Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Habaib
Showing posts with label Habaib. Show all posts
Showing posts with label Habaib. Show all posts

HAUL HABAIB DAN MAULID SE-JAWA


Bulan MUHARRAM


1. Al-Habib Hadi bin Abdullah al-Haddar

Muharram, Minggu Pertama Hari Ahad
Tempat : Lateng, Banyuwangi, Jawa Timur
Al-'Arif billah al-Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh al-Haddar lahir pada tahun 1908 M (1325 H) di Banyuwangi.
Beliau wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Al-Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf (Pasuruan) dan dimakamkan di kompleks makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.

2. Fakhrul Wujud Syeikh Abubakar bin Salim

Muharram, Minggu Terakhir
Tempat : Jl. Kompleks Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Syeikh Abubakar dilahirkan di kota Tarim, Hadhramaut pada 13 Jumadil Akhir tahun 919 H. Terlahir sebagai bayi kembar dengan saudara kembarnya adalah Agil bin Salim (leluhur keluarga Al-Atthas). Syeikh Abubakar lahir dari pasangan Al-Habib Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf dan Syarifah Afifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar Assakran bin Imam Quthb Abdurrahman Assegaf.
Syeikh Abubakar bin Salim menurunkan tujuh belas anak, yang terdiri dari empat perempuan dan tiga belas laki-laki. Di antara anak laki-lakinya, Husein bin Syeikh Abubakar yang dipilih sebagai pengganti kedudukan orang tua. Husein bin Syeikh Abubakar bin Salim dikenal sebagai guru Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas. 
Syeikh Abubakar wafat di kota Inat, Hadhramaut pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 992 H.

3. Al-Habib Abubakar bin Husein Assegaf

27 Muharram
Tempat : Bangil, Pasuruan, Jawa Timur
Beliau adalah putra dari pasangan Al-Habib Husein bin Abdullah Assegaf dan Syarifah Syifa binti Abdul Qodir al-Bahr yang dilahirkan di kota Seiwun, Hadhramaut pada tahun 1309 H. 
Beliau wafat pada hari Senin 27 Muharram 1384 H waktu Shubuh dan dikebumikan di Bangil pada hari Selasa waktu Dhuha

Bulan SHAFAR


1. Al-Habib Husein bin Hadi al-Hamid

12 Shafar
Tempat : Brani Kulon, Probolinggo, Jawa Timur
Habib Husein lahir di Hadhramaut, Yaman Selatan pada tahun 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim al-Hamid dan Ummu Hani. 
Beliau wafat hari Jum’at Legi, 11 Shafar 1406 H/25 Januari 1986. Jenazahnya kemudian di pmakamkan di sebelah utara Masjid Al-Mubarok, kompleks Pondok Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah, desa Brani Kulon, kecamatan Maron, Probolinggo.

2. Al-Habib Abdullah bin Ali al-Haddad

27 Shafar
Tempat : Bangil, Pasuruan, Jawa Timur
Al-Quthb al-Habib Abdullah bin Ali al-Haddad dilahirkan di kota Hawi, Tarim, pada tanggal 2 Shafar 1261 H. Beliau wafat pada hari Jum’at, 15 Shafar 1331 H, sesudah melaksanakan shalat Ashar. Beliau dimakamkan di Beji, Bendo Mungal, Bangil, Pasuruan

3. Al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad (Mbah Priuk)

Shafar, Minggu Terakhir
Tempat : Koja, Jakarta Utara
Al-Imam al-Arifbillah al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M.

4. Do’a Tolak Bala dan Maulid di Pon-Pes Darul Hadist Alfagihiyah

Shafar, Rabu Terakhir
Tempat : Alun-alun Malang, Jawa Timur

Bulan RABI'UL AWWAL


1. Al-Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf

Rabi'ul Awwal, Minggu Pertama
Tempat : Tuban, Jawa Timur
Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf lahir di Seiyun, Hadhramaut, pada tahun 1241 H / kurang lebih 1821 M. 
Beliau wafat pada tanggal 13 Rabi'ul Awwal 1331 H (1912 M). Jasadnya yang suci kemudian dimakamkan di pemakaman Bejagung, Tuban.

2. Maulid di Makam Habib Ahmad al-Haddad

Rabi'ul Awwal, Minggu Pertama Sore
Tempat : Kalibata, Jakarta

3. Al-Habib Ali bin Husein al-Atthas (Habib Ali Bungur)

Rabi'ul Awwal, Selasa Terakhir
Tempat : Condet, Jakarta

Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam al-Quthb al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas lahir di Huraidhah, Hadhramaut, 1 Muharram 1309 H atau sekitar 1891 M.

Beliau wafat pada tanggal 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi dam usia 88 tahun dan ia dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.


4. Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas

Rabi'ul Awwal, Rabu Terakhir (Selasa malam Maulid, Rabu pagi Haul)
Tempat : Empang, Bogor, Jawa Barat
Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas dilahirkan di desa Haurah, salah satu desa di Al-Kasri, Hadharamaut, Yaman, pada hari Selasa 20 Jumadil Awwal 1265 H. 
Beliau wafat pada hari Selasa tanggal 29 bulan Dzulhijah 1351 H, dan dimakamkan di kompleks Masjid Keramat An-Nur kawasan Empang, Bogor Selatan.

5. Maulid di Habib Abubakar Assegaf

Rabi'ul Awwal, Jum’at Pertama
Tempat : Gresik, Jawa Timur

6. Maulid di Habib Muhammad al-'Aydrus

Rabi'ul Awwal, Jum’at Pertama
Tempat : Ketapang Kecil Surabaya, Jawa Timur

7. Maulid di Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Rabu sore ziarah, Kamis sore maulid)

Rabi'ul Awwal, Rabu Terakhir
Tempat : Kwitang, Jakarta Pusat

8. Maulid di Darul Aitam

Rabi'ul Awwal, Jumat Pagi
Tempat : Tanah Abang, Jakarta

9. Al-Habib Muhsin bin Muhammad al-Atthas

Rabi'ul Awwal, Sabtu Pagi
Tempat : Al-Hawi, Condet, Jakarta
Beliau adalah tokoh yang pertama mendirikan Masjid Al-Hawi yang berada di Ujung Cililitan, Jakarta Timur.

10. Maulid di Habib Ahmad Al-Atthas

15 Rabi'ul Awwal, Malam
Tempat : Pekalongan, Jawa Tengah

11. Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan

Rabi'ul Awwal, Senin Sore
Tempat : Otista, Jakarta Timur

Al-Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Sholeh bin Abdullah bin ‘Umar bin ‘Abdullah (bin Jindan) bin Syaikhan bin Syaikh Abubakar bin Salim adalah ulama dan wali besar ini dilahirkan di Surabaya pada 18 Rajab 1324.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabi'ul Awwal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.

12. Maulid di Habib Abdurrahman Assegaf

Rabi'ul Awwal, Minggu Pagi
Tempat : Al-Busro Citayam, Depok

Bulan RABIUTS TSANI


1. Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shahibul Simthuddurar)

20 Rabi'uts Tsani
Tempat : Kompleks Masjid Ar-Riyadh, Solo, Jawa Tengah
Habib Ali lahir di desa Qosam pada hari Jum’at, 24 Syawwal 1259 H / 1839 M; dan diberi nama Ali oleh Al-Allamah Sayyid Abdullah bin Husein bin Thohir untuk mengambil berkah dari Sayyidina Ali Kholi’ Qosam. Ibunda beliau, Sayyidah Alawiyah binti Husein bin Ahmad al-Hadi al-Jufri (lahir tahun 1240 H), berasal dari kota Syibam, adalah seorang yang sangat gemar mengajar dan berdakwah, yang memiliki banyak karomah. Ayahanda beliau, Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi (lahir, 18 jumadil Akhir 1213 H) adalah Mufti Haramain di masanya. 
Dari perkawinannya dengan Hababah Fathimah binti Muhammad bin Segaf Maulakhela, mempunyai 4 anak (Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah). 
Habib Ali wafat pada waktu Dzuhur, hari Ahad, 20 Rabiuts Tsani 1333 H / 1913 M. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh, kota Seiwun.

2. Haul Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi dan Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor

22 Rabiuts Tsani
Tempat : Kompleks Masjid Ampel, Surabaya, Jawa Timur
Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi lahir di kota Khala’ Rasyid, Hadhramaut, Yaman Selatan, pada 1265 H atau 1845 M. Sejak kecil ia diasuh oleh pamannya, Habib Shaleh bin Muhammad al-Habsyi. Ayahandanya, Habib Idrus bin Muhammad al-Habsyi, berdakwah ke Indonesia dan wafat pada 1919 M di Jatiwangi, Majalengka. Ibunya bernama Syaikhah Sulumah binti Salim bin Sa’ad bin Smeer. 
Sebagai dermawan, Habib Muhammad bin Idrus dikenal gemar membangun tampat ibadah. Beliau banyak membantu pembangunan beberapa masjid di Purwakarta (Jawa Barat) dan Jombang (Jawa Timur). Beliau pula yang pertama kali merintis penyelenggaraan haul para waliyullah dan shalihin. Untuk pertama kalinya, beliau menggelar haul Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad di Tegal, Jawa Tengah. Ia juga merintis kebiasaan berziarah ke makam para awliya dan shalihin. 
Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mukim di Surabaya pada pertengahan abad ke-20 silam. Beliau adalah seorang  ulama besar yang wafat di Surabaya pada malam Rabu, 12 Rabi’ul Akhir 1337 H /1917 M. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Ampel Gubah, kompleks Masjid Ampel, Surabaya.

3. Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas

23 Rabi'uts Tsani
Tempat : Petamburan, Jakarta
Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas lahir pada 992 H/1572 M di desa Lisk, dekat kota Inat, Hadhramaut. Beliau yang mula-mula mendapat gelar Al-Atthas, “orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad al-Jufri, ia sering bersin. 
Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas wafat pada 23 Rabi'ul Akhir 1072 H/1652 M, dan jenazahnya dimakamkan di Hadhramaut.

4. Al-Habib Alwi bin Salim al-'Aydrus

23 Rabi'uts Tsani
Tempat : Tanjung, Malang, Jawa Timur
Al-‘Allamah al-Wari’ al-Habib Salim bin Ahmad al-‘Aydrus lahir di kota Malang, Jawa Timur, dari pasangan Habib Salim bin Ahmad dengan Hababah Fathimah. 
Habib Alwi meninggal pada tahun 1995 M dan dimakamkan di pemakaman Kasin, Malang, di sebelah utara kubah gurunya Al-‘Arif billah al-Quthb al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.

5. Al-Habib Umar bin Hud al-Atthas

29 Rabi'uts Tsani
Tempat : Cipayung, Jakarta

Al-Allamah al-Arifbillah al-Quthub al-Habib Umar bin Muhammad bin Hasan bin Hud al-Atthas dilahirkan oleh seorang wanita shalihah bernama Syarifah Nur binti Hasan al-Atthas di Huraidhah, Yaman Selatan pada tahun 1313 H (1892 M). 

Beliau wafat pada Rabu malam Kamis, tanggal 11 Agustus 1999 M (1420 H) pada usia 108 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, Cililitan, Kalibata, Jakarta sesuai dengan wasiat beliau.


Bulan JUMADIL AWWAL


1. Al-Habib Muhammad bin Husein al-'Aydrus (Habib Neon)

Jumadil Awwal, Kamis Terakhir
Tempat : Ketapang Kecil, Surabaya, Jawa Timur
Al-Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad al-'Aydrus lahir di Tarim, Hadhramaut, pada 1888 M. Ketika lahir beliau diberi nama Muhammad Masyhur. 
Beliau menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Musthafa al-'Aydrus. Dari pernikahan itu ia dikaruniai Allah tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan. 
Habib Muhammad Husein al-'Aydrus wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H / 22 Juni 1969 M dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Jannatul Arab  (makam pegirian) di samping makam paman dan mertuanya, Habib Musthafa al-'Aydrus, sesuai dengan wasiatnya.


Bulan JUMADIL AKHIR


1. Al-Habib Ahmad bin Abdullah al-'Aydrus

Jumadil Akhir, Minggu Pertama
Tempat : Bendungan Hilir, Jakarta Pusat

2. Al-Habib Ja’far bin Syekhon Assegaf

Jumadil Akhir, Minggu Ketiga
Tempat : Masjid Jami’ Pasuruan, Jawa Timur
Al-Habib Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim Assegaf dilahirkan di kota Ghurfah, Hadhramaut pada tahun 1298 H. Dalam usia 40 tahun yaitu tahun 1338 H, beliau berhijrah ke Indonesia. Mulanya beliau menetap di Surabaya, tinggal di kota Bondowoso, sebelum berpindah ke kota santri Pasuruan, dan menetap di sana. Beliau wafat pada hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir 1374 H. Jasad beliau lalu disemayamkan di samping Masjid Jami' Pasuruan.

3. Haul Imamain, Al-Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih dan Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih

Jumadil Akhir, Minggu Terakhir
Tempat : Pon Pes Darul Hadist, Malang, Jawa Timur
Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. 
Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur.

Bulan RAJAB


1. Al-Habib Muhammad bin Thahir Ba’abud

Rajab, Minggu Pertama
Tempat : Kediri, Jawa Timur
Ad-Da’i ilallah al-Habib Muhammad bin Thahir Ba’abud lahir di Yaman. Beliau wafat pada tahun 1976 dan dimakamkan di Maesan, Pelem, Mojo, Kediri. Tepatnya di depan kediaman putra tertua beliau, yaitu Al-Habib Musthafa bin Muhammad Ba’abud.

2. Khataman Bukhari di Habib Ahmad al-Atthas

12 Rajab
Tempat : Pekalongan, Jawa Timur

3. Khataman Bukhari di Masjid Al-Hawi

26-27 Rajab
Tempat : Condet, Cililitan, Jakarta

4. Khataman Bukhari di Habib Abubakar Assegaf

Rajab, Jum’at Terakhir
Tempat : Gresik, Jawa Timur

5. Al-Habib Syech bin Salim al-Atthas

27 Rajab
Tempat : Masjid Jami' Tipar, Sukabumi, Jawa Barat
Al-Habib Syech bin Salim al-Atthas lahir di Huraidhah, Hadhramaut, Yaman, pada hari Jum'at bulan Shafar, 1311 H. Pada tahun 1338 H / 1920 M, ketika usianya 27 tahun, Habib Syech bin Salim berkunjung ke Indonesia, langsung menuju Tegal, Jawa tengah. Di sana beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama, sesepuh dan pembesar setempat. Ketika itu di Indonesia sudah banyak tokoh Alawiyyin yang sudah bermukim. Di kota Bahari inilah beliau menikah dengan seorang putri dari keluarga bangsawan Tegal, Raden Ali. Dan sejak itu di Tegal beliau sangat disegani oleh berbagai lapisan masyarakat. 
Habib Syech bin Salim al-Atthas kemudian tinggal di Sukabumi. Beliau wafat pada hari Sabtu, 25 Rajab 1398 H / 1 Juli 1978 M, dalam usia 86 tahun, dikebumikan di kompleks Masjid Jami' Tipar, Sukabumi. Al-Habib Hasan bin Abdullah asy-Syatiry yang bertindak sebagai Imam dalam shalat jenazah.

6. Al-Habib Muhdhor bin Muhammad al-Muhdhor

29 Rajab
Tempat : Bondowoso, Jawa Timur

Bulan SYA'BAN


1. Habib Balawi, Al-Syathiri, Al-Qudsi

10 Sya’ban
Tempat : Kampung Bandan, Jakarta Utara

2. Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas

14 Sya’ban
Tempat : Pekalongan, Jawa Tengah
Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas dilahirkan di kota Hajeriem, Hadhramaut, pada tahun 1255 H. Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 1347 H dan dimakamkan di Sapuro Kebulen, Pekalongan Barat., kota Pekalongan.

3. Al-Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad

15 Sya’ban
Tempat : Tegal, Jawa Tengah
Al-Habib Muhammad bin Thahir bin Umar bin Abubakar bin Ali bin Alwi bin Abdullah (Shahib Ratib al-Haddad) lahir di Seiwun, Hadhramaut, Yaman pada tahun 1273 H/ 1838 M.Ketika berumur 47 tahun, beliau bersama dua anaknya berkunjung ke Indonesia. Selama 45 hari, beliau berdakwah dan berdagang di berbagai kota; namun kemudian jatuh sakit dan meninggal di kota Tegal pada 18 Rajab tahun 1885 M. Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad dimakamkan di kompleks pemakaman Al-Haddad, Kauman, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Jawa Tengah.

4. Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf

16 Sya’ban
Tempat : Indramayu, Jawa Barat

5. Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang)

Sya’ban, Sabtu Ketiga (ziarah di makam Habib Ali, besoknya Haul)
Tempat : Kwitang, Jakarta Pusat

Al-Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurahman bin Husein bin Abdurahman bin Hadi bin Ahmad (Shohib Syi’ib) lahir pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil ‘Awal 1286 bertepatan tanggal 20 April 1870. Ibunda beliau yaitu Nyai Salmah berasal dari Jatinegara, Jakarta Timur.

Habib Ali Kwitang wafat pada hari Minggu tanggal 20 Rajab 1388 bertepatan dengan 13 Oktober 1968, di tempat kediaman beliau di Kwitang, Jakarta, dalam usia 102 tahun menurut Hijriyah atau usia 98 tahun menurut perhitungan Masehi.

6. Al-Habib Salim bin Thaha al-Haddad

Sya’ban, Jum’at Terakhir
Tempat : Damai Kalibata, Jakarta
Al-Habib Salim bin Thaha al-Haddad lahir di Kalibata, Jakarta Selatan, dari pasangan Habib Thaha bin Ja'far aI-Haddad dan Ibu Tihamah, seorang wanita Betawi yang dikenal shalihah. Orangtuanya, Habib Thaha bin Ja'far, juga kelahiran Kalibata. Yang pertama kali masuk ke Indonesia dan mendiami Kampung Kalibata adalah kakeknya, yaitu Habib Ja'far al-Haddad. Merujuk pada tanggal wafatnya seperti yang tertulis dalam batu nisan dimakamnya, tercatat bahwa Habib Salim wafat pada tanggal 20 Oktober 1978.

7. Al-Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad (Habib Kuncung)

Sya’ban, Minggu terakhir
Tempat : Rawajati Kalibata, Jakarta

Al-Habib Ahmad bin Alwi al-Haddad lahir di Gurfha, Hadhramaut, Tarim pada tanggal 26 Syaban 1254. Beliau wafat pada tanggal 29 Syaban 1345 H atau sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun dan dimakamkan di pemakaman keluarga Al-Haddad di Rawajati Timur II, Jakarta Selatan. Setiap hari Minggu ketiga bulan Rabi'ul Awwal diadakan peringatan Maulid Nabi di pemakaman beliau bada Ashar.

Bulan SYAWWAL


1. Al-Habib Umar bin Ja’far Assegaf 

5 Syawwal
Tempat : Cibedug, Bogor, Jawa Barat
Beliau adalah kakek dari Habib Hasan bin Ja’far Assegaf. Beliau lahir tahun 1889 di kota Palembang. Ayah beliau Al-Habib Ja’far adalah seorang saudagar besar dan beliau mempunyai saudara Al-Habib Ali bin Ja’far Assegaf yang pertama kali di Indonesia menukil silsilah para habaib di Indonesia. 
Habib Umar bin Ja'far Assegaf wafat pada 10 Dzulhijjah tepat hari Kamis ba’da Ashar pada usia 99 tahun. Jenasah beliau dishalatkan di Bogor, yang dipimpin langsung oleh anak Habib Abdullah bin Muchsin al-Atthas yaitu Al-Habib Husien bin Abdullah al-Atthas. Dan dikebumikan hari Jum’at di Cibedug, Bogor, Jawa Barat

2. Al-Habib Syech bin Ahmad Bafaqih (Sunan Boto Putih)

Syawwal, Kamis Kedua
Tempat : Boto Putih, Surabaya, Jawa Timur
Al-Imam al-Arif billah al-Habib Syech bin Ahmad bin Al-Arif Billah al-Quthub Abdullah Bafaqih dilahirkan di kota Syihr pada tahun 1212 H. Beliau wafat pada tahun 1289 H di Surabaya.

3. Al-Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid (Habib Sholeh Tanggul)

Syawwal, Minggu Kedua
Tempat : Tanggul, Jember, Jawa Timur
Al-Habib al-Quthub Sholeh bin Muhsin al-Hamid lahir di Korbah,Ba Karman (Wadi Amd) Hadhramaut pada tahun 1313 H. Ayahnya adalah Habib Muhsin bin Ahmad yang terkenal dengan sebutan Al-Bakry al-Hamid, seorang yang shaleh dan wali yang arif dan dicintai serta dihormati oleh masyarakatnya. 
Pada usia 26 tahun, tepatnya pada bulan keenam tahun 1921 M, dengan ditemani Asy-Syekh al-Fadil ash-Sholeh Salim bin Ahmad al-Asykary, Habib Sholeh meninggalkan Hadhramaut menuju Indonesia. Mereka berdua singgah di Jakarta untuk beberapa saat. Kemudian sepupu beliau, Habib Muhsin bin Abdullah al-Hamid, seorang panutan para Sadah atau masyarakat, mengajak beliau singgah di kediamannya di Lumajang. Beliau menetap di Lumajang untuk beberapa saat. Kemudian pindah ke Tanggul dan akhirnya menetap di desa tersebut. 
Al-Habib Sholeh wafat pada hari Ahad 9 Syawwal 1396 H, bertepatan dengan tahun 1976 M dalam usia 83 tahun. Beliau meninggalkan 6 putra-putri, yaitu : Habib Abdullah, Habib Muhammad, Syarifah Nur, Syarifah Fatimah, Habib Ali, Syarifah Khadijah. Jasad beliau dimakamkan di samping Masjid Riyadhus Shalihin, Tanggul, Jember, Jawa Timur.

4. Al-Habib Ahmad bin Ali Bafaqih (Habib Ahmad Tempel)

Syawwal, Ahad Terakhir
Tempat : Tempel, Yogyakarta

Habib Ahmad bin Ali Bafaqih sebenarnya wafat pada bulan Sya'ban. Sedangkan haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah haul ayahandanya, yakni Al-Habib Ali bin Ahmad Bafaqih. Karena haul Ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak zaman Habib Ahmad hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh. Acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi, malam Ahad ziarah kubra dan tahlil sedangkan Ahad Shubuh Maulid Nabi SAW.



5. Al-Habib Husein bin Abubakar al-'Aydrus

Syawwal, Minggu Terakhir
Tempat : Luar Batang, Jakarta Utara

Al-Imam Husein bin Abubakar al'Aydrus yang terkenal dengan kramat Luar Batang, lahir di desa Ma'ibad, Migrab, dekat Hazam, Hadhramaut, Yaman Selatan. Datang di Betawi sekitar tahun 1746 M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau wafat di Luar Batang, Betawi, tanggal 24 Juni 1756 M. bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun (di bawah 40 tahun).


Bulan DZULHIJJAH


1. Al-Habib Alwi bin Muhammad Assegaf

10 Dzulhijjah
Tempat : Gresik, Jawa Timur

2. Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf 

17 Dzulhijjah
Tempat : Masjid Jami’ Gresik, Jawa Timur

Al-Habib al-Quthb Abubakar bin Muhammad Assegaf lahir di kota Besuki, Jawa Timur, pada tahun 1285 H. Semenjak kecil beliau sudah ditinggal oleh ayahnya yang wafat di kota Gresik. Pada tahun 1293 H, Habib Abubakar kemudian berangkat ke Hadhramaut karena memenuhi permintaan nenek beliau, Syaikhah Fatimah binti Abdullah ‘Allan. Setelah menuntut ilmu di sana, pada tahun 1302 H beliau pun akhirnya kembali ke pulau Jawa.

Beliau wafat pada tahun 1376 H pada usia 91 tahun. Jasad beliau disemayamkan di sebelah Masjid Jami' Gresik.

3. Al-Habib Harun bin Abdullah Baharun

17 Dzulhijjah
Tempat : Sumur Songo, Gresik, Jawa Timur


Baca Selengkapnya »




Older Posts

7 ANCAMAN BAGI MEREKA PEMBENCI, PENCACI DAN PEMFITNAH PARA DZURIYYAT RASUL YANG ISTIQOMAH


1. ALLAH Subhanahu wa Ta'ala MARAH KEPADA ORANG YANG MEMBENCI PARA HABAIB

Rasulullah ﷺ bersabda,

… ﻭﻫﻢ ﻋِﺘْﺮَﺗِﻲ , ﺧُﻠِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻃِﻴْﻨَﺘِﻲ , ﻓَﻮَﻳْﻞٌ ﻟِﻠْﻤُﻜَﺬِّﺑِين ﺑِﻔَﻀْﻠِﻬِﻢْ , ﻣﻦ ﺍﺣﺒﻬﻢ ﺍﺣﺒﻪ ﺍﻟﻠﻪ , ﻭﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻬﻢ ﺃﺑﻐﻀﻪ ﺍﻟﻠﻪ

“… Mereka adalah keturunanku dan diciptakan dari tanahku. Celakalah dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka. Siapa yang mencintai mereka maka Allah akan mencintainya, siapa yang membenci mereka maka Allah akan membencinya”.[1]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺃﻻ ﻭ ﻣﻦ ﺍﺑﻐﺾ ﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ ﺟﺎﺀ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ : ﺁيس ﻣﻦ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ

Sungguh siapa yang membenci keluarga Muhammad SAW, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan tulisan di antara kedua matanya : ‘orang ini telah terputus dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala'.[2]

2. ORANG YANG MEMBENCI HABAIB TERMASUK GOLONGAN ORANG MUNAFIK

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻨﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﺎﻓﻖ

Siapa orang yang membenci kami ahlu bait adalah termasuk golongan munafik.[3]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻻ ﻳﺤﺒﻨﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺍﻻ ﻣﺆﻣﻦ ﺗﻘﻲ , ﻭﻻ ﻳﺒﻐﻀﻨﺎ ﺍﻻ ﻣﻨﺎﻓﻖ ﺷﻘﻲ

"Tidak ada yang mencintai kami ahlu bait kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, dan tidak ada yang membenci kami kecuali orang munafik dan durhaka." [4]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻣﻦ ﺃﺑﻐﺾ ﻋﺘﺮﺗﻲ ﻓﻬﻮ ﻣﻠﻌﻮﻥ ﻭ ﻣﻨﺎﻓﻖ ﺧﺎﺳﺮ

"Siapa yang membenci keturunanku, ia termasuk orang yang dilaknat dan munafik yang merugi."[5]

3. ORANG YANG MEMBENCI PARA HABAIB TERMASUK GOLONGAN ORANG KAFIR

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺃﻻ ﻭﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺑﻐﺾ ﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﺎﺕ ﻛﺎﻓﺮﺍ , ﺃﻻ ﻭﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺑﻐﺾ ﺁﻝ ﻣﺤﻤﺪ , ﻟﻢ ﻳﺸﻢّ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﺠﻨّﺔ

Sungguh siapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad ﷺ, maka ia mati dalam keadaan kafir. Sungguh siapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad ﷺ, maka ia tidak akan mencium harumnya surga.[6]

4. ORANG YANG MEMBENCI PARA HABAIB TERMASUK GOLONGAN YAHUDI

Dari Jabir bin Abdillah al-Anshori, Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺃﻳّﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ , ﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻨﺎ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺣﺸﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎ . ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ , ﻭﺇﻥ ﺻﺎﻡ ﻭﺻﻠّﻰ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻭﺇﻥ ﺻﺎﻡ ﻭ ﺻﻠّﻰ

Wahai manusia, siapa saja yang membenci kami ahlu bait, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam golongan orang-orang Yahudi. Jabir berkata: Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan mengerjakan shalat. Rasul menjawab : Walaupun mereka berpuasa dan mengerjakan shalat.[7]

5. ORANG YANG MEMBENCI PARA HABAIB AKAN MASUK NERAKA

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻭﺍﻟّﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ , ﻻ ﻳﺒﻐﻀﻨﺎ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺍﺣﺪ ﺍﻻ ﺃﺩﺧﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺭ

"Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, Tidaklah seorang yang membenci kami ahlu bait kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan masukkan ia ke dalam neraka."[8]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻭﺍﻟّﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ , ﻻ ﻳﺒﻐﻀﻨﺎ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺍﺣﺪ ﺍﻻ ﺃﻛﺒّﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺭ

"Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, Tidaklah seorang yang membenci kami ahlu bait kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan masukkan ia ke dalam neraka."[9]

Rasulullah ﷺ bersabda,

… ﻓَﻠَﻮْ ﺍَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺻﻔَﻦَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺮُّﻛْﻦِ ﻭَﺍﻟﻤَﻘَﺎﻡِ , ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﻭَﺻَﺎﻡَ , ﺛُﻢَّ ﻟﻘﻲ ﺍﻟﻠﻪ , ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺒْﻐِﺾٌ ﻻِﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺖِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ

“… Maka sekiranya seseorang berdiri di antara salah satu sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim, lalu ia shalat dan puasa, kemudian meninggal sedangkan ia adalah pembenci keluarga (ahlu al-bait) Muhammad, pasti ia masuk neraka”.[10]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻻ ﻳﺒﻐﻀﻨﺎ ﻭﻻ ﻳﺤﺴﺪﻧﺎ ﺍﺣﺪ ﺍﻻ ﺫﻳﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺑﺴﻴﺎﻁ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ

Tidak seorang pun yang membenci dan hasud kepada kami (ahlu bait) kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengusirnya di hari kiamat dengan cambuk yang berasal dari api neraka.[11]

6. ALLAH Subhanahu wa Ta'ala SANGAT MURKA KEPADA UMMATNYA YANG MENYAKITI PARA HABAIB

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺇﺷﺘﺪّ ﻏﻀﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺁﺫﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﻋﺘﺮﺗﻲ

"Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat murka kepada orang yang menggangguku melalui keturunanku."[12]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺇﺷﺘﺪّ ﻏﻀﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻏﻀﺒﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻫﺮﻕ ﺩﻣﻲ ﻭ ﺁﺫﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﻋﺘﺮﺗﻲ

"Allah Subhanahu wa Ta'ala dan aku sangat murka kepada orang yang menumpahkan darahku dan menyakitiku melalui keturunanku."[13]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻣﻦ ﺳﺐّ ﺍﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﻓﺄﻧﺎ ﺑﺮﻱﺀ ﻣﻨﻪ

"Siapa yang mencela ahlu baitku, maka aku berlepas diri darinya."[14]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻣﻦ ﺁﺫﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻫﻠﻲ ﻓﻘﺪ ﺁﺫﻯ ﺍﻟﻠﻪ

"Siapa yang menyakitiku dalam urusan keluargaku, maka ia telah menyakiti Allah."[15]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺇﻥّ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﺒﻐﺾ ﺍﻵﻛﻞ ﻓﻮﻕ ﺷﺒﻌﻪ , ﻭﺍﻟﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﺭﺑﻪ , ﻭﺍﻟﺘﺎﺭﻙ ﺳﻨّﺔ ﻧﺒﻴﻪ , ﻭﺍﻟﻤﺨﻔﺮ ﺫﻣّﺘﻪ , ﻭﺍﻟﻤﺒﻐﺾ ﻋﺘﺮﺓ ﻧﺒﻴﻪ , ﻭﺍﻟﻤﺆﺫﻱ ﺟﻴﺮﺍﻧﻪ

"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci orang yang makan di atas batas kekenyangannya, orang yang lalai dari melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya, orang yang mencampakkan sunnah nabinya, orang yang meremehkan tanggungjawabnya, orang yang membenci ithroh (keturunan) nabinya dan mengganggu tetangganya".[16]

7. ALLAH Subhanahu wa Ta'ala MENGHARAMKAN SURGA KEPADA ORANG YANG MENDZALIMI PARA HABAIB

Rasulullah ﷺ bersabda :

ﺇﻥّ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺮّﻡ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻇﻠﻢ ﺍﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ

"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan surga kepada orang yang menzhalimi ahlu baitku."[17]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺣﺮّﻣﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻇﻠﻢ ﺍﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﻭ ﺁﺫﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﻋﺘﺮﺗﻲ

"Surga diharamkan bagi siapa saja yang menzhalimi ahlu baitku dan menyakiti aku melalui keturunanku." [18]

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﺍﻟﻮﻳﻞ ﻟﻈﺎﻟﻤﻲ ﺍﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ , ﻋﺬﺍﺑﻬﻢ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺭﻙ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ

"Celakalah siapa saja yang mendzalimi ahlu baitku, mereka akan diadzab bersama orang-orang munafiq di dasar neraka."[19]

📚Referensi Kitab 📚
[1] Kanz al-Ummal (12/98)
[2] Faraid al-Simthin (2/256)
[3] Al-Dur al-Mansur (7/349), Fadhail al-Sahabah (2/661)
[4] Dzakhair al-Uqba : 218, al-Showaiq al-Muhriqah : 230.
[5] Jami’ al-Akhbar : 214.
[6] Al-Kasyaf (3/403)
[7] Al-Mu’jam al-Ausath (4/212)
[8] Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/162), al-Dur al-Mansur (7/349)
[9] Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (4/392), Majma’ al-Zawaid (7/580)
[10] Al-Mu’jam al-Kabir (11/142), al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/161)
[11] Al-Mu’jam al-Kabir (3/81)
[12] Ihya al-Mait al-Suyuthi : 53
[13] Dzakhoir al-Uqba : 39
[14] Yanabi’ al-Mawaddah (2/378)
[15] Kanz al-Ummal (12/103)
[16] Ihya al-Mait : 53
[17] Dzakhoir al-Uqba : 20
[18] Tafsir al-Qurthubi (16/22)
[19] Yanabi’ al-Mawaddah (2/326)

[Pondok Habib]

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Al-Habib Salim bin Jindan


Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Sholeh bin Abdullah bin ‘Umar bin ‘Abdullah (Bin Jindan) bin Syaikhan bin Syaikh Abu Bakar bin Salim adalah ulama dan wali besar ini dilahirkan di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906). Memulakan pengajiannya di Madrasah al-Khairiyyah, Surabaya sebelum melanjutkan pelajarannya ke Makkah, Tarim dan Timur Tengah. Berguru dengan banyak ulama. Seorang ahli hadits yang menghafal 70,000 hadits (ada yang mengatakan ratusan ribu hadits). Beliau juga seorang ahli sejarah yang hebat, sehingga diceritakan pernah beliau menulis surat dengan Ratu Belanda berisikan silsilah raja-raja Belanda dengan tepat. Hal ini amat mengagumkan Ratu Belanda, lantas surat beliau diberi jawaban dan diberi pujian dan penghargaan, sebab tak disangka oleh Ratu Belanda, seorang ulama Indonesia yang mengetahui silsilahnya dengan tepat. Tetapi tanda penghargaan Ratu Belanda tersebut telah dibuang oleh Habib Salim karena beliau tidak memerlukan penghargaan.

Pada 1940 beliau hijrah ke Jakarta, serta mendirikan Majlis Ta’lim Fakhriyyah. Disamping itu beliau merantau ke berbagai daerah Indonesia untuk tujuan dakwah dan ta’lim. Mempunyai banyak murid antaranya Kiyai Abdullah Syafi'i, Habib Abdullah bin Thoha as-Saqqaf, Kiyai Thohir Rohili, Habib Abdurrahman al-Atthas dan banyak lagi.

Habib Salim juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga dipenjarakan oleh Belanda. Di zaman penjajahan Jepang, beliau juga sering dipenjara karena ucapan-ucapannya yang tegas, bahkan setelah kemerdekaan Indonesia, beliau juga sering keluar masuk penjara karena kritikannya yang tajam terhadap pemerintah apalagi dalam hal bersangkutan agama yang senantiasa ditegakkannya dengan lantang.

Sifat dan kepribadian luhurnya serta ilmunya yang luas menyebabkan banyak orang ramai yang berguru kepada beliau, Presiden Soerkano sendiri pernah berguru dengan beliau dan sering dipanggil ke istana oleh Bung Karno. Waktu Perjanjian Renvil ditandatangani, beliau turut naik atas kapal Belanda tersebut bersama pemimpin Indonesia lain. Beliau wafat di Jakarta pada 10 Rabi'ul Awwal 1389 (1 Juni 1969) dan dimakamkan di kompleks Masjid al-Hawi, Condet, Jakarta.

Semoga  rahmat Allah senantiasa tercurahkan ke atas roh beliau, diampuni segala khilaf dan dosa-dosanya, dan ditempatkan beliau bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Fatihah....

Baca Selengkapnya »




Older Posts

Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf


Silsilah beliau adalah : Habib Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam Wadi Al-Ahqaf Umar bin Segaf bin Muhammad bin Umar bin Toha bin Umar Ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawiliyah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin 'Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin 'Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali-'Uraidhi bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, beliau lahir di Besuki, Jawa Timur, pada tahun 1285 H. Cahaya kebaikan dan kewaliannya telah nampak dan terpancar dari wajah beliau. Saat usia 3 tahun, beliau mampu mengingat semua kejadian yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu karena kekuatan dan kejernihan hati beliau. Bersama ayahnya beliau pindah ke Gresik. Tak lama kemudian, ayah beliau meninggal dunia di Gresik, saat itu habib Abubakar masih kecil. Mendengar anaknya (Ayah Habib Abubakar) meninggal dunia, maka neneknya di Hadramaut, yaitu Hababah Fatimah binti Abdullah 'Allan, meminta supaya cucunya ini (Habib Abubakar) dikirimkan ke Hadramaut. Maka, pada tahun 1293 H dengan mengikut kenalan keluarga, yaitu, Syeikh Muhammad Bazemur, Habib Abubakar berangkat ke Hadramaut. Kala itu Habib Abubakar masih berusia delapan tahun. Sesampainya di Seiwun, Hadramaut, beliau disambut oleh pamannya, Al-Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Pertama kali melihat Habib Abubakar, sang paman menyambut beliau dengan sangat gembira, seraya mengucapkan bait syair : "Hati para auliya, memiliki ketajaman mata, mereka mampu memandang apa yang tidak dilihat oleh manusia lainnya". Pertama kali, Habib Abubakar tinggal di rumah paman beliau, Al-Habib Syekh bin Umar bin Segaf Assegaf, seorang ulama yang disegani di Hadramaut. Habib Abubakar belajar ilmu fikih dan ilmu tasawuf kepada pamannya. Setiap malam, beliau dibangunkan untuk bersama-sama menunaikan shalat tahajjud, walaupun waktu itu beliau masih dalam usia kecil.

Habib Abubakar juga belajar kepada para ulama dan auliya' di Seiwun, Hadramaut, antara lain : Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shahibul maulid simthudurar), Al-Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, Al-Habib Abdurrahman al-Masyhur, Al-Habib Syeikh bin Idrus al-'Aydrus, dan lain-lain.

Saat pertama kali melihat Habib Abubakar, Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi telah melihat tanda-tanda kebesaran dalam diri Habib Abubakar dan yakin bahwa Habib Abubakar, kelak akan menjadi seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi, padahal saat itu Habib Abubakar dalam usia kanak-kanak. Jauh sebelum kedatangannya ke Hadramaut, ketika itu Habib Abubakar masih di tanah Jawa, Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang muridnya, "Lihatlah mereka itu, mereka tiga orang besar, nama mereka sama, keadaan mereka sama, dan kedudukan mereka sama. Yang pertama, sudah berada di alam barzakh, yaitu Al-Qutub Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-'Aydrus. Yang kedua, engkau sudah pernah melihatnya pada saat engkau masih kecil, yaitu Al-Quthub al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas Dan yang ketiga, engkau akan melihatnya di akhir umurmu." Ketika murid tersebut sudah menginjak usia senja, murid tersebut bermimpi melihat Nabi shalllahu 'alaihi wasallam dalam lima malam berturut-turut. Dalam mimpinya itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menuntun seorang anak kecil sambil berkata kepadanya, "Terdapat kebenaran bagi yang melihatku di setiap mimpinya. Telah aku hadapkan kepadamu cucuku yang shaleh, yaitu Abubakar bin Muhammad Assegaf . Perhatikanlah ia." Murid tersebut sebelumnya belum pernah melihat Habib Abubakar, kecuali dalam mimpinya itu. Setelah ingatlah ia dengan perkataan gurunya, Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, yang mengatakan, "Lihatlah mereka itu, tiga auliya, nama mereka sama, keadaan mereka sama dan kedudukan mereka sama." Tidak lama setelah kejadian mimpinya itu, murid tersebut meninggal dunia, tepat sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, bahwa ia akan melihat Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf di akhir umurnya. Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari guru beliau, Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan beliau sekaligus merayakan pernikahannya.

Pada tahun 1302 H. Habib Abubakar kembali ke Indonesia bersama Al-Habib Alwi bin Segaf dan langsung menuju Besuki, kota di mana beliau lahir. Di kota tersebut beliau melakukan dakwah. Setelah menetap di Besuki selama tiga tahun, pada tahun 1305 H, beliau pindah ke kota Gresik. Ketika itu usianya baru 20 tahun. Habib Abubakar juga belajar dan mengambil ijazah kepada ulama dan auliya' yang berada di Indonesia, diantaranya : Al-Habib Abdullah bin Ali al-Haddad (Bangil), Al-Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas (Pekalongan), Al-Habib Abubakar bin Umar bin Yahya (Surabaya), Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya), Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdor (Bondowoso).

Di saat menjelang akhir hayatnya, Habib Abubakar selalu mengatakan "Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah". Beliau melakukan puasa selama 15 hari berturut-turut. Dan pada tahun 1376 H, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf wafat dalam usia 91 tahun. Jasad beliau dimakamkan di samping Masjid Agung Jami', Gresik, Jawa Timur, bersanding dengan makam Al-Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf.

Semoga  rahmat Allah senantiasa tercurahkan ke atas roh beliau, diampuni segala khilaf dan dosa-dosanya, dan ditempatkan beliau bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Fatihah....

Sumber: nurulmusthofa.org

Baca Selengkapnya »




Older Posts

Al-Habib Idrus bin Salim al-Jufri


Habib ldrus lahir di kota Taris, 4 km dari ibukota Seiwun, Hadramaut, pada 15 Sya'ban 1309 H bertepatan dengan 15 Maret 1892 M. Sayyid Idrus adalah putra keempat dari enam bersaudara, beliau berasal dari keluarga yang baik, berilmu, beramal, bertaqwa dan lemah lembut. Tiada dari kalangan mereka, selain ulama yang muslih dan da’i. Ayahnya, Habib Salim, adalah seorang ilmuwan dan tokoh yang memiliki banyak karangan dan tulisan dari berbagai bidang ilmu, ia memegang jabatan Qadhi dan Mufti di negerinya. Kakeknya, Habib Alwi, adalah pemimpin dan ilmuwan yang masyhur, termasuk lima ahli fiqh Hadramaut yang fatwa mereka termuat dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Abdurrahman al-Masyhur. Kakeknya yang kedua, Al-Habib Saqqaf di antara ulama yang terkenal dari dua faqih dan memegang jabatan Qadhi di Hadramaut. Ibunya, Syarifah Nur al-Jufri (Andi Syarifah Nur), mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Aru Matoa atau Raja yang dituakan di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Habib Idrus belajar ilmu agama dan bahasa bermula dari ayahnya, Al-Allamah al-Habib Salim bin Alwi al-Jufri, termasuk pula ulama-ulama lain yang berada di Hadramaut. Beliau hidup dan besar dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan senantiasa melazimi para ulama serta mengambil dan menimba ilmu dari sumber yang murni.

Habib Idrus seringkali diajak oleh ayahnya untuk menghadiri lingkaran studi majelis ta'lim di Taris dan Tarim. Pada usia 12 tahun, Habib Idrus mampu menghafal Al-Qur'an dan menguraikan dua ratus ayat dalam hal hukum Islam. Melihat potensi yang dimiliki Habib Idrus, ayah beliau, Al-Habib Salim melihat bahwa kelak anaknya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Habib ldrus kemudian mendalami berbagai llmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, tauhid, mantiq, ma'ani, bayan, badi', nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra.

Selain pada ayahnya, Habib ldrus juga berhasil menyelesaikan pendidikan formalnya pada lembaga perguruan tinggi Ar-Rabithul Alawiyah di Taris, dan banyak memiliki karya-karya dalam bentuk syair-syair berbahasa Arab. Pada usianya yang tergolong amat muda, kurang lebih berusia 19 tahun, ia telah menjadi seorang ulama yang terkenal di tanah airnya.

Habib Idrus juga belajar kepada para ulama dan auliya' di Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh al-Bahar, Al-Habib ldrus bin Umar al-Habsyi, dan Al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syathiri di Rubath Tarim.

Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib ldrus berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam bulan. Selama itu, Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak putranya berziarah kepada para ulama dan auliya' yang berada di Hijaz pada masa itu, untuk meminta berkah, do'a serta ijazah dari mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas al-Maliki al-Hasani di Mekkah. Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut.

Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan tahun 1916, ayahnya wafat. Habib Idrus kemudian memimpin lembaga pendidikan yang didirikan oleh ayahandanya. Dan pada tahun itu pula Habib ldrus diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, untuk menggantikan posisi ayahnya, padahal usianya saat itu baru 25 Tahun. Amanah dan pencapaian itu mengisyaratkan bahwa beliau adalah orang yang berilmu pengetahuan luas dan berwibawa. Walau jabatan sudah di tangan, Habib Idrus muda tak pernah silau dengan keduniawian. Ia tetap kritis terhadap lingkungan sosial di negerinya. Bahkan, ia rela melepas jabatan mufti ketika memilih jalan menentang imperialisme Inggris. Sikap itu pula yang kemudian membawanya datang untuk kali kedua ke Indonesia. Perjalanannya yang kedua di tahun 1922 terjadi akibat perjuangan politiknya untuk membebaskan negaranya dari penjajahan Inggris.

Perjalanannya ke Indonesia yang pertama kali ketika beliau berumur kurang lebih 17 tahun. Habib Salim membawa Habib ldrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya, Syarifah Nur aI-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib ldrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib ldrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Setibanya di Hadramaut, Habib ldrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau. Dan kemudian menikah dengan Syarifah Bahiyah dan dikaruniai tiga orang putra dan putri, yaitu Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan.

Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan lnggris. Beliau bersama sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah Assaqqaf, keduanya merupakan tokoh agama dan wakil dari para ulama lain yang memelopori perjuangan kemerdekaan, mereka membenci penjajah dan sekutunya serta suasana kacau yang berkembang di Hadramaut khususnya wilayah Arab sebelah Utara secara keseluruhan. Keduanya bersepakat untuk menyalakan api perlawanan terhadap penjajah dan sekutunya dan mereka adalah orang yang pertama kali menghidupkan api tersebut.

Mereka berpendapat bahwa berhubungan dengan negara-negara Arab yang merdeka dan dunia luar adalah sesuatu yang amat penting untuk mengubah keadaan di dalam negeri sekaligus memerdekakan negara secara total. Dengan mengemban tugas politik yang sangat berbahaya itu, Maka Habib Idrus menyusun suatu rencana untuk tujuan menjelaskan keadaan negerinya kepada masyarakat Arab  dan dunia secara keseluruhan dengan cara keluar melalui pelabuhan Aden selanjutnya ke Yaman dan Mesir. Beliau menyadari risiko yang dapat mengancam jiwanya, karena intelijen negara dan mata-mata pemerintahan Inggris terus memperhatikan gerak-geriknya terhadap langkah yang akan ditempuh nya akan tetapi perjalanan itu harus dilakukan. Rencana dan segala perlengkapan yang telah disiapkan dengan tepat dan matang serta penuh kehati-hatian tersebut, hampir membuahkan hasil jika tidak dibocorkan rahasianya oleh pengkhianat yang mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi. Beliau ditangkap tiba-tiba setelah sampai di pelabuhan Aden, kemudian dokumen-dokumen yang ada padanya dirampas serta mendapat larangan dari pemerintahan Inggris untuk keluar dari pelabuhan Aden untuk tujuan ke Negeri Arab akan tetapi diizinkan untuk kembali ke Hadramaut atau pergi ke Asia Tenggara. Maka beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia, sedangkan sahabatnya, Sayyid Abdurrahman bin Ubaidillah Assagaf, memilih kembali ke Mekkah.

Dalam buku Perguruan Islam Al-Khairaat dari Masa ke Masa yang disusun oleh Pengurus Besar Al-Khairaat disebutkan bahwa Indonesia bukan negeri asing dan baru bagi Sayyid Idrus, Ia pertama kali datang ke negeri ini pada saat berumur kurang lebih 17 tahun bersama ayahnya dengan maksud mengunjungi sanak keluarga yang berada di Pulau Jawa dan Sulawesi, Kunjungan keduanya pada tahun 1922 berkaitan erat dengan sikap dan perlawanannya yang keras terhadap imprealisme Inggris di negerinya, pilihan ke Indonesia tidak hanya melepaskan kerinduannya dengan kampung halaman neneknya, tetapi sekaligus menetap dan berkiprah untuk umat Islam di Indonesia.

Beliau masuk ke Indonesia dan menetap di Pekalongan untuk beberapa waktu lamanya dan menikah dengan pasangan hidupnya, Syarifah Aminah binti Thalib al-Jufri dan bersama menikmati pahit manisnya kehidupan. Ketika itu beliau berdagang kain batik tetapi tidak mendapat kemajuan karena cintanya kepada dunia pendidikan melebihi dari segala-galanya. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu' dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu' kemudian menikah dengan Sayyid Seggaf bin Syekh al-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr. H. Salim Seggaf al-Jufri, Menteri Sosial Indonesia ke-26 dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman periode 2005-2009. Habib Idrus kemudian meninggalkan perdagangan dan beliau pindah ke Solo.

Di Solo, dengan dibantu oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad (mantan muridnya di Hadramaut) yang sudah lama mukim di Solo, mewujudkan niatnya untuk mendirikan madrasah yang diberi nama “Perguruan Ar-Rabithah Alawiyah". Beliau dilantik sebagai Guru dan Kepala Sekolah di Madrasah Rabithah Al-Alawiyyah.

Pada tahun 1926, beliau pindah ke kota Jombang. Habib Idrus berkenalan dengan beberapa tokoh Islam di antaranya KH. Hasjim Asy'ari pendiri organisasi Nahdlatul 'Ulama (NU) di Jombang yang juga pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng. Pertemuan kedua tokoh ini menjalin persahabatan yang sangat baik, karena keduanya sama-sama pimpinan agama, terutama karena keduanya mempunyai ikatan pemahaman yang sama yakni sebagai penganut paham Imam Syafi’i (Ahlussunnah wal-Jama'ah).

Kemudian beliau memulai perjalanannya ke Timur Indonesia untuk memberi petunjuk dan berdakwah di jalan Allah. Antara lain di Maluku dan menetap untuk beberapa bulan lamanya sambil melakukan lawatan dan dakwah bebeberapa wilayah kecamatan seperti Bacan, Jailolo, Morotai, Patani, Weda, Kayoa dan sebagainya, selanjutnya ke Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Irian Barat. Beliau kemudian berlayar menuju Manado, atas ajakan kakak beliau, Habib Alwi bin Salim al-Jufri yang berada di Manado. Ketika kapalnya singgah bersama rombongan menginjakkan kaki pertama di Pelabuhan Wani, Kabupaten Donggala, pada 1929, Habib ldrus menggunakan kesempatan itu untuk berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syeikh Nasar bin Khams al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan madrasah di kota Palu.

Setibanya di Manado, Habib ldrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat Arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh masyarakat Arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib ldrus yang akan mengusahakannya.

Pada tahun 1930 M Guru Tua pun pindah ke Kota Palu yang kala itu bernama "Celebes" pada masa penjajahan Belanda, setelah mendapat undangan dari beberapa tokoh bangsa Arab di Palu dan Wani yakni Ibrahim bin Zain, Sayyid Muhammad bin Muhsin Rifai dan Sayyid Ahmad bin Ali al-Muhdhar di Wani Kecamatan Tawaeli. Kehadiran Guru Tua di Wani merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang ingin mengenal Islam lebih baik, menggunakan ruangan Toko Haji Quraisy di Kampung Ujuna sebagai ruangan belajar mengajar dan kemudian pindah ke rumah almarhum Haji Daeng Maroca di Kampung Baru (depan Masjid Jami' Kampung Baru).

Rupanya di Palu inilah memberikan inspirasi yang kuat untuk tinggal dan menetap dalam rangka melakukan dakwahnya setelah menyaksikan keadaan masyarakat yang masih sangat terbelakang dalam pemahaman ajaran Islam. Pemerintah Belanda yang saat itu menduduki Donggala tidak memberikan izin pendirian madrasah karena dianggap bisa memengaruhi pemikiran rakyat saat itu, sebagian pengikut Guru Tua di Wani dituduh terlibat pemberontakan Salumpaga di Tolitoli. Guru Tua akhirnya mendirikan sekolah di Palu, sekitar 30 km dari Wani. Madrasah tersebut bernama Al-Khairaat..Dan pada tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus perizinan pendirian dan surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka diresmikanlah Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu. Kepindahan perguruan Al-Khairaat ke Palu tidak serta merta bebas dari pengawasan Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda dikabarkan juga sempat melarang Perguruan Al-Khariraat karena ajaran Guru Tua, khususnya yang bersumber dari kitab Izhatun Nasyi’in, karya Musthafa al-Ghalayani.

Salah satu strategi yang digunakan agar cepat diterima masyarakat Palu, Sayyid Idrus menerima saran dari beberapa tokoh masyarakat, Guru Tua pun memutuskan untuk menikahi salah seorang bangsawan Puteri Kaili yang juga merupakan sosok perempuan yang sangat berperan dalam pengembangan Yayasan Al-Khairaat Pusat. Dengan ketetapan hati dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, pada tahun 1931 M Guru Tua pun menikahi Intje Ami Dg.Sute. Dari perkawinan ini beliau dikaruniai dua orang puteri, Syarifah Sidah al-Jufri dan Syarifah Sa’diyah al-Jufri.

Habib ldrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah AI-Khairaat dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para murid-murid AI-Khairaat menyebar di seluruh kawasan Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah satu murid beliau yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustadz Abdullah Awadh Abdun, yang hijrah dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota Malang.

Tahun 1968, Habib Idrus mengalami sakit parah, selama delapan bulan ia meminum jus kurma. Walaupun dalam keadaan sakit, ia tetap menjalankan majelis mengajar setiap waktu. Masih dalam suasana ldul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib ldrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan Sastrawan itu wafat, pada hari Senin, 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib ldrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca talqin di kubur.

Habib ldrus telah mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam mengarungi perjalanan panjang dengan berbagai sarana ke kepulauan di sekitar Sulawesi dan Muluku untuk menyiarkan pengetahuan Islam. Beliau berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain menggunakan perahu sampan, gerobak sapi dan kendaraan lainnya bahkan dengan berjalan kaki dengan bermacam risiko, tantangan dan bahaya yang selalu mengancam di setiap saat. Akan tetapi Habib ldrus selalu merasakan kenikmatan di antara pertaruhan jiwanya dan beliau rela memberikan apa saja meski jiwanya sekalipun. Ketabahannya dalam mengarungi pelayaran itu sampai berbulan-bulan lamanya. Dan kadang-kadang perjalanan itu di tempuh dengan berjalan kaki jika tidak mendapatkan alat-alat transportasi.

Hingga akhir hayatnya, Sayyid Idrus berhasil membangun 420 madrasah yang tersebar di seluruh wilayah Palu.

Semoga  rahmat Allah senantiasa tercurahkan ke atas roh beliau, diampuni segala khilaf dan dosa-dosanya, dan ditempatkan beliau bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Fatihah....

Sumber: wikipedia.org

Baca Selengkapnya »




Older Posts

Manakib Habib Ali Kwitang


Al-Habib Ali bin Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad (Shohib Syi’ib) Al-Habsyi adalah putera dari Al-Habib Abdurrahman al-Habsyi. Ayah beliau tinggal di Jakarta. Ibunda beliau yaitu Nyai Salmah berasal dari Jatinegara, Jakarta Timur. Dalam perkawinannya dengan Al-Habib Abdurrahman al-Habsyi lama sekali tidak memperoleh seorang putera pun. Pada suatu ketika Nyai Salmah bermimpi menggali sumur dan sumur tersebut airnya melimpah-limpah hingga membanjiri sekelilingnya. Lalu diceritakanlah mimpinya itu kepada suaminya. Mendengar mimpi istrinya, Al-Habib Abdurrahman segera menemui Al-Habib Syeikh bin Ahmad Bafaqih untuk menceritakan dan menanyakan perihal mimpi istrinya tersebut. Lalu Al-Habib Syeikh menerangkan tentang perihal mimpi tersebut bahwa Nyai Salmah istri Al-Habib Abdurrahman akan mendapatkan seorang putra yang saleh dan ilmunya akan melimpah-limpah keberkatannya.

Apa yang dikemukakan oleh Al-Habib Syeikh itu tidak berapa lama menjadi kenyataan. Nyai Salmah mengandung dan pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil ‘Awwal 1286 bertepatan tanggal 20 April 1870 lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Ali bin Abdurrahman al-Habsyi.

Al-Habib Abdurrahman al-Habsyi tidak lama hidup mendampingi putra yang beliau cintai tersebut. Beliau berpulang ke rahmatullah ketika putra beliau masih berumur 10 tahun. Tetapi sebelum beliau wafat, beliau sempat menyampaikan suatu wasiat kepada istrinya agar putra beliau hendaknya dikirim ke Hadramaut dan Makkah untuk belajar ilmu agama Islam di tempat-tempat tersebut.

Untuk memenuhi wasiat suaminya, Nyai Salmah menjual gelang satu-satunya perhiasan yang dimilikinya untuk biaya perjalanan Habib Ali al-Habsyi ke Hadramaut dan Makkah. Karena di waktu wafatnya Al-Habib Abdurrahman al-Habsyi tidak meninggalkan harta benda apapun. Dalam usia 10 tahun berangkatlah Al-Habib Ali al-Habsyi dari Jakarta menuju Hadramaut, dengan bekal sekedar ongkos tiket kapal laut sampai di tempat yang dituju.

Sesampainya di Hadramaut, Al-Habib Ali sebagai seorang anak yang sholeh, tidak mensia-siakan masa mudanya yang berharga itu untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, sambil mencari rizki yang halal untuk bekal hidup beliau selama menuntut ilmu di tempat yang jauh dari ibunya. Sebab beliau menyadari bahwa ibunya tidak mampu untuk mengirimkan uang kepada beliau selama menuntut ilmu di luar negeri tersebut.

Diantara pekerjaan beliau selama di Hadramaut dalam mencari rizki yang halal untuk bekal menuntut ilmu ialah mengambil upah menggembala kambing. Pekerjaan menggembala kambing ini rupanya telah menjadi kebiasaan kebanyakan para sholihin, terutama para Anbiya’. begitulah hikmah Ilahi dalam mendidik orang-orang besar yang akan diberikan tugas memimpin umat ini.

Di antara guru-guru beliau yang banyak memberikan pelajaran dan mendidik beliau selama di Hadramaut ialah berguru kepada para ulama dan auliya’, diantaranya :
  1. Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi
  2. Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas
  3. Al-Habib Hasan bin Ahmad al-'Aydrus
  4. Al-Habib Zein bin Alwi Ba’bud
  5. Asy-Syeikh Hasan bin Awadh bin Mukhaddam

Setelah belajar di Hadramaut, beliau melanjutkan pelajaran di Tanah Suci Makkah, di bawah didikan ulama-ulama besar di sana, diantaranya Mufti Makkah Al-Imam Muhammad bin Husin al-Habsyi, Sayyid Bakri Sa’ta, Asy-Syeikh Muhammad Said Babsail, Asy-Syeikh Umar Hamdan dan lain-lain.

Selain itu Al-Habib Ali menghadiri majelis ilmu Al-Habib Abdurahman bin Muhammad al-Masyhur mufti Al-Diyar Al-Hadramiyah, Al-Habib Umar bin Idrus bin Alwi al-'Aydrus serta Al-Habib Alwi bin Abdurahman al-Masyhur. Pada tahun 1300 H. menghadiri majelis Maulid yang diselenggarakan oleh Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Pada saat itu hadir pula Al-Habib al-Quthub Ahmad bin Muhammad al-Muhdhor beserta anak-anaknya.

Berkat do'a ibu dan ayah beliau, juga berkat doa para datuk-datuk beliau, terutama datuk beliau Rasullulloh shallallahu 'alaihi wasallam, dalam masa 6,5 tahun belajar di luar negeri Al-Habib Ali telah memperoleh ilmu Islam yang murni, luas dan mendalam yang dibawanya kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1303 H, Al-Habib Ali pulang ke tanah air setelah bermukim selama 6 tahun. Ketika berada di Indonesia, umur beliau 16 tahun dan melanjutkan belajar kepada :
  1. Al-Habib Usman bin Abdullah bin Yahya
  2. KH.Abdul Hamid, Jatinegara
  3. KH.Mujtaba bin Ahmad, Jatinegara
  4. Al-Habib Muhammad bin Alwi al-Shulaibiyah al-'Aydrus
  5. Al-Habib Salim bin Abdurahman al-Jufri
  6. Al-Habib Husin bin Muchsin al-Atthas
  7. Al-Habib Abdullah bin Muchsin al-Atthas, Bogor
  8. Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas, Pekalongan
  9. Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor, Bondowoso
  10. Al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi
  11. Al-Habib Ahmad bin Muchsin al-Hadar, Bangil

Dan mulailah beliau menjalankan dakwahnya, mengajak umat Islam untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam yang suci dengan dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam.

Selain di pengajian tetap di majlis ta’lim Kwitang yang diadakan setiap hari Minggu pagi sejak kurang lebih 70 tahun yang lalu hingga sekarang dengan kunjungan umat Islam yang berpuluh-puluh ribu, beliau juga aktif menjalankan dakwah di lain-lain tempat di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke desa-desa yang terpencil di lereng-lereng gunung. Selain itu Al-Habib Ali al-Habsyi juga berdakwah ke Singapura dan Malaysia.

Beliau selain ahli dalam menyampaikan dakwah ilallah, beliau juga terkenal dengan akhlaknya yang tinggi, baik terhadap kawan maupun terhadap orang yang tidak suka kepadanya. Semuanya dihadapinya dengan ramah-tamah dan sopan santun yang tinggi. Terlebih lagi khidmat beliau terhadap ibunya adalah sangat luar biasa. Dalam melakukan rasa bakti kepada ibunya sedemikian ikhlas dan tawadhu’nya, sehingga tidak pernah beliau membantah perintah ibunya. Biarpun beliau sedang berada di tempat yang jauh, misalnya sewaktu beliau sedang berdakwah di Surabaya ataupun di Singapura, bila beliau menerima telegram panggilan dari ibunya, segera beliau pulang secepat-cepatnya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan ibunya tersebut.

Maka tidak heran apabila ilmu beliau sangat berkat, dan dakwah beliau dimana-mana mendapat sambutan yang menggembirakan. Setiap orang yang jumpa dengan beliau, apalagi sampai mendengarkan pidatonya, pastilah akan tertarik. Terutama di saat beliau mentalqinkan dzikir atau membaca shalawat dengan suara mengharukan, disertai tetesan air mata, maka segenap yang hadir turut meneteskan air mata. Dan yang demikian itu tidak mungkin jika tidak dikarenakan keluar dari hati yang ikhlas, hati yang disinari oleh nur iman dan nur mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam.

Harumnya nama Al-Habib Ali menjadi pembicaraan ramai. Kemasyhurannya tersebut sampai dibuatkan syair oleh beberapa pujangga di antaranya : Al-Habib Muhamnmad al-Muhdor, Sayyid Ahmad Assaqaf, Syeikh Fadhil Irfan, Sholeh bin Ali al-Hamid, Toha bin Abu Bakar Assaqaf dan Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani pun memasukkan nama Habib Ali dalam kitabnya yang bernama Jami’ Karamat Al-Auliya juz 2 halaman 362.

Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Minggu tanggal 20 Rajab 1388 bertepatan dengan 13 Oktober 1968, di tempat kediaman beliau di Kwitang Jakarta, dalam usia 102 tahun menurut Hijriyah atau usia 98 tahun menurut perhitungan Masehi.

Semoga  rahmat Allah senantiasa tercurahkan ke atas roh beliau, diampuni segala khilaf dan dosa-dosanya, dan ditempatkan beliau bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Fatihah....

Sumber: habibkwitang.wordpress.com

Baca Selengkapnya »




Older Posts

17 Habaib Paling Berpengaruh di Indonesia


Di Indonesia, gelar habib tidak sembarangan dinisbatkan pada semua orang, karena harus tinggi tingkat keilmuannya dan harus jelas nasabnya. Inilah 17 habib paling berpengaruh di Indonesia:

  • Habib Husein bin Abubakar al-/Aydrus, Luar Batang, Jakarta
  • Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas, Pekalongan
  • Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, Empang, Bogor
  • Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya
  • Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor, Bondowoso
  • Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Gresik
  • Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang, Jakarta
  • Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir al-Haddad, Bogor
  • Habib Husein bin Muhammad bin Thohir al-Haddad, Jombang
  • Habib Jakfar bin Syaikhan Assegaf, Pasuruan
  • Habib Ali bin Husein al-Atthas, Jakarta
  • Habib Idrus bin Salim al-Jufri, Sulawesi Tengah
  • Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, Darul Hadis, Malang
  • Habib Muhammad bin Husein al-'Aydrus, Surabaya
  • Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Jakarta
  • Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid, Tanggul, Jember
  • Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Mekkah, Saudi Arabia

  • Sumber: pondokhabib.wordpress.com


    Baca Selengkapnya »

    Older Posts

    Al-Arifin Billah al-Habib Ali bin Husein al-Atthas (Habib Ali Bungur)


    Al-Habib Ali bin Husein al-Atthas atau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Bungur lahir di Huraidhah, Hadhramaut, 1 Muharram 1309 H atau sekitar 1891 M. Beliau hidup dalam keluarga yang sangat taat beragama dan menjunjung tinggi tradisi para shalafunassalihin dari kalangan Ba'alawi. Pendidikan pertama kali Beliau dapatkan dari kedua orangtuanya. Saat usia 6 tahun telah hafal 30 Juzz Al-Qur'an di tangan Ibundanya, dan pada usia 12 tahun sudah hafal Kitab Shahih Bukhari dan Muslim serta kitab-kitab lain seperti : Minhaj, Bahjah, Tuhfah dan Fatawa Qubro. Semenjak usia 6 tahun beliau belajar berbagai ilmu keislaman pada para ulama dan 'auliya yang hidup di Hadhramaut saat itu.

    Setelah menempuh pendidikan belasan tahun, pada tahun 1912 dalam usia 21 tahun, Habib Ali pun menunaikan ibadah haji di Makkah, serta berziarah ke makam datuknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Habib Ali menetap selama lima tahun di Makkah, yang waktunya dihabiskan untuk menuntut ilmu pada sejumlah ulama, yang berada di Hijaz. Pada tahun 1917, beliau kembali ke Huraidhah, dan mengajar di kota yang banyak memiliki pesantren itu, selama tiga tahun..

    Pada 1920, dalam usia 29 tahun, Habib Ali berangkat ke Jakarta. Hanya dalam waktu singkat, almarhum yang selalu dekat dengan rakyat itu, telah dapat menguasai bahasa Indonesia. Beliau mula-mula tinggal di Cikini, berdekatan dengan Masjid Cikini, yang dibangun oleh pelukis Raden Saleh. Ia dengan cepat dapat menarik perhatian masyarakat setempat. Setelah menetap di Jakarta, beliau berguru kepada para ulama yang berada di tanah air, di antaranya :
    • Al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas (Empang-Bogor)
    • Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Atthas (Pekalongan)
    • Al-Habib Muhammad bin Idrus Aa-Habsyi (Surabaya)
    • Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor (Bondowoso)

    Semasa hidupnya, Habib Ali tidak pernah berhenti dan tak kenal lelah dalam berdakwah. Salah satu karya terbesarnya adalah kitab Tajul A’ras fi Manaqib al-Quthub al-Habib Sholeh bin Abdullah al-Atthas, sebuah kitab sejarah para ulama Hadhramaut yang pernah beliau jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadhramaut, hingga sekilas perjalanan para ulama Hadramaut di Indonesia dan juga buku itu juga berisi tentang beberapa kandungan ilmu tasawuf dan Thariqah Alawiyah.

    Habib yang dikenal sebagai guru dari sejumlah ulama terkemuka di Betawi itu, pada masa hidupnya dikenal sebagai ulama ahli dalam bidang fikih, falsafah, tasawuf, dan perbandingan madzhab. Menguasai berbagai kitab kuning dari berbagai madzhab, Habib Ali al-Atthas, selama 56 tahun telah mengabdikan diri untuk perjuangan agama. Bukan saja di Indonesia, juga di Malaysia dan Singapura, banyak muridnya.

    Al-Habib Ali bin Husin al-Atthas semasa hidupnya tak pernah berhenti memberikan pengajaran kepada Muslimin. Dengan jubah dan serban serta selempang hijau (radi), Habib Ali Cikini selalu naik becak atau kendaraan umum, karena sikap beliau yang ingin berdiri di atas kaki sendiri. Sering di antara murid-muridnya memaksa beliau untuk menaiki mobilnya karena becak telah sukar dan melihat umur Habib Ali sudah lanjut. Haji Abu Bakar Aceh, anggota MPR, secara tepat menyatakan bahwa almarhum Habib Ali bin Husin al-Atthas telah memanifestasikan sikap hidup keluarga Ahlil Bait, yakni menunjukkan sikap kerakyatan, tidak berlebihan dan dicintai Rakyat semuanya.

    Sekitar tahun 1940 Jakarta atau dulu disebut Betawi punya banyak tokoh ulama dan pejuang dan yang paling menjadi panutan dan memiliki banyak murid yang tersebar di tanah air adalah Habib Ali bin Abdurrahman al Habsyi (Habib Ali Kwitang), Habib Ali bin Husen al-Atthas dan Habib Salim bin Jindan. Tiga Serangkai (triumvirat) Ulama tersebut yang dengan gencar memperjuangkan syiar-syiar agama Ijlam. Habib Salim bin Jindan mengatakan bahwa Al-Habib Ali bin Husein al-Atthas dan Al-Habib Ali Kwitang bagaikan kedua bola matanya, dikarenakan keluasan khazanah keilmuan kedua habib itu.

    Al-Habib Ali bin Husin al-Atthas wafat pada tanggal 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi dam usia 88 tahun dan dimakamkan di pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.

    Semoga  rahmat Allah senantiasa tercurahkan ke atas roh beliau, diampuni segala khilaf dan dosa-dosanya, dan ditempatkan beliau bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Fatihah....

    Baca Selengkapnya »




    Older Posts
    Subscribe to: Posts (Atom)

    Adnow Ads

    loading...

    Post Terbaru

    Translate

    SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

    قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


    Daftar Pondok Pesantren
    se-Indonesia


    Subscribe To

    Posts
    Atom
    Posts
    All Comments
    Atom
    All Comments

    Sparkline


    guest counter
    Flag Counter

    Adnow1

    loading...

    Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



    Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
    di Kota Anda.


    Post Populer

    • SHALAWAT TIBBIL QULUB
      اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
    • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
      FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
    • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
      ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
    • JADILAH ORANG 'ALIM
      قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
    • Nadham Aqidatul Awam
      Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

    Post Lainnya




    Cari Post Lainnya

    Kategori

    Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

    Blog Archive

    Report Abuse