Perbedaan Antara Nabi dan Rasul
Ulama mengatakan bahwa Nabi adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syari’at namun tidak diperintah untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikannya. Sedangkan Rasul adalah seorang yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya.
Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahzab : 45).
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab : 40).
Ayat ini menggabungkan antara dua sifat beliau yaitu kenabian dan kerasulan.
Sifat-Sifat Nabi dan Rasul
Semua nabi dan rasul memiliki sifat-sifat kesempurnaan dengan tujuan untuk menguatkan risalah yang dibawa. Maka Allah telah menganugerahkan kepada mereka 4 sifat kesempurnaan bagi nabi dan rasul, yaitu :
- Shiddiq (Jujur)
- Amanah (Dipercaya)
- Tabligh (Menyampaikan)
- Fathanah (Cerdik)
- Kidhb (Bohong)
- Khianah (Berkhianat atau tidak dipercaya)
- Kitman (Menyembunyikan)
- Baladah (Bodoh)
Allah telah mengutus para rasul kepada manusia dan telah dihiasi sifat kesempurnaan melebihi makhluk Allah yang lain, namun mereka tidak terlepas dari fitrah kemanusiaan yang ada dalam dirinya. Seorang rasul tetaplah manusia biasa yang berperilaku sebagaimana manusia umumnya, seperti : makan, minum, tidur, berniaga dan lain-lain. Sifat ini jaiz bagi para rasul, artinya boleh dilakukan dan boleh pula ditinggalkan.
Jumlah Nabi dan Rasul
Adapun jumlah dari nabi dan rasul sangatlah banyak, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min : 78)
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam shahihnya dari Abu Dzar al-Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ berapakah jumlah para nabi?” beliau ﷺ bersabda, ”124.000.” Lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau ﷺ bersabda, ”313.”
Masih banyak pendapat tentang hal ini dan tidak perlu disebutkan karena kita tidaklah dibebankan kecuali hanya sebatas mengetahui para rasul yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang berjumlah 25 orang, yang kebanyakan mereka disebutkan di dalam firman Allah surat Al-An’am ayat 83 – 86 :
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, 'Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Isma'il, Ilyasa’, Yunus dan Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al-An’am : 83 – 86)
Di dalam ayat-ayat itu disebutkan sebanyak 18 orang ditambah lagi tujuh orang rasul lainnya di beberapa ayat berbeda yang kemudian oleh sebagian ulama dibuat sebuah susunan menjadi :
“Dan itulah hujjah Kami dari mereka yang berjumlah 18 sedangkan sisanya yang berjumlah tujuh adalah Idris, Hud, Syuaib, Shaleh. Selanjutnya Dzulkifli, Adam yang kemudian ditutup dengan orang terpilih (Muhammad ﷺ, pen).” (Al-Hawi li al-Fatawa, karya Imam Suyuthi hal 249)
Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seorang laki-laki bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah Adam adalah seorang nabi?” Beliau ﷺ menjawab,”Ya.” Kemudian orang itu bertanya,”Berapa masa antara dia dengan Nuh?” Beliau ﷺ menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Berapa masa antar Nuh dengan Ibrahim?” Beliau ﷺ menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Wahai Rasulullah berapakah jumlah para rasul?” Beliau ﷺ menjawab,”315.” Orang-orang yang meriwayatkan (hadits ini) adalah orang-orang yang bisa dipercaya.
Urutan para rasul adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Isma'il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya, 'Isa, Muhammad ﷺ. .. (Fatawa al Azhar juz VIII hal 101)
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min : 78)
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam shahihnya dari Abu Dzar al-Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ berapakah jumlah para nabi?” beliau ﷺ bersabda, ”124.000.” Lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau ﷺ bersabda, ”313.”
Masih banyak pendapat tentang hal ini dan tidak perlu disebutkan karena kita tidaklah dibebankan kecuali hanya sebatas mengetahui para rasul yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang berjumlah 25 orang, yang kebanyakan mereka disebutkan di dalam firman Allah surat Al-An’am ayat 83 – 86 :
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاء إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ. وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ. وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, 'Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Isma'il, Ilyasa’, Yunus dan Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al-An’am : 83 – 86)
Di dalam ayat-ayat itu disebutkan sebanyak 18 orang ditambah lagi tujuh orang rasul lainnya di beberapa ayat berbeda yang kemudian oleh sebagian ulama dibuat sebuah susunan menjadi :
“Dan itulah hujjah Kami dari mereka yang berjumlah 18 sedangkan sisanya yang berjumlah tujuh adalah Idris, Hud, Syuaib, Shaleh. Selanjutnya Dzulkifli, Adam yang kemudian ditutup dengan orang terpilih (Muhammad ﷺ, pen).” (Al-Hawi li al-Fatawa, karya Imam Suyuthi hal 249)
Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seorang laki-laki bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah Adam adalah seorang nabi?” Beliau ﷺ menjawab,”Ya.” Kemudian orang itu bertanya,”Berapa masa antara dia dengan Nuh?” Beliau ﷺ menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Berapa masa antar Nuh dengan Ibrahim?” Beliau ﷺ menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Wahai Rasulullah berapakah jumlah para rasul?” Beliau ﷺ menjawab,”315.” Orang-orang yang meriwayatkan (hadits ini) adalah orang-orang yang bisa dipercaya.
Urutan para rasul adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Isma'il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya, 'Isa, Muhammad ﷺ. .. (Fatawa al Azhar juz VIII hal 101)
Keutamaan Nabi dan Rasul
Allah Subhanahu wa Ta'ala meninggikan derajat sebagian rasul atas sebagian lainnya.
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Sungguh telah Kami utamakan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain”. QS. Al-Isra : 55).
Allah menjadikan Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan Nabi Muhammad ﷺ sebagai khalil-Nya, berbicara kepada Nabi Musa 'alaihissalam, mengangkat Nabi Idris 'alaihissalam pada martabat yang tinggi, dan menjadikan Nabi 'Isa 'alaihissalam sebagai hamba dan rasul-Nya serta Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putera Maryam beberapa mu’jizat, serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. (QS. Al-Baqarah : 253).
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi khalil-Nya (kekasih-Nya). (QS. An-Nisaa : 125)
Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Al-A’raf : 144).
Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisaa : 164)
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang disebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (QS. Maryam :56, 57).
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَءَاتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
قَالَ يَامُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَآءَاتَيْتًكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ
وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
Disamping itu, dari 25 orang rasul yang disebut namanya dalam Al-Qur'an, ada 5 rasul yang mendapatkan gelar Ulul ‘Azmi. Gelar Ulul Azmi sendiri diberikan kepada para rasul yang memiliki ketabahan yang luarbiasa ketika menyebarkan ajaran tauhid kepada umatnya. Namun bukan berarti rasul-rasul yang lain tidak memiliki ketabahan yang luarbiasa juga.
Adapun ayat yang berkaitan dengan Ulul Azmi terdapat dalam surat Al-Ahqaf ayat 35 sebagai berikut:
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar”
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
Allah mengumpulkan mereka dalam firmannya,
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al-Ahzab : 7)
Kita boleh mengutamakan sebagian dari para rasul atas sebagian yang lain sebagaimana Allah juga mengutamakan sebagian atas sebagian yang lain serta mengangkat sebagian dari mereka beberapa derajat. Akan tetapi kita tidak menyatakannya dengan nada membanggakan atau menyatakannya dengan nada membanggakan atau meremehkan yang diungguli.
Dalam hadits yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa seorang Yahudi telah bersumpah : ”Tidak! Demi yang memilih Musa atas sekalian manusia”. Maka seorang laki-laki dari Anshar menempeleng muka laki-laki Yahudi itu ketika mendengar ucapannya seraya mengatakan : ”Jangan kau katakan demikian sedangkan Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami!”. Maka si Yahudi itu datang menghadap Rasulullah ﷺ, dan mengadu kepada beliau. “Aku punya dzimmah (jaminan perlindungan) dan perjanjian. Lalu apa gerangan yang membuat si fulan menempeleng mukaku?” Rasulullah ﷺ kemudian bertanya kepada laki-laki Anshar tadi : ”Kenapa kamu menempeleng mukanya?”. Maka ia pun mengutarakan permasalahannya, dan Nabi akhirnya murka sampai terlihat sesuatu di muka beliau. Beliau kemudian bersabda, “Janganlah engkau melebihkan di antara nabi-nabi Allah!”.
Dalam hadits Shahih al-Bukhari dan yang lain juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Tidak layak bagi seorang hamba untuk mengatakan, Aku lebih baik daripada Yunus bin Mata!”.
Para rasul Allah telah menyampaikan risalah Ilahi, serta menjelaskan kepada semua manusia semua, yang tidak mereka ketahui. Para rasul tidak pernah menyembunyikan satu huruf pun dari risalah Ilahi. Mereka tidak merubah, menambah dan mengurangi dengan sesuatu. Allah berfirman:
Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An-Nahl : 35).
Barangsiapa yang mengkufuri salah seorang dari mereka, berarti telah mengkufuri seluruh para rasul dan kufur terhadap Allah yang mengutus mereka. Allah berfirman.
Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdo'a): “Ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS. Al-Baqarah : 285).
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa’ : 136).
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al-Ahzab : 7)
Jadi rasul-rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi adalah:
- Nabi Nuh 'alaihissalam
- Nabi Ibrahim 'alaihissalam
- Nabi Musa 'alaihissalam
- Nabi 'Isa 'alaihissalam
- Nabi Muhammad ﷺ
Semoga keselamatan tercurahkan terhadap mereka.
Dalam hadits yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa seorang Yahudi telah bersumpah : ”Tidak! Demi yang memilih Musa atas sekalian manusia”. Maka seorang laki-laki dari Anshar menempeleng muka laki-laki Yahudi itu ketika mendengar ucapannya seraya mengatakan : ”Jangan kau katakan demikian sedangkan Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami!”. Maka si Yahudi itu datang menghadap Rasulullah ﷺ, dan mengadu kepada beliau. “Aku punya dzimmah (jaminan perlindungan) dan perjanjian. Lalu apa gerangan yang membuat si fulan menempeleng mukaku?” Rasulullah ﷺ kemudian bertanya kepada laki-laki Anshar tadi : ”Kenapa kamu menempeleng mukanya?”. Maka ia pun mengutarakan permasalahannya, dan Nabi akhirnya murka sampai terlihat sesuatu di muka beliau. Beliau kemudian bersabda, “Janganlah engkau melebihkan di antara nabi-nabi Allah!”.
Dalam hadits Shahih al-Bukhari dan yang lain juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Tidak layak bagi seorang hamba untuk mengatakan, Aku lebih baik daripada Yunus bin Mata!”.
***
Kita semua wajib beriman dengan seluruh rasul itu bahwa mereka itu benar dan jujur dalam membawa risalah serta membenarkan apa yang diwahyukan kepada mereka.
Para rasul Allah telah menyampaikan risalah Ilahi, serta menjelaskan kepada semua manusia semua, yang tidak mereka ketahui. Para rasul tidak pernah menyembunyikan satu huruf pun dari risalah Ilahi. Mereka tidak merubah, menambah dan mengurangi dengan sesuatu. Allah berfirman:
فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ
Barangsiapa yang mengkufuri salah seorang dari mereka, berarti telah mengkufuri seluruh para rasul dan kufur terhadap Allah yang mengutus mereka. Allah berfirman.
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Dalam hal ittiba’. kita tidak boleh mengikuti rasul kecuali yang memang diutus untuk kita, yaitu Muhammad ﷺ, karena syari’at Nabi ﷺ telah menasakh seluruh syari’at yang sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syari’at) dan jalan yang terang (minhaj)” (QS. Al-Maidah : 48)
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Wallahu a'lam.