Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Hikmah Sufi
Showing posts with label Hikmah Sufi. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Sufi. Show all posts

Cinta Palsu


Suatu ketika datanglah sekelompok jamaah kepada Imam asy-Syibli. Tatkala di depan rumah Asy-Syibli mereka mengucapkan salam dan memanggilnya.

“Siapa kalian?” tanya Asy-Syibli dari dalam rumah. “Kami adalah golongan yang mencintai Tuan,” jawab salah seorang dari mereka.

Syahdan Asy-Syibli melempari mereka dengan batu yang dibawanya. Spontan tamu-tamu tadi lari terbirit-birit. “Kalian ini kok malah lari? Kalau betul-betul cinta kepadaku kalian tidak akan pergi dari ujian dariku,” kata Asy-Syibli.

“Orang mabuk cinta akan minum dengan gelas rindunya dan merasa dunia sempit. Ia tahu akan cinta sejati dan tenggelam di laut cinta. Ia akan tenang dan senang mencurahkan isi hati,” imbuhnya.

[Mukasyafatul-Qulub]

  آللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Baca Selengkapnya »

Older Posts

SAMPAH HATI


Seorang laki-laki yang berbeda paham dengan seorang Guru mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar, meluapkan kebenciannya kepada Sang Guru.

Sang Guru hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apa pun.

Setelah lelaki tersebut pergi, si murid yang melihat peristiwa itu dengan penasaran bertanya, "Mengapa Guru diam saja tidak membalas makian lelaki tersebut?"

Beberapa saat kemudian, maka Sang Guru bertanya kepada si murid, “Jika seseorang memberimu sesuatu, tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu?”

“Tentu saja menjadi milik si pemberi”, jawab si murid.

“Begitu pula dengan kata-kata kasar itu”, tukas Sang Guru.

“Karena aku tidak mau menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyadari, karena nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia atau pun akhirat ; karena energi negatif yang muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup”.

Kemudian, lanjut Sang Guru, ” Sama seperti orang yg ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yg marah-marah kepadamu ... biarkan saja … karena mereka sedang membuang SAMPAH HATI mereka. Jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi kalau engkau tanggapi, berarti engkau menerima sampah itu.”

“Hari ini begitu banyak orang di jalanan yang hidup dengan membawa sampah di hatinya (sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, Egois dan lainnya)… maka jadilah kita orang yang BIJAK”

Sang Guru melanjutkan nasihatnya :

“Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil”
“Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci”
“Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih”
“Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat”
“Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina”
“Jika engkau tak suka bersahabat, janganlah bermusuhan”

Saudaraku...
Inilah saatnya kita melatih diri untuk membuang semua sampah/ego yang ada di hati kita ...
Marilah kita renungkan untuk diri kita masing-masing : mampukah kita mengikuti nasihat dan meneladani kebijakan Sang Guru ... ?

[Cafe Rumi Jakarta]
#HikmahSufi

Baca Selengkapnya »

Older Posts

EKSISTENSI BAROKAH


Oleh : Habib Muchsin al-Atthas

Syaikh Ibrahim bin Adham, suatu ketika pernah terlibat dialog dengan salah seorang kafir zindiq yang tidak percaya akan eksistensi barokah. .

Zindiq itu berkelakar, "Yang namanya barokah itu jelas tidak ada (hanya mitos)".

Mendengar itu, Syaikh Ibrahim lantas menanggapi pernyataannya:

Bin Adham : "Pernahkah kamu melihat anjing dan kambing?"

Zindiq : "Ia, tentu..."

Bin Adham : "Mana dari keduanya yang lebih banyak berreproduksi dalam melahirkan anak-anaknya?"

Zindiq : "Pastinya anjing, anjing bisa melahirkan sampai 7 anak anjing sekaligus. Sedangkan kambing hanya mampu melahirkan setidaknya hanya 3 anak kambing saja."

Bin Adham : "Coba perhatikan lagi di sekelilingmu, manakah yang lebih banyak populasinya antara anjing dan kambing?"

Zindiq : "Aku lihat kambing lebih mendominasi, jumlahnya lebih banyak dibandingkan anjing."

Bin Adham : "Bukankah kambing itu sering disembelih? Entah itu untuk keperluan hidangan jamuan tamu, prosesi kurban Idul Adha, acara aqiqah, atau momen istimewa dan hajat lainnya? .Tapi ajaibnya spesies kambing tidak kunjung punah dan bahkan jumlahnya justru nampak melebihi anjing."

Zindiq : "Iya, iya, betul sekali"

Bin Adham : "Begitulah gambaran berkah."

Zindiq : "Jika tamsilnya begitu, lalu kenapa justru kambing yang mendapat berkah, bukan anjing."

Syaikh Ibrahim bin Adham kemudian menutup dialog itu dengan jawabannya yang cukup menyentil,

لأن الأغنام تنوم أول الليل و تصحى قبل الفجر فتدرك وقت الرحمة فتنزل عليها البركة. وأما الكلاب تنبح طول الليل فإذا دَنا وقت الفجر هجست ونامت ويفوت عليها وقت الرحمة فتنزع منها البركة

Karena kambing lebih memilih tidur di awal petang tapi, ia selalu bangun sebelum fajar, di saat itulah ia mendapati waktu yang penuh dengan rahmat, hingga akhirnya turunlah berkah kepadanya.

Beda halnya dengan anjing, ia doyan menggonggong sepanjang malam, tetapi di saat menjelang fajar ia malah pergi tidur sampai melewatkan saat-saat turunnya kucuran rahmat dan ia pun tidak kebagian berkah.

والله أعلم بالصواب

[Al Madad Ya Rasulallah]

Baca Selengkapnya »

Older Posts

LATIH DIRI UNTUK SENANTIASA BERSANGKA BAIK KEPADA ALLAH


Syeikh Malik adalah seorang ulama dan juga seorang da’i. Ia telah banyak meng-Islam-kan orang-orang. Ia selalu saja berusaha untuk mengenalkan agama Allah kepada orang-orang… Tapi pada suatu hari ia terkena penyakit kulit yang makin lama makin membesar dan mengganggu.

Maka ia pun berobat kepada dokter. Tapi sudah banyak dokter yang ia datangi tapi tak membuahkan hasil sama sekali. Penyakit kulitnya tak kunjung sembuh. Tapi karena Syeikh Malik adalah orang yang paham agama maka beliau selalu saja berprasangka baik kepada Allah…

“Pasti ada kebaikan dalam penyakit ini,” katanya.

Hingga suatu hari seorang muridnya membawa berita bahwa ada seorang pertapa yang mempunyai kelebihan dalam mengobati berbagai macam penyakit… Tapi hal ini mendapat tentangan dari orang-orang. Mereka berpendapat, “Mana mungkin seorang Ulama besar berobat kepada seorang pertapa yang merupakan adalah seorang Ateis (tidak percaya kewujudan Tuhan).”

Tapi Syeikh Malik berpendapat lain, “Saya akan ke sana dengan tujuan coba mengajaknya untuk memeluk Islam, karena dia adalah seorang yang tersesat,” katanya. “Kelebihan apa yang dimiliki oleh pertapa itu sehingga Allah memberinya kemampuan untuk mengobati orang-orang?” pikir Syeikh Malik.

Maka Syeikh Malik pun mendatangi Pertapa itu… Tapi sang Pertapa tidak mengetahui tentang Syeikh Malik. Rupanya tempat tinggal Pertapa ini jauh di dalam hutan, di tengah kesunyian hutan. Keadaan pertapa itu sangat sederhana.

Maka mulailah Syeikh Malik membicarakan tentang penyakitnya dan Pertapa itu meneliti penjelasan Syeikh Malik dengan sangat seksama. Pertapa itu kemudian memberikan beberapa ramuan-ramuan yang terdiri dari daun-daunan pepohonan, kerana telah menjelaskan tentang penyakitnya dan mendapatkan pengubatannya maka mulailah Syeikh Malik mencari tahu tentang Pertapa ini dengan tujuan adanya kemungkinan untuk mengajaknya kepada agama Allah.

“Apa yang kamu lakukan di tempat sunyi ini dan kenapa kamu tidak tinggal di kota saja?” tanya Syeikh Malik.

“Saya sangat selesa di sini… suasananya sangat tenang. Sehingga jiwa ini juga jadi tenang,” jawab si Pertapa. “Saya tak ingin merosak hati ini dengan noda-noda kehidupan,” lanjutnya. “Di sini kita hidup dengan santai tanpa harus terburu-buru… semuanya disediakan oleh Alam dan sangat murni,” ceritanya lagi.

“Tapi bukankah kamu dapat menjadi kaya kalau kamu tinggal di kawasan kota… kamu dapat menjadi Tabib?” tanya Syekh Malik lagi.

“Tapi saya tak inginkan itu, saya hanya ingin tenang,” jawab Sang Pertapa.

Setelah bercakap-cakap akhirnya Syeikh Malik kembali pulang dengan membawa resep obat dari Sang Pertapa. Ajaib dengan memakai resep dari Sang Pertapa penyakit kulit Syeikh Malik berangsur-angsur Allah sembuhkan.

Dengan kejadian ini maka Syeikh Malik berpikir di dalam hati, “Aneh… telah banyak para dokter yang kutemui tapi penyakit ini tak kunjung sembuh.” “Tapi mengapa dengan resep obat dari Pertapa ini Allah telah sembuhkan penyakit ini? Pasti ada sesuatu yang Allah simpan dalam peristiwa ini dan pasti itu baik,” pikir Syeikh Malik dalam renungannya

Maka Syeikh Malik bertekad untuk menemui Pertapa itu kembali.

“Wahai Tuan, resep Anda sangat manjur… Penyakit saya telah sembuh,” kata syeikh Malik ketika menemui Pertapa itu.

“Itu karena Alam,” katanya.

Maka Syeikh Malik mulai terlibat percakapan panjang lebar dengan Pertapa itu sambil mencoba mencari-cari cara untuk mengajak Pertapa itu menyembah Allah.

Hingga akhirnya Syeikh Malik betanya, “Apa amalan Anda sehingga Anda mendapatkan berkah ini, pandai mengubati segala macam penyakit?”

Sejenak Pertapa itu terdiam, lalu berkata, “Segala sesuatu yang ditolak oleh hatiku, maka pasti akan kulaksanakan.”

Mendengar hal itu Syeikh Malik terkejut, “Betulkah perkataanmu itu. wahai Tuan?”

“Ya, betul. Apa yang ditolak oleh hatiku maka pasti akan kulakukan.”

Sejenak Syeikh Malik terdiam sambil berpikir, “Amalan inilah yang menyebabkan Allah memberinya kemampuan ini.” “Mungkinkah kalau aku menawarinya menjadi seorang muslim hatinya pasti menolak?” pikir Syeikh Malik lagi

Spontan Syeikh Malik bertanya… “Maukah Anda menjadi seorang muslim?”

“Apa?" jawab Pertapa itu dengan terkejut.

“Maukah Anda menjadi seorang muslim?” tanya Syeikh Malik lagi tanpa ragu-ragu.

Sejenak Pertapa itu terdiam dan menatap Syeikh Malik.... lalu berkata, “Sebentar saya tanya hati ini dulu.”

Syeikh Malik menunggu dengan perasaan harap-harap cemas.

Lalu Pertapa itu berkata, “Ya, saya mau menjadi seorang muslim.”

“Betulkah, wahai Tuan?” sahut Syeikh Malik.

“Ya… Saya telah bertanya kepada hati ini ternyata ia menolak. Maka apabila hati ini menolak pasti saya mengikutinya,” kata Pertapa itu.

“Alhamdulillah…” jawab Syeikh Malik. “Rupanya inilah keinginan Allah sehingga penyakit saya tak sembuh-sembuh dan mengirim saya ke tempat ini. Rupanya pertapa ini akan mendapat hidayah melalui penyakit kulitku,” pikir Syeikh Malik dalam hati.

“Lalu di mana saya akan mempelajari Islam?” tanya Pertapa itu.

“Ikutlah denganku, Tuan… Akan kutunjukkan tempatnya.” jawab Syeikh Malik sambil terus mengucapkan Hamdalah karenna seseorang telah menjadi Muslim dan bertuhankan Allah Pemilik Langit dan Bumi…

*
Semua kemauan Allah adalah baik. Tinggal kita jalani sesuai perintah-Nya.

Insya Allah kita akan dapatkan hikmah dan kebaikan di dalamnya.

Aamiin

( Ustadz Iqbal Zain Al-Jauhari )

Baca Selengkapnya »

Older Posts

Sibukkan Diri Dalam Kebaikan


Seorang jama'ah berbincang dengan seorang Guru Sufi :

"Kyai, saya tidak mau ikut pengajian ini lagi"

"Apa alasannya?" tanya Sang Guru Sufi.

"Saya lihat di pengajian ini perempuannya suka bergosip, laki-lakinya munafik, pengurusnya cara hidupnya tidak benar, jama'ahnya sibuk dengan hpnya, dsb"

"Baiklah. Tapi sebelum kau pergi, tolong lakukan sesuatu untukku. Ambil segelas penuh air dan berjalanlah mengelilingi dalam masjid ini tanpa menumpahkan setetes air sekalipun ke lantai. Setelah itu engkau bisa meninggalkan masjid ini seperti keinginanmu."

"Itu mudah sekali!"

Diapun melakukan apa yang dimintakan Sang Guru Sufi, sementara pengajian sedang berlangsung.

Setelah selesai, dia berkata kepada Sang Guru Sufi bahwa dia siap untuk pergi.

"Sebelum kau pergi, ada satu pertanyaan. Ketika kau tadi berjalan keliling dalam masjid, apa engkau mendengar orang bergosip, melihat orang munafik, melihat orang sibuk dengan hpnya ?"_

"Tidak."

"Engkau tahu mengapa?"

"Tidak."

"Karena engkau fokus pada gelasmu, memastikan tidak tersandung dan tidak ada air yang tumpah."

Begitupun dengan kehidupan kita. Ketika kita mengarahkan pandangan kita kepada Nur Allah yang kita imani, maka :

• Kita tidak akan punya waktu untuk melihat kesalahan orang lain
• Kita tidak akan punya waktu untuk menilai dan mengkritik orang lain.
• Kita tidak akan punya waktu untuk bergosip ria dengan orang lain
• Kita akan menolong orang lain dan fokus pada langkah kita menggapai Nur-Nya

Direndahkan tidak mungkin jadi sampah, disanjung tidak mungkin jadi rembulan.
Maka jangan risaukan omongan orang, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.
Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang benar, meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai.
Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang dirimu, sebab yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu.
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi tentang siapa yang mau berbuat baik.
Jika didzalimi orang jangan berpikir untuk membalas dendam, tapi berpikirlah cara membalas dengan kebaikan.
Jangan mengeluh, teruslah berdo'a dan ikhtiar. Sibukkan diri dalam kebaikan hingga keburukan lelah mengikutimu.

Semoga kita semua selalu dalam ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin...

#HikmahSufi

Baca Selengkapnya »

Older Posts

Tips Sufi Menghadapi ‘Murka’ Istri


Syeikh Ali al-Khawwash pernah berkata, “Tidak jarang wali Allah yang berada di bawah cengkeraman istrinya. Mereka seringkali menerima ucapan dan sikap menyakitkan dari istri mereka.”

Tokoh sufi berada di bawah tekanan istri: ada yang aslinya memang seperti itu, ada pula yang disengaja untuk seperti itu. Maksudnya, si sufi memang sengaja memilih wanita yang judes sekaligus buruk rupa karena sebuah tujuan mulia, yaitu untuk menempa diri atau untuk menghindarkan orang lain dari keburukan wanita tersebut.

Syeikh Nuruddin asy-Syauni, mursyid majelis shalawat di Mesir, bercerita tentang pengalamannya dengan Syeikh Ustman al-Hatthab, ulama sufi yang masih tetangga dekatnya. Di suatu malam yang sangat dingin Syeikh Nuruddin keluar untuk berwudhu. Di jalan menuju tempat wudhu, beliau mendapati seseorang yang sedang rebah berselimut. Asy-Syauni menghampiri orang itu, lalu menggoyang-goyang tubuhnya.

“Siapakah gerangan?” tanya Asy-Syauni.
“Utsman.”
“Ya Sayyidi. Mengapa Tuan tidur di sini?”
“Ummu Ahmad mengusirku dari rumah.”

Apakah orang setingkat Syeikh Utsman al-Hatthab begitu takut kepada istrinya. Tentu saja tidak. Syeikh Utsman al-Hatthab bukan tipologi ‘suami yang takut istri’. Beliau bertahan dengan istrinya yang pemarah, karena beliau termasuk tipologi ‘suami yang sabar memperlakukan istri’. Boleh jadi, beliau ingat dengan kisah Sayyidina Umar bin al-Khatthab yang diam saja ketika istrinya marah-marah. Atau, dengan hadits-hadits Nabi yang berpesan agar kaum lelaki memperlakukan istri-istrinya dengan baik.

Syeikh Ali al-Khawwash, pencetus maqâlah di atas, termasuk tokoh sufi yang sering menjadi ‘korban’ dari sang istri yang masih sepupunya sendiri. Imam asy-Sya’rani memiliki banyak cerita mengenai hal itu dalam kitabnya, Lawâqih al-Anwâr al-Qudsiyyah. Bagi Syeikh Ali, tidak disapa oleh istrinya sampai berbulan-bulan, sudah merupakan hal yang sangat biasa. Bahkan, beliau pernah melakukan perjalanan dari Mesir ke Hijaz bersama sang istri. Sejak berangkat hingga pulang, sang istri tidak menyapa sepatah katapun kepada Syeikh Ali al-Khawwash.

Pernah suatu ketika Syeikh Ali meminum air menggunakan gelas yang biasa dipakai oleh istrinya. Melihat hal itu sang istri berang dan mendamprat Syeikh Ali. Lalu, dia menggosok bekas mulut Syeikh Ali di gelas itu karena tidak ingin mulutnya menyentuh bekas mulut Syeikh Ali. Selama lima puluh tujuh tahun menikah, Syekh Ali tidak pernah dalam satu malam pun tidur dengan sang istri dalam keadaan akur. Namun demikian, mereka tetap hidup serumah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Demikian cerita Imam Asy-Sya’rani tentang salah satu guru spiritualnya itu.

Ini adalah anomali, tapi anomali yang positif. Menurut Imam asy-Sya’rani, pada dasarnya, kita diperintahkan untuk memilih istri yang lembut, bersikap menyenangkan serta subur dan produktif. Rasulullah bersabda:

تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah wanita yang subur dan menyayangi (suaminya) karena aku akan berlomba-lomba melalui kalian dengan para nabi di hari kiamat (dalam hal jumlah umat).” (HR Ibnu Hibban dari Anas bin Malik)

Standar syariatnya seperti itu. Nikahilah wanita yang berbudi pekerti baik agar kita benar-benar merasakan keberadaan istri sebagai anugrah, sehingga kita terdorong untuk bersyukur. Jika seseorang menikah dengan wanita yang judes atau buruk rupa, maka sangat mungkin dia akan menganggap keberadaan istri tersebut sebagai petaka. Hal itu berpotensi besar menyebabkan dia merasa tidak rela dengan takdir jodohnya. Maka dari itu, syariat memerintahkan kita untuk menikahi istri yang berpenampilan menarik dan bersikap menyenangkan di hadapan suami.

Akan tetapi, kata Imam Asy-Sya’rani, memang ada kalangan sufi yang sedang dalam maqam riyâdhatun-nafsi (menempa diri), sehingga dia sengaja memikul beban-beban kesengsaraan untuk melatih ketahanan dirinya. “Untuk konteks ini, tentu hukumnya berbeda,” tegas Imam asy-Sya’rani dalam Lawaqih al-Anwar.

Menurut beliau, memang ada sebagian tokoh sufi yang ‘gemar’ menikahi wanita-wanita yang bermuka buruk atau bersikap judes. Dia membetahkan diri untuk berumah-tangga dengan wanita tersebut selama puluhan tahun. Mengenai pilihannya itu dia berkata, “Aku lebih berhak untuk mendapatkan dia. Biarlah wanita ini menjadi beban di pundakku, agar tidak menjadi beban bagi saudara-saudara Muslimku yang lain.”

Dalam kisah yang sangat masyhur, seperti disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kaba’ir, ada seorang syeikh yang selama bertahun-tahun begitu sabar menghadapi istrinya yang sangat judes. Sehari-hari dia bekerja mencari kayu bakar ke hutan. Ajaibnya, setiap kali pulang dari hutan, dia selalu diantar oleh singa yang memikul kayu-kayu tersebut di punggungnya hingga ke halaman rumah.

Syahdan, ketika istrinya yang judes itu meninggal dunia, dia menikah lagi dengan seorang wanita yang shalehah dan bersikap menyenangkan. Tentu saja, rumah tangganya berubah menjadi menjadi sangat indah dan penuh ketentraman. Namun anehnya, ketika Syeikh tersebut mencari kayu ke hutan, sudah tidak ada lagi singa yang datang dan takluk di hadapannya. Sehingga, dia harus bersusah payah memikul sendiri tumpukan kayu bakar tersebut.

Syeikh itu memiliki seorang teman yang sering berkunjung ke sana. Dia merasa heran dengan perubahan tersebut dan menanyakan hal itu. Syeikh itu menjawab, “Dulu, saat hidup dengan istriku yang pertama, aku merasakan kesengsaraan yang luar biasa, tapi aku menghadapinya dengan penuh kesabaran. Maka, Allah menaklukkan singa itu untukku, sebagaimana yang telah biasa engkau lihat. Namun, ketika aku menikahi istriku yang shalehah ini, hidupku penuh dengan ketentraman. Akibatnya, singa itu sudah tidak datang lagi padaku.”

Karena itulah, ada beberapa wali Allah yang terlihat sangat sabar menghadapi istrinya yang judes, sekali lagi bukan karena takut pada istri, tapi sebagai bentuk tirakat dalam upaya melatih ketahanan diri. Dan, penempaan diri tersebut bagi mereka tidak hanya berlaku dalam urusan istri, tapi juga dalam hal-hal yang lain.

Menurut Imam asy-Sya’rani, kadangkala mereka sengaja membeli keledai yang sulit dikendalikan, juga keledai yang sangat lambat dalam berjalan. Sehari-hari mereka merawat dan menungganginya dengan penuh kesabaran, tanpa merasa kesal sedikitpun, apalagi sampai memukulnya. Bahkan, kata Imam asy-Sya’rani, jika dia disalahi oleh orang, maka dialah yang justru datang meminta maaf. “Maafkan saya, sayalah yang bersalah, bukan Anda. Seandainya saya menuruti apa yang Anda mau, tentu saja Anda tidak akan memaki saya,” katanya.

Wallahu a'lam bish-shawab

[Sidogiri Media]

Baca Selengkapnya »

Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse