Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Nurul Qur'an
Showing posts with label Nurul Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Nurul Qur'an. Show all posts

Bacaan Surat Al-Kahfi Ayat 1-10


Surat Al-Kahfi adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang terletak di bagian akhir juz 15 dan di awal juz 16. Surat Al Kahfi ini termasuk surat Makiyyah, atau surat yang diturunkan di kota Makkah. Surat Al-Kahfi berjumlah 110 ayat dan menempati urutan ke 18 dari 114 surat yang ada dalam Al-Qur’an.

Surat Al-Kahfi memiliki berbagai keutamaan yang bisa diperoleh bahkan disunnahkan untuk tiap Jum'at untuk membacanya. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Ashaab berkata disunnahkan membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at dan malam Jum'atnya.” (Al-Majmu’, 4: 295).

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809)


Berikut ini Bacaan Surat Al-Kahfi Ayat 1-10 dan Terjemahannya 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلحَمدُ لِلّٰهِ الَّذيْٓ اَنزَلَ عَلىٰ عَبدِهِ الْكِتٰبَ وَلَم يَجعَلْ لَهٗ عِوَجًا ۜ ١
Alhamdu lillaahil lazeee anzala 'alaa 'abdihil kitaaba wa lam yaj'al lahoo 'iwajaa

1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok,*

قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَديْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذيْنَ يَعمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًا ۙ٢
Qaiyimal liyunzira baasan shadeedam mil ladunhu wa yubashshiral mu'mineenal lazeena ya'maloonas saalihaati anna lahum ajran hasanaa

2. sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik,

مَّاكِثيْنَ فيْهِ اَبَدًا ۙ٣
Maakiseena feehi abadaa

3. mereka kekal di dalamnya untuk selama lamanya.

وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا ۖ٤
Wa yunziral lazeena qaalut takhazal laahu waladaa

4. Dan Dia memperingatkan kepada orang yang berkata, "Allah mengambil seorang anak."

مَّا لَهُم بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَالِاٰبَآئِهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْ ۗ اِنْ يَّقوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا ٥
Maa lahum bihee min 'ilminw wa laa li aabaaa'ihim; kaburat kalimatan takhruju min afwaahihim; iny yaqooloona illaa kazibaa

5. Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا ٦
Fala'allaka baakhi'un nafsaka 'alaaa aasaarihim illam yu;minoo bihaazal hadeesi asafaa

6. Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an).

اِنّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ٧
Innaa ja'alnaa ma 'alal ardi zeenatal lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaa

7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.

وَاِنّا لَجٰعِلوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًا ۗ٨
Wa innaa lajaa 'iloona maa 'alaihaa sa'aeedan juruzaa

8. Dan Kami benar benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.

اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا ٩
Am hasibta anna Ashaabal Kahfi war Raqeemi kaanoo min Aayaatinaa 'ajabaa

9. Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim* itu, termasuk tanda tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?

اِذْ اَوَى الفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا ١٠
Iz awal fityatu ilal Kahfi faqaaloo Rabbanaaa aatinaa mil ladunka rahmatanw wa haiyi' lanaa min amrinaa rashadaa

10. (Ingatlah) ketika pemuda pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berkata, "Ya, Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami."


Baca Selengkapnya »


Older Posts

TADABBUR SURAH AL-FATIHAH


------------- TADABBUR AL-QUR'AN -------------

SURAH AL-FATIHAH

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Ya Allah dengan menyebut nama-Mu yang Maha Pengasih, penuh cinta kasih. Dengan menyebut nama-Mu yang Maha Penyayang penuh kasih sayang. Engkau sungguh-sungguh Maha Pengasih, penuh cinta kasih. Engkau sungguh sungguh Maha Penyayang penuh kasih sayang.Ya Allah, cinta kasih-Mu, kasih sayang-Mu meliputi seluruh langit dan bumi ya Allah. Cinta kasih-Mu, kasih sayang-Mu meliputi seluruh alam semesta ya Allah. Kami mohon limpahan rahmat dan kasih sayang-Mu ya Allah. Jadikan kami dalam naungan kasih sayang-Mu ya Allah.Beri kami rasa aman nyaman dalam naungan kasih-Mu ya Allah. Jangan kau jadikan kami hidup dalam kebencian, kedengkian, kemarahan dan kekalutan di antara sesama kami. Jadikan kami dalam naungan kasih-Mu ya Allah, jadikan kami dalam naungan kasih sayang-Mu ya Allah, jadikan kami dalam naungan cinta kasih-Mu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. Engkaulah sebaiki baik yang memperkenankan do'a.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi-Mu ya Allah Tuhan yang berkuasa penuh di segala penjuru langit dan bumi. Segala puji bagi-Mu ya Allah Penguasa alam semesta raya. Segala puji bagi-Mu ya Allah yang telah menempatkan kami di bumi ini, yang telah menjadikan bagi kami berbagai sumber penghidupan, yang telah mencukupkan semua hajat dan kebutuhan kami. Segala puji bagi-Mu ya Allah yang telah menurunkan hujan dari langit, yang menumbuhkan berbagai tumbu-tumbuhan, sayur mayur dan buah buahan untuk keperluan kami. Segala puji bagi-Mu ya Allah yang telah mengadakan bagi kami gedung gedung yang tinggi, jalan yang terhampar luas, kendaraan yang mengangkut kami kemana saja yang kami suka. Tolong kami untuk mensyukuri semua nikmat yang telah kau berikan kepada kami ini ya Allah. Jangan Kau jadikan kami orang yang kufur tidak tahu berterimakasih pada-Mu. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Alllah.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Ya Allah Engkau yang Maha Pengasih penuh cinta kasih, Engkau yang Maha Penyayang penuh kasih sayang. Kami mohon jadikan kami dalam naungan kasih sayang-Mu. Jadikan kami dalam naungan cinta kasih-Mu. Hilangkan kebencian, kedengkian, kemaraahan, dan berbagai prasangka buruk dari dalam hati kami ya Allah. Jadikan kami saling mengasihi dan menyayangi dengan sesama kami ya Allah. Jadikan bagi kami rasa kasih sayang dan saling mencintai di dalam rumah tangga kami, dalam kami bergaul dengan sesama kami, dalam kami bertetangga, dalam hubungan kami bersaudara kakak, adik, ibu, bapak, paman, bibi dan saudara kami yang lainnya. Ya Allah jangan kau jadikan kebencian, saling curiga, kedengkian, salah faham dan kemarahan di antara sesama kami, yang menimbulkan kekalutan, kekacauan dan kepanikan dalam hidup kami ya Allah. Satukan hati kami dalam cinta dan kasih sayang-Mu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini , Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan do'a.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Ya Allah Engkaulah yang berkuasa penuh di hari berbangkit. Engkaulah Penguasa tunggal di hari itu. Di hari yang tiada berguna harta dan anak-anak, di hari yang tiada menolong sanak famili, di hari yang tiada berguna pangkat dan jabatan. Tidak ada tempat berlindung di hari itu selain lindungan-Mu, tidak ada tempat bernaung di hari itu selain naungan-Mu. Jangan Kau hinakan kami di hari itu ya Allah, jadikan kami dalam naungan dan lindungan-Mu. Ampuni semua dosa dan kesalahan kami di hari itu ya Allah. Tempatkan kami pada tempat yang mulia di sisi-Mu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan do'a.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Engkaulah Tuhan kami, tidak ada yang kami sembah selain Engkau. Hanya pada-Mu kami rukuk dan sujud. Hanya pada-Mu kami mengabdikan seluruh hidup kami. Hanya pada-Mu kami mohon pertolongan dan perlindungan. Engkaulah tempat kami menggantungkan harapan kami. Tolong kami menghadapi berbagai masalah yang hadir di hadapan kami. Tolong kami dengan kekuatan yang dahsyat dari sisi-Mu. Engkaulah tempat kami mengadu dan menggantungkan semua harapan kami. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Ya Allah, tunjuki kami jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan rahmat dan berkah-Mu. Bimbing kami, tuntun kami menempuh jalan-Mu yang lurus ya Allah.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّين

Yaitu jalan orang-orang yang telah mendapat nikmat dari-Mu, bukan jalan orang yang Kau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat. Ya Allah tunjuki kami jalan yang lurus, jalan yang ditempuh oleh para Nabi, para Rasul, para sholihin, para shodiqin. Bukan jalan orang yang Kau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat. Bukan jalan orang yang maksiat dan bergelimang dosa. Bukan jalan orang yang kufur dan terus menerus menentang-Mu. Tunjuki kami jalan yang lurus dan penuh dengan rahmat dan berkah-Mu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan do'a.

Aamiin....

Baca Selengkapnya »

Older Posts

KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS YANG MENAKJUBKAN


Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.

Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ dihampiri oleh Malaikat Jibril.

Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”

“Ya Rasulullah, matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya.” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah ﷺ bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?”

“Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat.” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah ﷺ bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi matahari?”

Kemudian Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.”

“Siapakah dia, wahai Jibril?” tanya Rasulullah ﷺ .

“Dialah Muawiyah…!!!” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah ﷺ bertanya lagi : “Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?”

Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca surat Al-Ikhlas.”

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala‎ mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut.”

(Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

Rasulullah ﷺ bersabda, ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur’an?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 1922)

[Madrasah Rasulullah]

Baca Selengkapnya »


Older Posts

KEUTAMAAN SURAT YASIN


✅ Membaca Surat Yasin di Malam Hari

مَنْ قَرَأَ يس فِيْ لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ

Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridhoan Allah maka diampuni dosa-dosanya.” (HR. At-Thabrani/145, 418 dan Al-Baihaqi/2360, 2361 dari Abu Hurairah, Ad-Darimi/3478 dari Hasan, Dishahihkan oleh Ibnu Hibban/2626)

مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يس كُلَّ لَيْلَةٍ ، ثُمَّ مَاتَ ، مَاتَ شَهِيْدًا

“Siapa yang membiasakan membaca Yasin setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan syahid.” (HR. Ath-Thabrani/7217 dari Anas bin Malik)

Pembacaan surat Yasin lebih dianjurkan untuk dibaca pada setiap malam agar mendapat keutamaan yang lebih besar. Namun, bukan berarti masyarakat yang membacanya khusus di satu malam tertentu itu amalan yang tidak baik. Bahkan, itu lebih baik daripada orang yang tidak pernah membacanya di malam hari dengan mengharap pahala dari Allah.

✅ Membaca Surat Yasin bagi Orang yang Meninggal Dunia

اِقْرَءُوْا عَلَى مَوْتاَكُمْ يس

Diriwayatkan dari Ma’qol bin Yasar, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Bacalah untuk orang mati di antara kamu, surat Yasin” (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Hibban/3064, juga diriwayatkan oleh Abu Daud/2714, Ibnu Majah/1438, Ahmad/19416, 19427, Nasai/10913, Alhakim/2028, At-Thabrani/16904, Al-Baihaqi/2356, 8930)

Mengenai kapankah kita harus membacanya, ulama menjelaskan bahwa boleh ketika si mayyit itu sekarat maupun sudah meninggal. Yang lebih baik lagi, dibacakan pada kedua waktu tersebut, sebelum dan sesudah meninggalnya mayyit. Dalam kitab At-Taysiir, Al-Munawi berkata:

وفي رواية ذكرها ابن القيم عند ( موتاكم ) أي من حضره الموت من المسلمين لأنّ الميت لا يقرأ عليه

“..dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud “mautaakum” adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayyit tidak perlu lagi dibacakan.” Kemudian beliau mengatakan:

أو المراد اقرؤها عليه بعد موته والأولى الجمع

“Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah digabungkan.”

Terdapat sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal - semoga Allah meridhoinya - mengenai keutamaan membaca surat Yasin bagi orang yang sekarat.

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِينَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ

“Telah menceritakan kepada kami, Abu Mughirah, telah menceritakan kepada kami Sofwan, telah menceritakan kepadaku para guru sesungguhnya mereka menghadiri Ghudaif bin Al-Harits ats-Tsumali ketika sekarat maka berkatalah : Siapa seorang diantara kalian yang mau membaca Yasin? - lalu Shafwan (periwayat hadits) berkata-: maka Sholeh bin Syurekh as-Sakuni membaca surat Yasin tersebut, dan ketika bacaannya sampai ke-ayat 40, ternyata Ghudaif meninggal dunia. Shafwan berkata: Bahwasannya para guru mereka berkata, apabila dibacakan Yasin di sisi orang mati maka diringankan (pencabutan nyawa) darinya berkat bacaan Yasin tersebut. Berkata Shafwan : Dan Isa bin Mu’tamir telah membaca Yasin di sisi Ibnu Ma’bad” (HR. Ahmad/16355)

وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

Baca Selengkapnya »

Older Posts

JADIKANLAH AL-QUR'AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP KITA


فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaahaa : 123)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas. (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49)

عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ لأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ : أَوْصِنِي ، قَالَ : اتَّخِذْ كِتَابَ اللَّهِ إِمَامًا ، وَارْضَ بِهِ قَاضِيًا وَحَكَمًا ، فَإِنَّهُ الَّذِي اسْتَخْلَفَ فِيكُمْ رَسُولَكُمْ ، شَفِيعٌ مُطَاعٌ ، وَشَاهِدٌ لا يُتَّهَمُ ، فِيهِ ذِكْرُكُمْ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلَكُمْ ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ ، وَخَبَرَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ

Dari Abu al-Aliyah, ia berkata: Ada seseorang berkata kepada Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu (seorang sahabat Nabi): “Berilah aku wasiat !” Ubay menjawab: “Jadikan Kitabullah (Al-Qur'an Al-Karim) sebagai imam (yaitu petunjuk dan pedoman hidup), dan ridhalah terhadap hukum yang diputuskan Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an-lah yang menjadikan Rasul kalian menguasai kalian. Al-Qur’an memberikan syafa'at (bagi yang membaca dan mengamalkannya). Al-Qur’an adalah kitab yang ditaati dan saksi yang terpercaya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan (kemuliaan dan kejayaan) kalian dan orang-orang sebelum kalian. Al-Qur’an adalah pemutus perselisihan di antara kalian. Dan Al-Qur’an adalah kisah tentang kalian dan orang-orang sesudah kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Hilyatul Auliya' I/253, dan Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala' I/392).

Baca Selengkapnya »

Older Posts

NAMA LAIN DARI AL-QUR'AN


Al-Quran Al-Karim adalah Kalamullah yang mulia, jalan-Nya yang lurus, yang diturunkan kepada penutup para Nabi. Kemuliaan Al-Qur'an ditandai dengan banyaknya nama lain dari Al-Qur'an. Sebagaimana menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Tahdzibul Asma’, “Dan ketahuilah bahwa banyaknya nama itu menunjukkan akan kemuliaan sesuatu yang dinamakan tersebut, sebagaimana nama-nama Allah dan nama-nama Rasul-Nya.”

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Syeikh Majdiddiin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Aabadi dalam kitab Bashaair Dzawi at Tamyiiz fii Lathaaif al-Kitab al-Aziiz, “Ketahuilah bahwa banyaknya nama menunjukkan kemuliaan sesuatu yang dinamakan, atau kesempurnaannya dalam suatu persoalan. Sebagaimana banyaknya nama bagi Singa menunjukkan sempurna kekuataannya, dan banyaknya nama bagi Hari Kiamat menggambarkan akan sempurna kepedihan dan kesulitannya, banyaknya nama bagi waktu menunjukkan tajamnya, begitu pula banyaknya nama Allah Ta’ala menunjukkan sempurna kemuliaan-Nya, dan banyaknya nama Nabi ﷺ menunjukkan tinggi kedudukannya, begitu pula banyaknya nama Al-Qur'an menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya.”

Referensi Nama Lain dari Al-Qur'an

Syeikh Majdiddiin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Aabadi sendiri telah menyebutkan 93 nama lain dari Al-Qur'an. Selain itu, Syeikh Badruddin az-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan telah menyebutkan 55 nama. Kitab lain yang menyebut nama lain dari Al-Qur'an adalah kitab Al-Huda wal Bayan fii Asma’ al Qur’an karya Syeikh Shalih bin Ibrahim al-Balihi, dengan menyebutkan 46 nama. Sementara Imam Fakhrurrazi telah menyebut 32 nama.

Masih ada beberapa kitab lainnya yang juga membahas nama lain dari Al-Qur'an. Misalnya kitab Asma’ul Qur'an fii al-Qur'an karya Dr. Muhammad Jamil bin Ahmad Ghazi. Beberapa penjelasannya pun bisa kita telaah dari kitab-nya Ibnul Qayyim yang berjudul Syarh Asma’ul Kitab al-‘Aziz.

Pembagian Nama Lain dari Al-Qur'an

Secara umum, nama lain dari Al-Qur'an bisa dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama adalah kelompok nama yang terkait hakikat Al-Qur'an. Kedua adalah kelompok nama yang terkait sifat Al-Qur'an. Ketiga adalah kelompok nama yang terkait fungsinya bagi manusia.

Yang termasuk kelompok pertama adalah penamaan Al-Qur'an (Al-Isra’ ayat 9), Al-Kitab (Yusuf ayat 1), Kalamullah (At-Taubah ayat 6), Ar-Ruuh (Asy-Syura ayat 52), At-Tanziil (Asy-Syu’ara ayat 192), Al-Amr (Ath-Thalaq ayat 5), Al-Qoul (Al-Qashash ayat 51), dan Al-Wahyu (Al-Anbiya’ ayat 45). Nama lain dari Al-Qur'an dalam kelompok pertama ini menjelaskan hakikat Al-Qur'an. Bahwa hakikatnya untuk dibaca, berupa kitab, merupakan kalamullah dan ruh yang diturunkan sebagai perintah. Itulah wahyu firman-Nya.

Yang termasuk kelompok kedua adalah penamaan Al-Kariim (Al-Waqi’ah ayat 77), Al-Majid (Al-Buruj ayat 21), Al-‘Aziz (Fushilat ayat 41), ‘Ali wal Hakim (Az-Zukhruf ayat 4), Ash-Shidq (Az-Zumar ayat 33), Al-Haq (Ali Imran ayat 62), Al-Mubarak (Shaad ayat 29), Al-‘Ajab (Al-Jin ayat 1), dan Al-Ilm (Ar-Ra’d ayat 37). Nama lain dari Al-Qur'an dalam kelompok kedua ini menjelaskan sifat Al-Qur'an. Bahwa sifatnya mulia, kokoh, tinggi, memutuskan hal yang benar, penuh keberkahan, serta mempesona dan penuh ilmu.

Yang termasuk kelompok ketiga adalah penamaan Al-Huda (al-Baqarah ayat 2), Ar-Rahmah (Luqman ayat 3), Adz-Dzikr (Al-Anbiya’ ayat 2), Al-Mau’idhah (Ali Imran ayat 138), Asy-Syifaa’ (Al-Israa’ ayat 82), At-Tadzkirah (Al-Muddatsir ayat 54), Al-Mubin (Yusuf ayat 1), Al-Balagh (Ali Imran ayat 20), Al-Basyir wan Nadzir (Fushilat ayat 4), Al Bashaair (Al-Jatsiyah ayat 20), Al-Bayan (Ali Imran ayat 138), dan An-Nuur (An-Nisaa’ ayat 174). Nama lain dari Al-Qur'an dalam kelompok ketiga ini menjelaskan fungsinya bagi manusia. Bahwa fungsinya sebagai petunjuk, rahmat, pengingat, nasehat, penyembuh, penjelas, peringatan, dan penerang.

Beberapa Makna Nama Lain dari Al-Qur'an

Pertama; Al-Kitab. Nama ini disebut 319 kali dalam Al-Quran. Di antaranya pada surat Al-Baqarah ayat 2.

ذٰلِكَ الكِتابُ لا رَيبَ ۛ فيهِ ۛ هُدًى لِلمُتَّقينَ

Kata Al-Kitab berasal dari kata Kutub, yang artinya menghimpun. Dinamakan Kitab karena kumpulan surat dan ayat. Sebagaimana pendapat Imam Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan fii ‘Ulumil Qur'an, “Karena ia menghimpun bermacam-macam cerita, ayat, hukum dan kabar untuk maksud yang khusus.”

Begitu pula Imam as-Suyuthi juga berpendapat demikian dalam kitab Al Itqan fii ‘Ulumil Quran. “Karena menghimpun beragam ilmu,” kata beliau. Selain juga bermakna bahwa Allah telah menetapkan dan mewajibkan sesuatu padanya, penjelasan makna ini terdapat dalam kitab Adhwaa’u ‘alal Qur'an al-Kariim: Balaghatuhu wa I’jazuhu.

Kedua; Al-Qur'an. Nama ini disebut 43 kali dalam Al-Qur'an. Di antaranya pada surat Fushilat ayat 3.

كِتابٌ فُصِّلَت آياتُهُ قُرآنًا عَرَبِيًّا لِقَومٍ يَعلَمونَ

Kata Al-Qur'an berasal dari kata Qara’a, yang artinya membaca. Juga bermakna penjelasan seperti dalam ayat فَإِذا قَرَأناهُ فَاتَّبِع قُرآنَهُ (Al-Qiyamah : 18), begitu dijelaskan dalam kitab Adhwaa’u ‘alal Qur'an al-Kariim; Balaghatuhu wa I’jazuhu.

Ketiga; Al-Furqan. Nama ini disebut 6 kali dalam al-Qur'an. Di antaranya pada surat Ali Imran ayat 4.

مِن قَبلُ هُدًى لِلنّاسِ وَأَنزَلَ الفُرقانَ ۗ إِنَّ الَّذينَ كَفَروا بِآياتِ اللَّهِ لَهُم عَذابٌ شَديدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزيزٌ ذُو انتِقامٍ

Kata Al-Furqan berasal dari kata Faraq yang artinya memisahkan atau membedakan. Maksudnya, bahwa Al-Quran membedakan antara yang hak dan yang bathil, membedakan antara yang halal dan yang haram, serta membedakan antara petunjuk dan kesesatan.

Keempat; Adz-Dzikr. Nama ini terdapat dalam surat Al-Hijr ayat 9.

إِنّا نَحنُ نَزَّلنَا الذِّكرَ وَإِنّا لَهُ لَحافِظونَ

Kata Adz-Dzikr, menurut Imam ath-Thabari, bermakna dua hal. Pertama, bermakna pengingat dari Allah kepada hamba-Nya tentang kewajiban, hukum-hukum, juga kabar tentang Nabi-Nabi dan umat-umat terdahulu. Kedua, bermakna pemuliaan bagi yang beriman kepadanya dan membenarkannya.

Kelima; At-Tanziil. Nama ini terdapat dalam surat Asy-Syu’ara’ ayat 192.

وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ العالَمينَ

Kata At-Tanziil artinya diturunkan. Dinamakan demikian karena diturunkan dari Allah.

Penutup

Dari sekian banyak nama lain dari Al-Qur'an, yang sering disebut selain sebutan Al-Qur'an adalah sebutan Kalamullah (Perkataan Allah) dan sebutan Kitabullah (Kitab Allah). Oleh karenanya, sebelum kita tutup bahasan ini, perlu kita ulas sedikit perbedaan antara Al-Qur'an dengan Kalamullah dan Kitabullah.

Bahwa perbedaan Al-Qur'an dengan Kalamullah adalah Al-Qur'an itu lebih khusus daripada Kalamullah, karena Kalamullah mencakup seluruh kitab Samawi dan selainnya. Begitu pula perbedaan Al-Qur'an dengan Kitabullah adalah Kitabullah itu mencakup seluruh kitab yang pernah turun sebelumnya, sementara Al-Qur'an adalah Kitab yang turun kepada Nabi terakhir Muhammad ﷺ.

Menariknya, Dr. Muhammad Daraz memiliki pendapat yang unik. “Dalam penamaan dua nama ini (Al-Qur'an dan Kitabullah),” begitu katanya. “Mengisyaratkan akan pentingnya menjaganya pada dua tempat, bukan hanya di satu tempat. Yaitu hendaknya dijaga di hati dan di tulisan secara bersamaan, agar saling mengingatkan dari penyimpangan. Maka kita tidak percaya dengan hafalan seorang hafidz sampai sesuai dengan tulisan yang dikumpulkan oleh sahabat yang terwariskan kepada kita dari generasi ke generasi sesuai tulisan yang pertama kali. Dan kita tidak percaya dengan tulisan penulisnya sampai sesuai dengan yang dihafalkan para hafidz dengan sanad yang shahih mutawatir. Dengan demikian, Al-Qur'an tetap terjaga dengan baik.”

Demikianlah, banyaknya nama lain dari Al-Qur'an menandakan akan kemuliaannya dan posisinya. Dan, ada satu penamaan yang sesungguhnya tidak ada dalam Al-Qur'an. Yaitu penamaannya dengan sebutan Mushaf.

Nama ini muncul setelah wafatnya Rasulullah. Dari kata Shuhuf, yang artinya lembaran. Kemudian disebut Mushaf karena dikumpulkan dari catatan-catatan Al-Qur'an yang telah disimpan oleh para sahabat. Pengumpulan lembaran demi lembaran dengan beragam bahan tersebut kemudian disatukan menjadi Al-Qur'an yang utuh dan biasa pula disebut Mushaf. Jadilah istilah Mushaf menjadi salah satu nama lain dari Al-Qur'an. [ummuhabibah.com]

Baca Selengkapnya »

Older Posts

MAKNA SURAT AR-RAHMAN YANG DIULANG


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Di dalam surat Ar-Rahman ada pengulangan satu ayat yang berbunyi :

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Fabiayyi alaa'i rabbi-kumaa tukadzdzibaan"
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang 'kamu dustakan?"

Kalimat ini diulang-ulang sebanyak 31x oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Apa gerangan makna kalimat tersebut?

Setelah Allah menguraikan beberapa nikmat yang dianugerahkan kepada kita, lalu Allah bertanya :
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "DUSTA", bukan kata "INGKAR".

Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari.
Yang sering dilakukan manusia adalah MENDUSTAKANNYA.

Dusta berarti 'Menyembunyikan Kebenaran'.

Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi nikmat oleh Allah, tapi mereka 'menyembunyikan kebenaran itu, sehingga mereka... MENDUSTAKANNYA....

Bukankah kalau kita mendapat rezeki banyak, kita katakan bahwa itu karena hasil dari 'Kerja Keras' kita...???

Kalau kita berhasil meraih gelar Sarjana S1/S2 bahkan S3, itu karena 'Otak Kita' yang cerdas...???

Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karena 'kepiawaian kita', kita 'Pandai Menjaga' Pola Makan dan Rajin ber-Olah Raga, dsb.

Semua nikmat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita, tanpa sadar, kita telah melupakan peranan Allah.

» Kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan yang kita raih.
» Kita dustakan bahwa sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan...?"

✅Kita telah bergelimang kenikmatan :

» Harta,
» Pasangan Hidup,
» Anak-anak yang telah kita miliki.

Semua Nikmat itu akan ditanya pada Hari Kiamat kelak.

"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan 'nikmat' yang kamu peroleh saat ini" (QS. At-Takatsur : 8)

✅Sudah siapkah kita menjawab dan mempertanggungjawabkannya...???

"Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. (QS. An-Nahl : 18)

✅Tidak patutkah kita bersyukur kepada-NYA...?

» Ucapkan Alhamdulillah.
» Berhentilah mengeluh, apalagi membanggakan diri.
» dan jalani hidup ini dengan ikhlas, tawadhu sebagai bagian dari ''Rasa Syukur'' kita.

Semoga bermanfaat.

[madrasribath]

Baca Selengkapnya »


Older Posts

HILANGNYA PAHALA SEDEKAH


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 264)

Imam Ibnu Katsir mengatakan, ”Dalam ayat di atas Allah memberikan informasi bahwa pahala sedekah itu dapat hilang disebabkan karena diungkit-ungkit dan tindakan berupa menyakiti orang yang diberi sedekah setelah sedekah diberikan. Jadi, dosa mengungkit-ungkit dan menyakiti itu menyebabkan hilangnya pahala sedekah.”

Beliau kemudian berkata, ”Artinya janganlah kalian membatalkan pahala sedekah kalian dengan menyakiti dan mengungkit-ungkitnya, sebagaimana tidak bernilainya sedekah orang riya. Orang yang riya adalah yang menampakkan sikap di hadapan orang lain bahwa dia ikhlas dalam beramal, padahal maksud sebenarnya adalah agar dia dipuji oleh orang lain atau agar tenar dengan sifat-sifat terpuji sehingga banyak orang yang mengagumi. Atau agar disebut sebagai orang dermawan dan maksud-maksud keduniawian lainnya. Orang yang riya tidak memiliki perhatian untuk taat kepada Allah, mencari ridha-Nya dan mengharap pahala-Nya yang berlimpah. Oleh karena itu, Allah berfirman yang artinya, ”Dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. Al-Baqarah :164).

Imam Ibnu Katsir juga menambahkan ”Hujan tersebut meninggalkan batu besar tadi dalam keadaan kering mengkilat tanpa ada satupun debu diatasnya, bahkan seluruh debunya hilang. Demikianlah amal orang-orang yang riya, padahal amal tersebut hilang dan lenyap di sisi Allah meskipun terlihat memiliki amal dalam pandangan manusia. Namun amal tersebut tidaklah lebih bagaikan debu.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/246).

Dalam tafsirnya, Ibnu as-Sa’di mengatakan ”Karena sifat kasih sayang dan lemah lembut yang Allah miliki, Allah melarang hamba-hamba-Nya menghapus pahala sedekah mereka dengan menyakiti dan mengungkit-ungkitnya. Sehingga dalam ayat ini terdapat dalil bahwa menyakiti dan mengungkit-ungkit suatu pemberian itu akan menyebabkan batalnya pahala suatu sedekah. Ayat di atas juga dapat dijadikan dalil bahwa amal kejelekan dapat menghapus amal kebaikan. Sebagaimana firman Allah, yang artinya, “Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak menghapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat : 2).

Sebagaimana kebaikan itu dapat menghilangkan kejelekan, maka amal kejelekan pun dapat menghapus amal kebaikan yang semisal dengannya. Ayat di atas ditambah dengan ayat lain yang artinya, ”Dan janganlah kamu merusak amal-amalanmu.” (QS. Muhammad : 33). Ayat ini merupakan dalil yang berisi anjuran untuk menyempurnakan dan menjaga amal dari segala sesuatu yang merusaknya agar amal tersebut tidak hilang sia-sia.

Kemudian beliau mengatakan maksudnya meskipun kalian pada awalnya bermaksud bersedekah dengan mengharap wajah Allah, namun gangguan dan mengungkit-ungkit itu tetap membatalkan pahala amal kalian bagaikan amal orang yang pamer, orang yang tidak menginginkan dengan amalnya itu keridhaan dari Allah dan kenikmatan di akhirat.

Amal karena riya tidaklah disangsikan adalah amal yang tertolak sejak awalnya, karena syarat diterimanya amal adalah dimaksudkan untuk mengharap ridha Allah semata. Sedangkan amal orang yang riya pada hakikatnya, adalah beramal untuk manusia bukan untuk Allah. Oleh karena itu, segala amalnya akan percuma dan usahanya sia-sia.

Permisalan yang tepat untuk orang ini, adalah batu keras dan mengkilat. Di atas batu tersebut terdapat debu, kemudian turunlah hujan yang deras sehingga tidak tersisa satupun debu di atasnya. Demikianlah permisalan orang yang beramal karena riya. Hatinya keras dan kasar bagaikan batu. Sedangkan sedekah yang dia lakukan atau amal shalihnya yang lain, laksana debu di atas sebuah batu.

Orang yang bodoh disamakan dengan keadaan batu itu. Ia akan beranggapan bahwa batu tersebut adalah tanah subur yang cocok untuk ditanami, akan tetapi ketika keadaan sebenarnya dari batu terungkap dengan hilangnya debu tersebut, maka nyata sudah bahwa amal orang tadi adalah tak ubahnya denagn fatamorgana. Sesungguhnya hatinya tidaklah cocok untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman-tanaman. Bahkan riya yang ada dalam drinya serta keinginan-keinginan tercela lain, mencegah untuk dapat mengambil manfaat dengan amal yang dilakukan.

Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa mereka tidak mampu memanfaatkan sedikitpun amal yang telah mereka lakukan. Hal ini dikarenakan, mereka meletakkan amal tidak apada tempatnya dan menjadikan amal tersebut untuk makhluk yang semisal dengan mereka, yang tidak dapat mengatur bahaya dan manfaat untuk mereka.

Mereka telah berpaling dari beribadah kepada Dzat yang ibadah tersebut mampu mendatangkan manfaat untuk mereka sendiri. Oleh karenanya, Allah palingkan hati mereka dari hidayah. Mengingat hal tersebut, Allah mengakhiri ayat di atas dengan firmannya, yang artinya, ”Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal 113-114)

Wallahu a'lam.

(Sumber: Majalah Swaraquran Edisi No. 3 Tahun ke-6, hal 16-19)

Baca Selengkapnya »


Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse