Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Adab dan Akhlak
Showing posts with label Adab dan Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Adab dan Akhlak. Show all posts

Do'a Ketika Bercermin Dan Anjuran Tidak Bercermin Di Malam Hari


Sebuah Faidah : Berkata Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu : Apabila Nabi ﷺ melihat dalam cermin, beliau berdo'a : "ALHAMDULILLAHI ROBBIL 'AALAMIN ALLADZI AHSANA KHULUQI WA SAWIYA KHOLQI WA JA'ALANI BASYARON SAWIYYA, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAHIL 'ALIYYIL 'AZHIIM." Ibn Abbas berkata : semenjak aku mendengar (do'a ini) dari Nabi, aku tidak pernah meninggalkannya (ketika aku bercermin), dan Nabi berkata pula "Tidak akan terkena keburukan selamanya orang yang membaca do'a ini".

Dari Abi Hurairah, dari Nabi ﷺ : "Jangan bercermin di malam hari, karena hal itu mewariskan mata juling."

Keterangan ini disebutkan Abdurrahman dalam kitab Nuzhatul Majalis.

فائدة قال ابن عباس رضي الله عنهما كان النبي ﷺ إذا نظر فى المرآة يقول : الحمد لله رب العالمين الذى أحسن خلقى وسوي خلقى وجعلنى بشرا سويا ولاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم. قال إبن عباس ماتركتها منذ سمعتها منه ﷺ وكان يقول لايمس وجه من قالها سوء أبدا.
وعن أبى هريرة عن النبى ﷺ لا ينظر فى المرآة بالليل فإنه يورث حول العينين . ذكر ذلك عبد الرحمن الصفورى فى نزهة المجالس 
(بهجة الوسائل بشرح مسائل , صحيفة ٣١ (كاريا أمباه محمد نووى البنتانى الشافعى القادرى


Baca Selengkapnya »


Older Posts

PENTINGNYA ADAB DALAM ISLAM


Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Bahkan ia menjadi salah satu inti ajaran Islam. Demikian penting perkara ini, hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab ini.

Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaqul Karimah.

Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya. Satu sama lainnya ada keterkaitan sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Muslim, Bab Al-Hatstsu’ala Ikramil Jaar wadh Dhaif)

Di sini terlihat jelas bagaimana kaitan antara akidah dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menafikan keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan janjinya.

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Bahkan suatu ibadah tidak ada nilainya manakala adab dan akhlak tidak dijaga. Nabi ﷺ bersabda,  “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan (amalan) meninggalkan makan dan minumnya (puasa, red.).” (HR. Al-Bukhari no. 1903). Yakni puasanya tidak dianggap.

Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa adab memiliki pengaruh yang besar untuk mendatangkan kecintaan dari manusia, sebagaimana firman-Nya,
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut, terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan: “Akhlak yang baik dari seorang pemuka (tokoh) agama menjadikan manusia tertarik masuk ke dalam agama Allah Ta’ala dan menjadikan mereka senang dengan agama-Nya. Di samping itu, pelakunya akan mendapat pujian dan pahala yang khusus. (Sebaliknya) akhlak yang jelek dari seorang tokoh agama menyebabkan orang lari dari agama dan benci kepadanya, di samping bagi pelakunya mendapat celaan dan hukuman yang khusus. Inilah Rasulullah ﷺ, seorang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Allah Ta’ala mengatakan kepadanya apa yang Allah Ta’ala katakan (pada ayat ini). Bagaimana dengan selainnya? Bukankah hal yang paling harus dan perkara terpenting adalah seseorang meniru akhlaknya yang mulia, bergaul dengan manusia dengan apa yang Nabi ﷺ contohkan berupa sifat lemah lembut, akhlak yang baik dan menjadikan hati manusia suka? Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menarik para hamba ke dalam agama-Nya.” (Taisir Al-Karimirrahman hal. 154)

Wallahu a'lam bish-shawab

Baca Selengkapnya »


Older Posts

SEPULUH ADAB BERDO'A


(Menurut Syaikh Muhammad bin Alwi al-Maliki)

Do’a selalu dipanjatkan dalam berbagai keadaan, baik sebelum, saat, maupun selesai shalat, sebelum keluar rumah, sebelum belajar, hingga sebelum dan setelah makan maupun saat masuk ke kamar mandi. Do’a menjadi hal yang begitu lekat dengan kita, terlebih banyak do’a-do’a sederhana yang sudah kita hapal sedari kecil.

Sebagaimana ibadah lain, berdo’a pun perlu diketahui tatacaranya, etikanya, juga keutamaannya, supaya bertambah iman dan kedekatan seorang Muslim kepada Tuhannya. Allah telah banyak menyebutkan perintah untuk banyak berdo’a kepada para hamba-Nya.

Ulama menjelaskan berbagai do’a dan adabnya dalam pelbagai kitab. Doa dan tatacara itu tentu diambil dan disarikan dari pemahaman mereka dari sumber-sumber hadits maupun Al-Qur’an, serta amaliyah ulama terdahulu. Salah satu penyusun kitab yang berisi kumpulan do’a, wiridan, serta etika berdo’a adalah Syaikh Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam karyanya, Abwabul Faraj.

Sebagai kitab yang memang khusus disusun berisi do’a-do’a dan amalan-amalan yang bisa diterapkan sehari-hari, Syaikh Muhammad al-Maliki membuka penjelasan kitab ini dengan pentingnya memerhatikan etika berdo’a. Do’a yang diperhatikan adabnya akan semakin menambah kesempurnaan do’a itu dan menambah nilai kebaikan. Menurutnya, setidaknya ada sepuluh hal yang patut diperhatikan saat seseorang berdo’a. Sepuluh hal tersebut adalah :

1. Berdo’a pada waktu-waktu yang utama. Disebutkan bahwa do’a pada momen istimewa seperti hari Arafah, hari Jum’at, hari-hari di bulan Ramadhan, serta waktu sepertiga malam terakhir seusai shalat malam, adalah waktu yang mendapat keutamaan, sebagaimana banyak tercantum dalilnya dalam hadits Nabi.

2. Berdo’a di keadaan-keadaan yang diutamakan. Keadaan ini bisa tiba di waktu apapun, seperti saat turun hujan, sebelum dan setelah shalat fardhu di masjid, jelang iqamat, di antara dua khutbah Jum’at, atau di saat sujud. Jika adab yang pertama tadi menyebutkan tentang waktu-waktu yang memang sudah diistimewakan oleh nash, maka keadaan-keadaan ini adalah momen yang mudah ditemui sehari-hari.

3. Jika memungkinkan, berdo’a menghadap kiblat, sembari mengangkat kedua tangan, kemudian mengusap muka setelah berdo’a. Dalam hadits disebutkan yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa saat berdo’a Nabi mendongak ke langit, lalu mengangkat kedua tangan sampai lipatan ketiak beliau terangkat.

4. Melirihkan suara, tidak terlampau keras atau hanya digumamkan dalam hati. Membaca do’a dengan lisan ini menambah kemuliaan dan kebaikan lisan kita.

5. Jangan terlalu berfokus pada keindahan bahasa dan sajak do’a. Berdo’a dengan do’a yang mudah dan lumrah diamalkan, daripada terlalu bingung dengan keindahan bahasa do’a tetapi mengabaikan substansinya. Disarankan menggunakan do’a-do’a yang lebih mudah dihapal.

6. Merendahkan hati, bersikap tenang, disertai dengan rasa mengagungkan Allah disertai pengharapan kepada-Nya.

7. Hendaknya do’a dilanggengkan sebagai sebuah rutinitas, lagi selalu meyakini akan diijabah oleh Allah.

8. Bersikap dengan sungguh-sungguh dalam memohon, jika perlu mengulangnya tiga kali. Kurang elok jika berdo’a, tetapi malah minta untuk ditangguhkan.

9. Mengawali do’a dengan menyebut nama Allah, baik dengan dzikir, dilanjutkan syukur kepada Allah, kemudian membaca shalawat Nabi. Jangan terburu-terburu langsung memulai do’a dengan permohonan.

10. Selalu bertobat, menjauhi kedzaliman, serta menerima kehadiran Allah dengan tulus. Hal ini adalah kunci taqarrub, kedekatan seorang hamba kepada Allah dan menjadi hal yang pokok dalam terijabahnya sebuah do’a.

Demikianlah sepuluh adab do’a yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam Abwabul Faraj. Semoga etika do’a ini bisa dengan mudah kita usahakan untuk diamalkan sehari-hari sehingga menjadi penyempurna ibadah kita, dan menjadi wasilah untuk mendekatkan kita kepada Allah. Wallahu a’lam.

Baca Selengkapnya »

Older Posts

AKHLAK YANG BAIK


Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ فِي اَلْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ اَلْخُلُقِ
"Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih baik daripada akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi)

Berbicara soal akhlak yang baik, seolah hanya sesuatu yang ringan, namun pada kenyataannya berat untuk diterapkan dalam kehidupan secara maksimal. Apalagi di masa sekarang ini, akhlak yang baik mulai diabaikan keberadaannya oleh sebagian umat Islam. Padahal akhlak juga menjadi benteng di era peradaban modern.

Akhlak dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari akhlak kepada Sang Pencipta, akhlak kepada sesama umat manusia, dan akhlak kepada lingkungan sekitar.

Akhlak juga bagian dari inti keimanan seorang muslim. Seseorang yang benar-benar terkategori mukmin (beriman) maka dalam tingkah laku kesehariannya akan tercermin akhlak yang baik, tidak sebaliknya. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ مِنَ اْلأِيْمَانِ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَأَفْضَلُكُمْ إِيْمَانًا أَحْسَنُكُمْ خُلقًا
“Sesungguhnya sebagian daripada iman adalah bagusnya akhlak, dan yang paling utama di antara kalian imannya adalah yang paling bagus akhlaknya” (HR. Imam ath-Thabrani)

Perilaku yang baik dalam kehidupan, tentunya akan mengantarkan seseorang kepada keberuntungan baik di dunia maupun akhirat. Sebab tolak ukur akhlak seorang muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu a'lam

Baca Selengkapnya »


Older Posts

JANGAN SUKA MENCELA MAKANAN


Ketinggian budi pekerti dan akhlak Rasulullah ﷺ, diantaranya tidak mencela dan mengomentari makanan.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

مَا عَابَ النَّبِيُّ ﷺ طَعَامًا قَطٌّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلاَّ تَرَكَهُ

“Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau selera maka beliau memakannya, dan jika tidak selera maka beliau tinggalkan.” (HR. Ahmad 9755, Bukhari 3563 dan Muslim 5504).

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini,

هَذَا مِنْ آدَابِ الطَّعَامِ الْمُتَأَكِّدَةِ وَعَيْبُ الطَعَامِ كَقَوْلِهِ : مَالِحٌ، قَلِيْلُ الْمِلْحِ، حَامِضٌ، رَقِيْقٌ، غَلِيْظٌ، غَيْرُ نَاضِجٍ، وَنَحْوُذَلِك

“Hal ini (tidak mencela makanan) termasuk adab makan yang ditekankan. Dan mencela makanan yaitu seperti ia berkata, “Ini keasinan”, “Kurang asin”, “Kecut”, “Terlalu lembut”, “Masih kasar”, “Belum masak”, dan yang semisalnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/26).


Baca Selengkapnya »

Older Posts

Adab Memakai Sandal


Dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ

"Apabila seseorang di antara kalian memakai sandal, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, dan apabila melepas, hendaknya ia mendahulukan kaki kiri, jadi kaki kananlah yang pertama kali memakai sandal dan terakhir melepaskannya."

(Muttafaq 'alaihi)

Baca Selengkapnya »

Older Posts

Jangan Minum Sambil Berdiri


Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا
.
“Sungguh janganlah salah seorang dari kamu minum sambil berdiri.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (6/110-111) dari Umar bin Hamzah: “Telah bercerita kepadaku Abu Ghithan Murri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Abu Hurairah berkata: “Telah bersabda Rasulullah ﷺ …, kemudian dia menyebutkan hadits itu dan menambahkan:
“Barangsiapa yang lupa maka hendaklah memuntahkannya.”

Juga diriwayatkan oleh Abu Ziyad ath-Thihani, dia berkata: “Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسّلَّمَ أَنَّهُ رَأٰٰى رَجُلاً يَشْرَبُ قَا ءِمًا فَقَالَ لَهُ : قِهْ ، قَالَ : لِمَهْ ؟ قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَشْرَبَ مَعَكَ الْهِرُّ ؟ قَالَ : لاَ ، قَالَ : فَاِنَّهُ قَدْ شَرَبَ مَعَكَ مَنْ هُوَ شَرُّ مِنْهُ ! أَالشَّيْطَانُ
.
Dari Nabi ﷺ, bahwa sesungguhnya beliau melihat seorang lelaki minum dengan berdiri. Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Muntahkanlah!” Orang itu bertanya: “Mengapa?”Beliau bersabda: “Apakah kamu suka jika minum bersama dengan kucing?” Orang lelaki itu menjawab: “Tidak.” Dia bersabda lagi: “Sesungguhnya telah minum bersamamu sesuatu yang lebih buruk daripada itu, yaitu setan.”
[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (7990), Ad-Darimi (2/121), Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar (3/19) dari Syu’bah dari Abu Ziyad].

Hadits ini juga muncul dengan lafazh lain, yaitu:

لَوْ يَعْلَمَ الَّذِي يَشْرَبُ وَهَوَ قَائِمٌ مَا فِي بَطْنِهِ لاَسْتَقَاءَ
.
“Jikalau orang yang minum sambil berdiri itu mengetahui apa yang ada dalam perutnya, tentu dia akan memuntahkannya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (7790 dan 7796) dari Az-Zuhri dari seorang lelaki dari A’masy, dari Abi Shalih, yang ini juga dari Abu Hurairah yang menuturkan: “Telah bersabda Rasulullah ﷺ …” Kemudian Ath-Thahawi juga meriwayatkannya dalam Musykilul Atsar (3/18) dari Al-A’masy dengan menambahkan: “Sampai tibalah Ali bin Abi Thalib, lalu dia berdiri kemudian minum sambil berdiri.”

Kejelasan larangan dalam hadits-hadits tersebut menunjukkan diharamkannya minum dengan berdiri tanpa udzur. Namun banyak pula hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ juga pernah minum sambil berdiri. Karena itu akibatnya para alim ulama berbeda pendapat dalam menyatukan hadits-hadits itu. Ulama kebanyakan berpendapat bahwa larangan itu Li at-Tanzih (makruh). Sedangkan perintah untuk memuntahkan adalah sunnah. Sementara itu Ibnu Hazim berbeda dengan mereka. Dia berpendapat, bahwa larangan itu menunjukkan haram. Agaknya pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran. Karena bila untuk sekedar ‘tanzih” tidak perlu menggunakan kata “zijirun” (tercela), dan tidak akan diperintahkan untuk memuntahkan, sebab perintah memuntahkan di situ adalah sesuatu yang sulit bagi seseorang untuk melakukannya, sehingga tidak mungkin syari'at membebankan sesuatu yang seberat itu hanya untuk perkara yang sekedar sunnah. Demikian pula hadits itu juga berbunyi “Sesungguhnya setan telah minum bersamamu.” Ini adalah suatu larangan atau peringatan keras agar tidak minum dengan berdiri. Jadi tidak tepat jika peringatan itu hanya diberikan untuk perkara meninggalkan sunnah saja.

Sedangkan hadits-hadits yang menerangkan minum dengan berdiri adalah mungkin karena ada udzur seperti tempat yang sempit atau karena tempat airnya tergantung. Karena memang ada hadits-hadits yang menunjukkan yang demikian itu.

Wallahu a’lam

Baca Selengkapnya »

Older Posts

Mengucap dan Menjawab Salam


Umat Islam adalah umat yang mendapatkan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dibanding umat lainnya, dengan keutamaan itu derajat mereka diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan akhirat. Setiap ajaran Islam mengandung keutamaan/fadhilah, begitu juga salam.

Bahkan Yahudi mengetahui keutamaan tersebut sehingga menimbulkan hasad dalam diri mereka.

عَنْ عَائِشَةَ, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ: مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ, مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلَامِ وَالتَّأْمِينِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Rasulullah ﷺ bersabda : ”Tidaklah Yahudi hasad terhadap kalian tentang sesuatu, seperti hasadnya terhadap kalian dalam permasalahan salam dan ucapan aamiin”. (HR. Ibnu Majah 856 dan Ibnu Khuzaimah)

Yahudi musuh terbesar umat Islam, mengetahui keutamaan salam dan hasad kepada kaum muslimin terhadap anugerah yang mereka dapatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagaimana bisa sebagian kaum muslimin melupakan keutamaan ini?

Menebar salam antar umat muslim adalah salah satu sunnah Rasulullah ﷺ. Hendaknya setiap diri menumbuhkan kebiasaan yang mulia ini pada diri sendiri dan lingkungannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits tersebut Nabi ﷺ menjelaskan diantara syarat masuk surga adalah keimanan kemudian menggantungkan keimanan dengan saling cinta-mencintai sesama muslim, dan itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan salah satu caranya, yaitu menebarkan salam antara sesama muslim.

Adapun kalimat السلام itu sendiri mempunyai makna tersendiri yang disebutkan oleh para ulama:
• Sebagian mereka (para ulama) mengatakan السلام adalah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika seseorang mengucapkan السلام عليه berarti dia mengucapkan Nama Allah atas kamu” yang bermakna “Semoga kamu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala”
• Sebagian mereka (para ulama) juga mengatakan السلام bermakna السلامه (keselamatan), jadi makna ucapan السلام عليله adalah “Keselamatan untukmu” (Al-Minhaj Syarhu Shohihi Muslim, Jilid 7 hal 262, Kitab As-Salam)

Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan “Ketahuilah bahwa memulai salam hukumnya adalah sunnah dan menjawab salam hukumnya adalah wajib. Jika orang yang mengucapkan salam terdiri dari sekelompok orang (jama’ah) maka berlaku bagi mereka hukum sunnah kifayah yang berarti jika salah satu dari mereka mengucapkan salam, maka sunnah salam tersebut menjadi hak mereka seluruhnya. Jika orang yang disalami adalah satu orang maka wajib (fardhu ‘ain) dia untuk menjawab. Jika orang yang disalami adalah sekelompok orang (jama’ah) maka hukum menjawab salam bagi mereka menjadi fardhu kifayah, yang berarti jika salah seorang dari mereka sudah menjawab salam, maka terputuslah dosa/kesalahan bagi yang belum menjawab salam." (Al-Minhaj, Jilid 7 hal 261)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan salam.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Wallahu a'lam bish-shawab

Baca Selengkapnya »

Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse