan Wali Sanga. Dan karena kebesaran nama dan pengaruhnya, Sunan Bayat bahkan dianggap sebagai Wali yang kesepuluh dari Wali Songo. Sunan Bayat yang memiliki banyak nama dan sebutan adalah murid dari Sunan Kalijaga. Setelah mendapatkan pencerahan dan menyebarkan agama Islam dari kawasan Bayat, sosoknya mendapatkan julukan Sunan Bayat. Namun ada juga yang menamainya sebagai Sunan Tembayat, Sunan Padang Aran, Sunan Pandanaran, atau Ki Ageng Pandanaran.

Kompleks pemakaman Sunan Bayat dibangun pada tahun 1620 M oleh raja besar Mataram, Sultan Agung. Sebelum dijadikan kompleks pemakaman oleh Sultan Agung, makam Sunan Bayat diperkirakan sudah dibangun sejak tahun 1526 M, seperti yang tertera pada Gapura Segara Muncar (1448 Saka) yang terdapat di bawah bukit dan berfungsi sebagai pintu gerbang pertama pemakaman. Kompleks pemakaman yang pernah dianggap sebagai salah satu kompleks pemakaman termegah di era Kerajaan Mataram ini memiliki bagian-bagian yang menunjukan budaya peralihan dari Hindu ke Islam. Hal itu dapat dilihat dari keberadaan gapura-gapura Hindu di dalam kompleks pemakaman. Namun yang membuat gapura ini berbeda adalah tidak adanya ornamen binatang seperti yang biasa ada dalam gapura Hindu. Dan memang masa perjuangan Sunan Bayat dalam menyebarkan agama Islam adalah pada masa transisi kekuasaan dan kebudayaan dari kerajaan Hindu Buddha Majapahit ke kerajaan Islam Mataram.

Sunan Bayat yang dipercaya sebagai seorang Bupati Semarang sebelum dirinya menjadi seorang pemimpin agama adalah tokoh utama dalam kompleks pemakaman Tembayat. Kompleks pemakaman yang berada di Gunung Cokro Kembang (bagian dari perbukitan Gunung Jabalkat) terbagi dalam beberapa bagian penting sebelum peziarah mencapai makam Sunan Bayat yang berada pada bagian paling atas. Dimulai dari pintu gerbang pertama adalah Gapura Segara Muncar, lalu Gapura Dhuda, dan pintu ketiga yaitu Gapura Pangrantungan. Gapura Pangrantungan berada di “garis finis” dari 250 anak tangga menuju makam. Di kompleks gapura ini terdapat Bangsal Nglebet (untuk tamu wanita) dan Bangsal Jawi (untuk pria) sebagai lokasi beristirahat dan menghela nafas setelah lelah menapaki anak tangga. Di bangsal ini pula, pengunjung wajib mendaftarkan diri sebelum masuk ke area pemakaman. Pengunjung kembali harus mengeluarkan “uang donasi” di bangsal ini untuk biaya tiket. Dari bangsal ini pengunjung kemudian mengarah ke kompleks pemakaman sahabat Sunan dan kembali akan menemukan Gapura Panemut yang juga memiliki gaya bangunan Hindu.

Masuk lebih dalam lagi kita akan melewati Gapura Pamuncar, Gapura Balekencur, dan Gapura Prabayeksa, gapura terakhir sebelum memasuki makam Sunan. Dari gapura terakhir tadi pengunjung akan bertemu dengan seorang juru doa yang duduk di depan sebuah perapian yang terletak di bawah Regol Sinaga. Juru doa ini adalah seseorang yang dapat dimintai bantuan untuk memintakan izin dan mendoakan peziarah yang datang mengunjungi makam Sunan Bayat.

Di kanan dan kiri Regol Sinaga yang berpintu tiga diletakan masing-masing sebuah gentong yang diberi nama Gentong Sinaga, yang dipercaya sebagai padasan atau tempat air wudhu Sunan Bayat. Dari Regol Sinaga pengunjung dapat langsung masuk ke dalam bangunan utama yang terdapat di puncak bukit ini. Di dalam bangunan inilah Sunan Bayat dimakamkan. Makam Sunan Bayat terdapat di tengah bangunan tersembunyi dalam bilik kayu berbentuk persegi mirip seperti Ka’bah di Mekah. Banyak peziarah yang masuk, akan mengantri di samping makam untuk dapat mendekati makam Sunan.

Di samping makam Sunan Bayat terdapat dua makam istri Sunan Bayat yaitu Nyi Ageng Kali Wungu dan Nyi Ageng Krakitan. Sementara (bagian dalam) di depan pintu masuk bangunan utama terdapat beberapa makam sahabat-sahabat Sunan Bayat. Dari dalam makam Sunan Bayat pengunjung kemudian dapat mengunjungi dua makam sahabat Sunan yang berada di bagian luar bangunan utama. Dua makam itu adalah makam Dampu Awang dan Ki Pawilangan. Dampu Awang dipercaya sebagai seorang pedagang dari Semarang dan dia adalah seorang keturunan Tionghoa. Makam Dampu Awang tampak berbeda dengan makam lainnya karena ukuran panjang yang tidak biasa. Ukuran makam Dampu Awang tampak sangat panjang dari pada makam-makam lain yang ada didekatnya termasuk milik Ki Pawilangan.

Kebanyakan pengunjung yang datang ke kompleks pemakaman Sunan Bayat adalah para peziarah yang datang dari Jawa Tengah terutama Semarang. Hal ini bisa jadi karena latar belakang asal-usul Sunan yang datang dari Semarang sebelum menjalani hidup religius di bawah bimbingan Sunan Kalijaga. Selain makam Sunan Bayat, pengunjung juga dapat mengunjungi Masjid Golo, dengan bedugnya, yang dibangun oleh Sunan Bayat. Ada juga makam Syeh Domba di Gunung Cakaran, pengikut setia Sunan, yang diceritakan pernah berkepala domba karena merampok istri Sunan. Atau makam Syeh Kewel di Makam Sentana, pengikut setia Sunan, yang diceritakan pernah berkepala Ular karena juga turut merampok istri Sunan.

Dan seperti halnya kawasan sakral lainnya di Jawa, lokasi ini juga menggelar sebuah acara budaya yang sudah menjadi tradisi. Upacara Ruwatan atau Jodangan digelar oleh warga di sana setiap tanggal 27 pada hari Jum’at Kliwon di bulan Ruwah. Upacara ini adalah upacara peringatan jasa besar Sunan Bayat yang digelar dengan rangkaian upacara bersih makam, mengganti kain penutup makam, selamatan, serta pertunjukan Reog.

Sumber : pariwisataklaten

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Wisata Ziarah Tegal


Makam Al-Haddad



Habib Muhammad bin Thohir al-Haddad lahir di kota Geidun, Hadramaut, Yaman pada tahun 1838 M yang kemudian hijrah ke Indonesia. Habib Abdullah bin Hasan bin Husein al-Haddad, cicit atau generasi ke 3 dari Habib Muhammad bin Thohir menceritakan bahwa buyutnya yakni Habib Thohir merupakan ulama tersohor dari Yaman yang kerap melakukan syiar Islam di India, Pakistan dan negara-negara Arab.

Kedua anak dari Habib Thohir ini berdakwah di Indonesia. Yaitu: Al-Habib Husein bin Muhammad al-Haddad di Jombang dan Tuban dan Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad di Bogor. Sehingga beliau datang ke Indonesia selain untuk bertemu dengan anak-anaknya, juga untuk berdakwah dan berdagang. Salah satu yang menonjol dari Habib Muhammad bin Thohir yaitu perilakunya yang alim dan dermawan

Tidak lama beliau berada di Indonesia, Habib Thohir sakit dan meninggal di Kota Tegal pada usia 43 tahun. Tepatnya 18 Rajab 1316 H /1885 M. Makamnya berada di sebelah selatan pelataran masjid. Di sebelah makam beliau dimakamkan juga putra pertama beliau, Habib Husain. Pada pelataran luar pemakaman utama, terdapat juga makam cucu-cucu beliau seperti Habib Hasan.

Peringatan khaul jatuh pada hari ke 15 bulan Sya’ban dimulai pada malam hari. Di setiap peringatan khaulnya, selalu ramai dikunjungi oleh peziarah baik dari Tegal, luar kota bahkan dari luar negeri yang jumlahnya hingga ratusan peserta khaul yang berpakaian serba putih. Pada acara tersebut selalu dibacakan do’a bersama dan sejarah beliau. Bahkan ada hidangan khusus bagi warga yang menghadiri khaul, yaitu nasi kebuli.

Makam Gendowor


Foto jalanwisata.com
Nama aslinya adalah Ki Pranantaka, hidup pada jaman kekuasaan Sunan Amangkurat II. Gendowor merupakan orang kepercayaan Adipati Martalaya dan secara tidak langsung juga menjadi orang kepercayaan Sunan Amangkurat II. Beliau pernah diperintah oleh Sunan Amangkurat II untuk mencari kembang Wijayakusuma di Nusakambangan. Perintah tersebut berhasil dijalankan dengan baik dan akhirnya pada suatu saat beliau diberi gelar Raden Harya Sindureja oleh Sunan Amangkurat II.

Gendowor dan Adipati Martalaya mempunya hubungan dekat, selain sebagai orang kepercayaan, beliau juga dipercaya untuk mengurus kuda Sang Adipati. Pandangan beliau juga sejalan dengan Adipati Martalaya yang tidak setuju adanya kerjasama Mataram dengan kompeni Belanda. Gendowor juga dikenal mempunyai pribadi yang polos, jujur, dan berhati mulia . Karena sifatnya itulah beliau pernah dipercaya oleh Sunan Amangkurat II sebagai pembuka jalan saat Sunan Amangkurat II pergi ke Jepara.

Setelah Adipati Martalaya wafat pada 17 Januari 1678, Tegal dipinpin oleh Raden Harya Sindureja selama tiga tahun. Selama tiga tahu itu, beliau melakukan pengembangan ekonomi pertanian dengan membuka dan memperluas lahan pertanian.

Pada tahun 1680, Raden Harya Sindureja wafat, menurut Ki Sumarno Martopura dalam bukunya Tegal Sepanjang Sejarah (Ki Sumarno Martopuro, 1984/ 2003), beliau tewas ditembak Belanda di Tembok Banjaran, Kecamatan Adiwerna dan dimakamkan di Tembokluwung.

Jalan masuk menuju makam ada di samping selatan Polsek Adiwerna lurus ke timur hingga menemui perempatan kecil lalu belok ke selatan hingga menemukan pemakaman dengan pepohonan rindang di sisi kanan jalan.

Pemakamannya cukup sederhana, tidak berteras-teras seperti “makam orang penting” lainnya. Namun yang membedakannya adalah dari cungkupnya. Terdapat dua buah bangunan bercungkup, yang satu atau yang sebelah timur terdapat makam sesepuh desa yang disegani dengan hiasan kelambu putih, sedangkan makam Gendowor hanya cungkup sederhana, berlantaikan keramik putih dan menggunakan pagar bambu seadanya. Dalam satu cungkup terdapat dua buah makam, yang satu makam Gendowor sendiri, dan yang satunya lagi menurut warga sekitar adalah makam istrinya.

Sebelah timur makam Gendowor terdapat sebuah makam yang menurut warga sekitar merupakan petilasan jejak kaki Adipati Martalaya. Petilasan yang berbentuk makam tersebut cukup dikramatkan warga, karena ketika kami mendatanginya untuk mengambil foto lebih dekat, diwajibkan untuk melepas alas kaki.

Makam Ki Gede Sebayu


Foto viva.co.id

Ki Gede Sebayu adalah salah satu orang yang sangat berjasa dalam membangun Tegal. Tidak hanya membangun Tegal, namun juga berhasil membangun masyarakat Tegal sehingga mempunyai banyak keterampilan.

Atas keberhasilannya ini pula, Ingkang Sinuwun Kanjeng Panembahan Senopati Mataram mengangkat Ki Gede Sebayu sebagai juru Demang setingkat Tumenggung/ Bupati yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tegal. Ki Gede Sebayu masih berkaitan erat dengan keturunan Majapahit. Beliau memiliki dua orang anak, yakni Pangeran Hanggawana dan Raden Ayu Rara Giyanti Subalaksana yang menikah dengan Pangeran Purbaya.

Selain itu, Ki Gede Sebayu juga berjasa dalam pembangunan Bendungan Danawarih yang fungsinya adalah unuk irigasi areal persawahan.

Ki Gede Sebayu dimakamkan di Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Sekitar 100 meter ke utara dari lokasi Bendungan dan Jembatan Gantung Danawarih. Komplek makam ini dikelilingi tembok putih yang cukup luas. Sedangkan makamnya sendiri berada di tengah-tengah komplek bangunan tersebut. Makamnya dibuat dengan model atap joglo dan dikelilingi tembok kaca dengan ditutupi dengan tirai putih.

Makam Ki Gede Sebayu selalu ramai didatangi peziarah ketika menjelang hari jadi Kabupaten dan Kota Tegal seperti Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakilnya, Kepala Dinas, SKPD, sesepuh, dan warga Tegal.

Makam Pangeran Purbaya



Ada banyak versi mengenai asal-usul dari Pangeran Purbaya. Versi pertama adalah Purbaya putera dari Panembahan Senopati dari istri Niken Purwosari (putri asal Giring) sedangkan versi kedua adalah Anggabaya seorang keturunan Turki dengan nama asli Sayyid Syeikh Abdul Ghofar. Berdasarkan keterangan dari tiga orang keturunan Ki Gede Sebayu yang tercatat di buku Babad Negari Tegal (halaman 193) maka yang mendekati kebenaran adalah Anggabaya yang disebut-sebut dengan nama Purbaya.

Diceritakan bahwa Purbaya mempunyai kesaktian, salah satunya adalah menebang pohon jati yang akan digunakan sebagai saka guru pembangunan Masjid Kalisoka dengan tangan kosong pada acara sayembara yang digelar oleh Ki Gede Sebayu. Dan pada akhirnya Purbaya menjadi pemenangnya dan dinikahkan dengan putri Ki Gede Sebayu, Raden Ayu Giyanti Subalaksana.

Kiprah Purbaya atau dalam sejarah disebut juga dengan Tumenggung Tegal ini sangat penting dalam Mataram, selain sebagai juru runding dan pemimpin pasukan bersama Tumenggung Bahureksa. Pada masa Tumenggung Tegal ini pula armada-armada laut Tegal mulai dikerahkan.

Tumenggung Tegal alias Purbaya meninggal dunia pada 18 Agustus 1636. Dan konon dimakamkan di sebelah barat Masjid Kewalian Kalisoka atau biasa disebut Masjid Kalisoka. Nama pemakamannya adalah Pesarean Mbah Pangeran Purobaya. Di tempat ini pula istri beliau dimakamkan.

Komplek pemakaman ini dibagi menjadi beberapa area, area terluar merupakan pemakaman umum warga sekitar dan area dalam merupakan pemakaman sanak famili atau keturunan Pangeran Purbaya atau Ki Gede Sebayu. Untuk makam Purbaya sendiri tertutup oleh bangunan khusus. Bangunannya tidak terlalu tinggi sehingga jika kita masuk harus menundukkan kepala. Sama seperti makam-makam Ki Gede Sebayu dan Raden Mas Hanggawana, makam Pangeran Purbaya juga tertutup rapat.

Tidak jauh dari komplek pemakaman, sekitar 50 meter ke arah selatan masjid ada tempat khalwat atau seperti tempat bersemedi Pangeran Purbaya.

Makam Raden Mas Hanggawana


Raden Mas Hanggawana menggantikan tugas dari bapaknya, Ki Gede Sebayu yang telah wafat. Kepemimpinan Raden Mas Hanggawana mulai tahun 1620 hingga tahun 1625.

Banyak hal yang dilakukan oleh Raden Mas Hanggawana dalam memimpin Tegal. Yaitu seperti mengembangkan pertanian, membuat bendungan (Kali Bleruk, Kali Kembang, Kali Jembangan, dan Kali Wadas) dan irigasi yang mengairi sawah-sawah penduduk.

Karena pada saat itu Mataram dalam keadaan genting, maka Sultan Agung mengangkat Tumenggung Tegal sebagai Adipati Tegal yang ketiga, sedangkan Raden Mas Hanggawana ditempatkan sebagai sesepuh Tegal yang mengurus urusan dalam kadipaten.

Raden Mas Hanggawana wafat dan dimakamkan di daerah Kalisoka. Posisi makam Raden Mas Hanggawana tepat di belakang Masjid Kasepuhan Ki Ageng Anggawana. Makam beliau dikelilingi dengan pagar batu bata setinggi kira-kira 120 cm dan dalam keadaan tertutup oleh bangunan beratapkan genting. Daerah tersebut juga merupakan komplek pemakaman warga sekitar. Suasana sekitar juga sejuk dan asri, tidak banyak pohon-pohon besar yang memberikan kesan angker. Untuk masuk ke bangunan utama, setidaknya kita mengadakan janjian terlebih dahulu kepada sang juru kunci makam, mengingat pada hari-hari biasa, bangunan tersebut dikunci rapat.

Pada tanggal-tanggal tertentu, sering diadakan khaul untuk mengenang Raden Mas Hanggawana. Peserta khaul tidak hanya dari Tegal saja, namun dari luar kota. Terlebih posisi komplek makam ini berada di pinggir jalan desa, maka semakin banyak orang yang berziarah maupun hanya sekedar ingin tahu makam dari orang yang bersejarah di Tegal.

Sumber: Buku Babad Negari Tegal

Baca juga : Masjid Kewalian dan Kompleks Makam Kalisoka 

Makam Sunan Amangkurat I


Foto Wikipedia
Berkunjung ke areal pemakaman ini tidak seperti sedang berkunjung ke pemakaman. Karena areal ini terlihat rapi dan bersih, bahkan jauh dari kata seram. Dari luar, bangunan ini dikelilingi oleh tembok bata dengan luas sekitar 1,1 Ha.

Sunan Amangkurat I merupakan putra ke sepuluh dari Sultan Agung yang lahir pada tahun 1619. Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin. Pada tahun 1645 beliau diangkat menjadi Raja Mataram menggantikan ayahnya dan mendapat gelar Susuhunan Ing Alaga. Ketika dinobatkan secara resmi pada tahun 1646, gelarnya menjadi Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung.

Pada masanya, terjadi banyak pemberontakan dan persekongkolan. Sunan Amangkurat I dan beserta istri dan putra-putranya meninggalkan Keraton Mataram menuju ke arah Batavia. Dalam pelariannya, Sunan Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas. Beliau berwasiat untuk dimakamkan di dekat gurunya di Tegal. Karena tanah daerah tersebut berbau harum, maka desa tempat Amangkurat I dimakamkan kemudian disebut Tegalwangi atau Tegalarum. Sehingga dikenal pula dengan gelar anumerta Sunan Tegalwangi atau Sunan Tegalarum. Nama lainnya ialah Sunan Getek.

Cungkup makam dari Sunan Amangkurat I berbentuk Rumah Tajug dan bahan bangunan menggunakan kayu jati yang dicat dengan warna kuning. Selain Makam Sunan Amangkurat I, di komplek pemakaman ini juga terdapat makam kerabat dan guru dari Sunan Amangkurat I.

Pemugaran pertama kali di makam ini dilakukan pada tahun 1982 dan diresmikan oleh Dr. Daoed Joesoef selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada masa itu.

Sumber: Disparbud Kab Tegal

Makam Suroponolawen



Makam atau Candi yang terletak di Desa Pagiyanten, Kabupaten Tegal ini merupakan peninggalan abad ke 14 yang berbentuk areal pemakaman atau bisa disebut Makam Suro. Pemakaman ini posisinya ada di sebelah barat laut Gapura Desa Pagiyanten. Jadi agak susah ditemukan jika kita tidak bertanya kepada warga sekitar karena tidak adanya papan petunjuk arah.

Komplek pemakaman ini luasnya kurang lebih 20 x 20 meter dengan dikelilingi oleh pagar batu bata dengan ketinggian pagar sekitar 120 cm. Komplek makam ini pun terdiri dari beberapa sekat atau area. Yang setiap area terdapat pintu masuk yang lebarnya hanya sekitar 80 cm. Adapun area-area tersebut antara lain:
  1. Area pertama merupakan selasar depan bagunan utama yang merupakan tanah lapang yang ditumbuhi banyak pepohonan. Di area ini ada bangunan yang nampak kurang terawat yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan ziarah, seperti tikar dari pandan, kayu-kayu, dan lain sebagainya.
  2. Area kedua merupakan lahan kosong yang berisi jalan setapak dan beberapa pepohonan peneduh. Di tempat ini juga biasanya petugas makam berjaga.
  3. Area ketiga hanya ada beberapa makam yang kondisinya kurang terawatt karena terlihat dari nisannya yang sudah lapuk.
  4. Area keempat banyak pemakaman warga sekitar. Di tempat ini banyak pepohonan besar yang cukup rindang.
  5. Area kelima merupakan pemakaman utama dari Makam Suro.

Komplek utama Makam Suro ini terdiri dari satu banguan utama yang dindingnya terbuat dari batu bata dan lantai / pondasinya terbuat dari batu kali. Cungkup makamnya terdiri dari dua tingkat. Pada tingkatan bawah tersusun dari genteng tanah liat dan tingkatan paling atas terbuat dari kayu jati.

Pintu makam utama ini terbuat dari kayu jati yang sudah terlihat lapuk dengan kunci menggunakan gembok. Untuk dapat masuk ke dalam bangunan ini, sebelumnya kita meminta izin kepada penjaga atau juru kunci terlebih dahulu.

Di dalam bangunan utama ini terdapat sebuah makam sederhana dengan dua buah nisan dari batu. Batas makam hanya dikelilingi dengan beberapa potong kayu. Makam tersebut ditutup dengan kelambu sederhana. Penduduk sekitar mengenalnya dengan makam Mbah Suro / Suroponolawen / Sayyid Syarif Abdurrohman seorang dari Baghdad, Irak yang datang sekitar tahun 1400 M ( abad ke-14) dengan tujuan utama untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Makam ini selalu ramai diziarahi warga pada hari Jum’at Kliwon Penelitis Wage, dan tanggal 6 hingga 12 bulan Maulud. Namun tepatnya tanggal 6, 7 dan 8 bulan Maulud lebih ramai lagi karena untuk memperingati bulan Maulud Nabi dan juga tanggal 8 merupakan tanggal wafatnya Mbah Suro dan penyucian benda-benda peninggalan Mbah Suro seperti piring panjang, cangkir (banyak yang sudah pecah) tenong perunggu, wayang kayu, dan lain sebagainya.

Sumber:
http://husnaramadhan.blogspot.com/2011/01/contoh-abstrak-penelitian-di-candi-suro.html
http://disparbud.tegalkab.go.id/en/wisata-budaya/wisata-ziarah/makam-suroponolawen.html

Makam Syeikh Atas Angin


Foto infotegal.com

Syeikh Atas Angin atau Syeikh Muhammad atau Mbah Atas Angin merupakan putra dari Syeikh Maulana Maghribi. Beliau merupakan tokoh penyebar agama Islam di sekitar wilayah Pedagangan dan Lebaksiu yang pada saat itu mayoritas masih menganut agama Hindu – Budha.

Kenapa disebut Syeikh Atas Angin? Konon ceritanya di daerah Pedagangan dahulu dikenal dengan para pedagangnya. Namun sayangnya sifatnya sangat pelit untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT. Suatu saat, Syeikh Muhammad menyerukan agama Islam di desa tersebut, akan tetapi warga sekitar mengajukan syarat kepada Syeikh Muhammad, apabila Syeikh Muhammad bisa membuat sawah di atas udara, maka warga sekitar mau masuk agama Islam. dan dengan izin Allah, Syeikh Muhammad dapat memenuhi syarat tersebut, beliau dapat membuat sawah di atas udara.

Lokasi makam Syeikh Atas Angin berada di Desa Pedagangan, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Sekitar 1,5 km ke barat dari pusat Kota Slawi. Lokasinya cukup mudah dijumpai, karena hanya sekitar 500 meter dari jalan utama Jalan Raya Slawi – Jatibarang. Makam Syeikh Atas Angin berada di tengah komplek makam Mbah Jaksa. Jadi untuk menuju pintu masuk makam, kita bisa melewati gapura makam Mbah Jaksa dan Masjid Baiturrahman. Ketika melewati jalan setapak (sudah menggunakan paving block), kita akan menemukan makam Mbah Jaksa, seorang tokoh masyarakat yang dahulu merupakan seorang jaksa. Sehingga jalan menuju makam dinamakan Jalan Kejaksan.

Komplek Makam Atas Angin dibagi menjadi 4 halaman. Setiap halaman dibatasi dengan pagar batu bata yang tingginya sekitar 2 m. Berikut detail tiap halaman makam tersebut:
  1. Halaman pertama dan kedua terdapat makam yang tidak ditehui namanya karena kondisi nisan yang sudah relatif rusak.
  2. Halaman ketiga berisi beberapa makam Putri Solo dengan Pohon Nagasari. Terdapat gapura bentar.
  3. Halaman keempat merupakan komplek Makam Syeikh Atas Angin dan pendampingnya serta terdapat lingga dari batu andesit. Terdapat gapura bentar.

Makam Syeikh Atas Angin tidak diberi penutup layaknya makam yang lainnya. Hanya ada cungkup yang dibuat dari daun tebu atau welit. Untuk makamnya sendiri berada di atas kunden setinggi 1 meteran dengan menggunakan batu bata. Makam Syeikh Atas Angin sendiri berada di tengah di antara pendampingnya dan diberi pembatas dengan ukiran kayu yang terlihat masih baru. Di depan makamnya sendiri terdapat lingga setinggi sekitar 0,5 meter. Warga sekitar menyebutnya dengan nama Batu Kalbut.

Makam Syeikh Atas Angin ini bisa juga disebut Candi Pedagangan atau ada yang menyebutnya Candi Bulus. Komplek ini ditemukan sekitar bulan Oktober tahun 2005 oleh warga sekitar dalam keadaan tertutup dengan tanah. Namun sebelumnya pada tahun 1960, bangunan candi tersebut masih utuh. Namun sekitar tahun 1965 candi tersebut dirusak.

Makam Mbah Panggung


Foto nahdlatululama.id

Mbah Panggung atau Sayyid Syarif Abdurrahman, salah satu tokoh yang tidak pernah lepas dari bahasan sejarah Tegal. Di mana ada literatur yang membahas mengenai sejarah Tegal, Mbah Panggung sosoknya hampir tidak pernah terlewatkan. Di Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal teradapat entah makam atau petilasan dari Mbah Panggung, namun warga sekitar meyakini bahwa di tempat tersebut merupakan makam Mbah Panggung.

Adapun Mbah Panggung itu sendiri merupakan salah satu wali yang hanya dikenal di daerah Tegal saja, dan masih mempunyai hubungan dengan Wali Songo. Dikisahkan Mbah Panggung sendiri hidup di masa sekitar tahun 1812-an di Sawojajar (tepi pantai barat Sungai Pemali) (Su'ud, 2003). Beliau merupakan ulama yang menurut sejarah, Mbah Panggung pernah berguru kepada Syeikh Siti Jenar.

Ada banyak versi mengenai asal-usul dari Mbah Panggung sendiri. Namun yang menjadi ingatan masyarakat, Mbah Panggung sendiri merupakan salah satu ulama penting di Tegal yang memiliki dua hewan peliharaan Iman dan Taukhid (Tokid) yang selalu menemani majikannya kemana saja. Selain itu, karya Mbah Panggung yang terkenal adalah Suluk Marang Sumirang yang dibuat saat beliau dihukum oleh para Wali.

Makam Mbah Panggung berada di tengah pemakaman umum. Pada gerbang utama makam terdapat beberapa tulisan Arab. Makam tersebut dikelilingi dengan tembok batu bata yang tingginya sekitar 1 meter. Di dalam areal itupun masih terdapat makam. Untuk menuju makam Mbah Panggung, kita akan melewati lorong panjang dengan keramik berwarna hitam putih bersilangan, mirip papan catur. Makam Mbah Panggung menggunakan cungkup sederhana dan dikelilingi oleh pintu-pintu kayu bercat coklat.

Setiap tahunnya pada bulan Sya'ban atau Ruwah diadakan acara khaul Mbah Panggung. Acara khaul ini diadakan mulai tahun 2000 yang berfungsi untuk mengenang jasa-jasa beliau. Lokasi diadakannya khaul adalah di Masjid Panggung, Jl. KH Mukhlas yang berdekatan dengan Pemakaman Panggung. Acara khaul ini didatangi ramai para peziarah, selain warga sekitar, ada pula yang rela datang jauh-jauh untuk menghadiri khaul tersebut.

Sumber : wisatategal

Baca Selengkapnya »


Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse