Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Aswaja
Showing posts with label Aswaja. Show all posts
Showing posts with label Aswaja. Show all posts

Antara Membaca Maulid dan Membaca Al-Qur'an


Banyak yang mempertentangkan antara membaca Maulid dan baca Al-Qur'an.
Kenapa masih baca Maulid, bukankah Al-Qur'an lebih baik?

Simak jawabannya dalam video berikut ini.




Baca Selengkapnya »


Older Posts

BERBAGAI MACAM WALI


```الاولياء على ثلاثة أقسام: فمنهم من يعرف نفسه أنه ولي ويعرفه الناس، ومنهم من يعرفه الناس ولا يعرف نفسه، ومنهم من لا يعرف نفسه أنه ولس ولا يعرفه الناس (ولكن الذي يعرف أنه ولي أفضل) -- تحفة الاحباب: 223

Wali itu ada tiga macam,
  1. Wali yang mengetahui tentang kewalian dirinya dan orang-orang pun juga mengetahui tentang kewaliannya.
  2. Wali yang kewaliannya diketahui orang lain, namun dirinya sendiri tidak mengetahuinya.
  3. Wali yang tidak mengetahui dirinya adalah seorang wali, dan orang lain pun juga tidak mengetahui tentang kewaliannya, (namun orang yang mengetahui kewaliannya itu lebih utama).

(Kitab Tuhfatul Ahbab 223)


Baca Selengkapnya »

Older Posts

Kajian Kitab Adabul 'Alim Wal Muta'alim


Kajian Kitab Adabul 'Alim wal Muta'alim karya Hadhratusyeikh Hasyim Asy'ari

Habib Novel al-'Aydrus



Baca Selengkapnya »




Older Posts

AHLUSSUNNAH DAN DINAMIKA PERBEDAAN


Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa selepas perang Khandaq, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ di waktu Ashar, menyampaikan wahyu agar beliau dan kaum muslimin bergegas menuju ke perkampungan Yahudi Bani Quraidhah, dan sesegera mungkin meninggalkan Khandaq. Mendapat mandat itu, Rasulullah ﷺ bergegas memerintah para sahabat segera pergi ke tempat yang dimaksud, seraya bersabda :

(ألا لا يصلين أحد العصر إلا في بني قريظة (رواه البخاري

“Ingatlah, janganlah salah seorang diantara kalian melaksanakan shalat Ashar, kecuali di perkampungan Bani Quraidhah” (HR. Bukhari).

Memahami sabda Rasulullah ﷺ tersebut, para sahabat terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama memahami perintah tersebut apa adanya, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar di kampung Quraidhah. Sedangkan sisanya tidak memahami demikian. Bagi mereka, inti dari sabda tersebut adalah agar mereka segera pergi meninggalkan Khandaq. Adapun terkait shalat Ashar, bukanlah menjadi inti yang dikehendaki Baginda Nabi. Sehingga merekapun mendirikannya di tengah perjalanan. Saat perihal perbedaan penafsiran tersebut sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak menegur salah satunya.

Menurut Dr. Said Ramadhan al-Buthy, peristiwa tersebut menjadi landasan bahwa terjadinya perbedaan di ranah furu’ (cabang agama) adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindari, dan hal tersebut langsung mendapat legitimasi dari Rasulullah sendiri. Andai pemahaman terhadap teks syariah itu harus tunggal, tentu Rasulullah ﷺ akan menegur serta menyalahkan salah satunya. Tapi kenyataannya tidak demikian.

Keniscayaan adanya perbedaan tersebut semakin diperkuat oleh sejumlah faktor, diantaranya :
(1) perbedaan kadar tingkat kepahaman yang dimiliki setiap orang, tak terkecuali para sahabat Nabi,
(2) karakter teks-teks wahyu (Al-Qur'an dan hadits) yang didominasi oleh teks yang sifatnya multi-interpretasi (dzanniyud-dallah),
dan yang terakhir (3) karakter bahasa Arab yang menjadi sarana utama wahyu memiliki sejumlah piranti kebahasaan yang membuka peluang untuk banyak penafsiran, seperti haqiqoh, majaz, musytarok, dan lain sebagainya. Sehingga dari situ, dapat disimpulkan bahwa perbedaan penafsiran menjadi sunnatullah yang pasti terjadi.

Lantas pertanyaannya, mengapa Allah – sebagai Dzat yang menurunkan wahyu – menghendaki agar hukum-hukum syariah-Nya bersifat luas dan terbuka untuk lebih dari satu penafsiran? Dalam hal ini, mari kita simak pernyataan salah satu Ulama generasi salaf, Al-Imam ‘Aun bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu sebagaimana dilansir oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya,
”Aku tidak suka seandainya para sahabat Rasulullah tidak berbeda pendapat. Sebab jika mereka semua selalu bersepakat atas segala sesuatu, maka jika ada salah seorang beramal tidak sesuai dengan hal tersebut, maka dia dianggap telah meninggalkan As-Sunnah. Namun jika mereka berbeda pendapat, dan seseorang mengamalkan salah satu pendapat mereka, maka dia tetap terhitung sedang mengamalkan As-Sunnah” (Sunan ad-Darimi).

Senada dengan itu, Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz pernah berkata,
“Aku tidak suka seandainya para sahabat Rasulullah tidak berbeda pendapat. Sebab seandainya hanya ada satu pendapat saja, maka manusia berada dalam kesusahan”.

Pernyataan mereka tersebut menyiratkan beberapa hal.

Pertama, bahwa perbedaan dalam memahami teks wahyu sudah terjadi bahkan diantara para sahabat Nabi.
Kedua, dalam perbedaan di ranah furuiyyah, masing-masing sejatinya telah mengamalkan syariat sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakini kebenarannya.
Dan ketiga, bahwa perbedaan tersebut adalah rahmat, karena membawa umat pada kemudahan dalam menjalankan ajaran agamanya. Dan inilah hikmah terbesar mengapa kebanyakan teks-teks syariat yang tertuang dalam Al-Qur'an dan hadits dikehendaki oleh Allah bersifat dzannî.

Karena perbedaan adalah suatu yang niscaya dan pasti terjadi, maka sikap yang wajib dilakukan adalah saling menghargai dan tidak fanatik terhadap satu pendapat tertentu. Dalam hal ini, Hadhratusy-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari berkata,
“Wahai para ulama yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid benar, dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini.”

Barangkali ada yang bertanya, bukankah Allah dalam sejumlah ayat Al-Qur'an mencela perbedaan pendapat? Sebagaimana yang bisa kita baca di QS Al-Anfal : 46, dan QS Ar-Rum : 31-32. Jawabannya adalah, yang dimaksud perbedaan yang dicela pada ayat-ayat tersebut adalah perbedaan pada ranah pokok agama (Ushuluddin) yang ditetapkan berdasarkan dalil qath’î, bukan perkara furuiyyah yang ditetapkan dengan dalil dzannî. Imam al-Qurtuby berkata :
“Ayat tersebut sama sekali bukan dalil atas keharaman perbedaan pendapat dalam masalah furuiyyah. Sebab hal tersebut bukan disebut ikhtilaf (yang hakiki). Ikhtilaf yang dicela dalam ayat tersebut adalah sebuah sikap perbedaan pendapat yang tidak bisa dikumpulkan serta dikompromikan. Adapun permasalahan yang sifatnya ijtihadi, perbedaan pendapat yang ada timbul berdasar pada perbedaan penyimpulan makna. Dan para sahabat berbeda pendapat dalam menentukan hukum suatu masalah, tapi meski demikian mereka dapat harmonis ”

Apa yang dipaparkan Imam al-Qurthubi di atas juga disepakati oleh para mufassir lainnya dari klasik hingga kontemporer. Dr. Wahbah Zuhaili berkata,
“Perbedaan yang terlarang adalah perbedaan dalam soal akidah dan pokok agama. Adapun perbedaan fuqaha dalam masalah furu’ adalah sangat terpuji, tidak tercela, dan bukti kemudahan syari’at”

Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan, bahwa perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang mustahil dihindari. Dan hal itu terbukti bahwa para sahabat sebagai generasi terbaik umat ini telah mencontohkannya. Bahkan lebih dari itu, perbedaan madzhab fikih adalah salah satu bentuk kemudahan syariat Islam, dimana ada sekian banyak opsi pendapat antar madzhab bahkan tak jarang antar ulama dalam satu madzhab.

Maka sangat jelas seterang mentari, bahwa ajakan kaum anti-madzhab untuk meninggalkan madzhab-madzhab fikih yang sudah ada, dengan inisiatif membentuk madzhab tunggal versi mereka, adalah ajakan yang sulit dinalar oleh akal sehat, dan pasti akan berujung sia-sia. Sebab hal itu sama saja ingin melabrak sunnatullah, sebagaimana keinginan agar matahari terbit dari barat, disamping juga pasti akan bertabrakan dengan fakta sejarah yang ada.

Padahal, jika kita telaah lebih teliti, ajakan kaum anti-madzhab sejatinya adalah kampanye yang picik. Sebab dengan mengajak meninggalkan madzhab, mereka sejatinya hendak menggiring umat Islam mengikuti madzhab baru, yaitu madzhab mereka sendiri. Dan tampaknya, fenomena ini sudah ada sejak lama. Sehingga Al-Imam al-Hafidz Jalaluddîn as-Suyuthî (w. 911 H) pernah menyematkan gelar bodoh bagi pengikut aliran ini. Beliau berkata,
“Ketahuilah sesungguhnya adanya perbedaan madzhab dalam agama ini merupakan suatu nikmat yang besar, dan keutamaan yang agung. Ia memiliki rahasia tersembunyi yang hanya bisa diketahui oleh mereka yang berilmu, dan tertutup bagi orang yang bodoh. Hingga pada suatu hari aku pernah mendengar seorang bodoh berkata : “Sesungguhnya Nabi datang membawa syariat yang satu. Lantas dari mana madzhab empat ini berasal?!”

[Sidogiri Media]

Baca Selengkapnya »

Older Posts

Mengapa Syeikh al-Albani ditolak oleh Ulama se-Dunia?



Berikut penjelasan dari DR. Zulhendri Rais, murid Syeikh Ali Jum'ah

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Di Mana Allah?





Jika Allah berada di langit atau Arsy, maka berarti langit atau Arsy lebih besar dari Allah.

Lalu apa maknanya Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Jika Allah berada di langit atau di Arsy, di manakah Allah sebelum menciptakan langit atau Arsy?

Langit dan Arsy itu makhluk sedangkan Allah Dzat Maha Pencipta ada tanpa tempat dan waktu.

Baca Selengkapnya »




Older Posts

Ibnu Muljam, Khawarij Hafidz Qur’an yang Membunuh Sayyidina Ali


Oleh: Rizal Mumazziq Z

Sang Pintu Ilmu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, suatu ketika didemo secara pribadi oleh seorang rakyatnya.

“Dulu, di zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman (radhiyallahu ‘anhum) kondisi negara stabil. Kini, di era engkau menjadi pemimpin, kondisinya tidak stabil.” Ada protes terselubung dalam statemen rakyat ini. Sayyidina Ali tersenyum.

“Pada masa beliau bertiga itu,” kata Ali, “yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”

Beda zaman, beda tindakan. Beda era, beda pula reaksi atas sebuah kejadian. Di era kepemimpinan menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut, daerah kekuasaan Islam bertambah luas. Para sahabat Rasulullah juga banyak yang sudah bermigrasi ke kawasan lain.

Selain dikelilingi sahabatnya yang loyal, Sayyidina Ali juga dikerubuti orang-orang aneh; sekelompok orang dengan jalan pikiran ekstrem.

Mereka bergabung dengan kubu Sayyidina Ali, lalu keluar dari barisan manakala menantu Rasulullah itu memutuskan gencatan senjata dengan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.
Cinta kepada Sang Pintu Ilmu berubah menjadi benci. Mereka menyolidkan diri menjadi sebuah gerakan oposisi ekstrem. Pernah, suatu waktu, Abdullah ibn Abbas diperintah oleh Ali mengintai keseharian kelompok yang memiliki semboyan La Hukma Illa Lillah itu.

Putra Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu takjub dengan keseharian mereka: puasa di siang hari, ibadah di malam hari. Toh, meski demikian, sikap mereka keras.

Ali, suami Fathimah az-Zahra, yang mendapatkan laporan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sontak menyahut mendengar semboyan La hukma illa lillah. Kalimat benar yang dipakai untuk tujuan bathil!, sahut Ali.

Pada 17 Ramadhan, tanggal mulia yang masyhur dikenal sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an, tanggal yang juga dikenang sebagai tonggak kemenangan kaum muslimin dalam Perang Badar, adalah tanggal di mana Sayyidina Ali karramallahu wajhah ditikam pada shubuh menjelang shalat. (Riwayat lain menulis 19 Ramadhan).

Penikamnya orang kafir? Bukan. Dia adalah Abdurrahman ibn Muljam. Sosok yang menghabiskan waktu di siang hari dengan berpuasa, malam hari dengan qiyamul lail, dan konon hafal Al-Qur’an.

Kawan Ibn Muljam lainnya bertugas membunuh Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amr bin Ash radliyallahu ‘anhuma.

Jika kedua shahabat ini lolos, maka tidak dengan Sang Pintu Ilmu. Beliau justru gugur di tangan pembunuh yang meneriakkan “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” sembari menikam tubuh menantu Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika ditangkap, Ibnu Muljam berteriak meronta sembari mengutip firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).

Pada waktu mulia, shubuh; pada hari yang paling mulia, Jum’at; pada bulan yang mulia, Ramadhan; seorang ekstremis fanatik mengutip firman mulia pada saat melakukan tindakan terkutuk terhadap manusia mulia, Ali.


Sumber: dutaislam.com

Baca Selengkapnya »


Older Posts

Ahlussunnah Wal Jama'ah Zaman Now


Ustadz Muhammad Al-Habsyi






Baca Selengkapnya »



Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse