Hikmatul Islam | Nurul Hikmah

  • Adab dan Akhlak
  • Mutiara Hikmah
  • Kisah Hikmah
    • Kisah Hikmah
    • Hikmah Sufi
    • Biografi Ulama
    • Sirah Nabawi
  • Kalam Hikmah
    • Untaian Kalam Hikmah
    • Muhasabah
    • Mahfudzot
    • Tadzkirah
  • Qur'an dan Hadits
    • Nurul Qur'an
    • Mutiara Hadits
  • Do'a dan Shalawat
    • Do'a Harian
    • Shalawat Nabi
    • Lainnya
Home » Archive for December 2017

HIKMAH DARI SETIAP KEJADIAN


Sungguh setiap kejadian yang kita jalani dan saksikan adalah pendidikan dari Allah, agar kita mengenal-Nya, mengenal Dia Yang Maha Baik, Dia Yang Maha Kuasa, Dia Yang Maha Penyayang, Dia Yang Maha Penolong.

Allah Subhanahu wa Ta'ala‎ berfirman,
“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya: Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat." (QS. Al-Baqarah : 214)

Sayang sekali semua ini tak akan terlihat, tak akan terbaca oleh mata hati yg dipenuhi cinta duniawi dan diperbudak nafsu.

Jika mata hati kian bersih dan bening hanya takjub dan takjub akan ke Maha Indahan semua Perbuatan-Nya .. Masya Allah.

Rasulullah ﷺ menganjurkan kita untuk senantiasa berdo’a ketika melihat yang tertimpa ujian/musibah, dengan mengucapkan,

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوْفِيَى مِنْ ذَالِكَ الْبَلاَءِ {رواه الترمذى

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan diri dari apa-apa yang diujikan kepadamu dan yang telah melebihkan diriku dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Dia ciptakan.” (HR Tirmidzi)

Shared by ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ


Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Masjid Tua Palopo


 

Masjid Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu yang berlokasi di kota Palopo, Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M.

Masjid yang memiliki luas 15 m² ini diberi nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.

Masjid Tua Palopo terletak di Jl. Andi Jemma No.88, Batupasi, Wara Utara, Batupasi, Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Sejarah Masjid Tua Palopo

Pada awal abad ke-17 para pedagang yang beragama Islam datang ke Sulawesi Selatan yang kemudian menyebarkan agama Islam. Agama ini berkembang pesat semenjak kedatangan penyebar dan pengembang Islam dari Koto Tangah Minangkabau, Sumatera Barat yaitu Datuk Sulaeman, Abdul Jawad Datuk Ri Tiro, dan Abdul Makmur Datuk Ri Bandang. Ketiganya pertama kali mendarat di Bua Luwu tahun 1603.

Selanjutnya mubaliq asal Minangkabau itu berhasil mengislamkan Raja Luwu yang bergelar Payung Luru XV La Pattiware Daeng Parrebung, juga bergelar Sultan Muhammad Mudharuddin. Pengislaman ini terjadi pada tahun 1603 dan bertepatan 15 Ramadhan 1013 H. Setelah raja memeluk agama Islam, maka para pembesar dan rakyat Luwu mengikutinya. Kepesatan perkembangan agama Islam di Kerajaan Luwu mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Datu Luwu atau Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi, Sultan Abdullah Matinroe Ri Malangke yang menggantikan ayahandanya pada awal tahun 1604.

Pada awal pemerintahan Sultan Abdullah memindahkan Ibu kota Kerajaan Luwu dari Patimang ke Ware Palopo. Pertimbangan perpindahan ini berdasarkan pada teknis strategis pemerintahan dan pengembangan ajaran agama islam. Untuk mendukung perkembangan agama Islam maka Khatib Sulaeman yang kemudian bergelar Datuk Ri Patimang berhasil mendirikan sebuah masjid permanen pada tahun 1604 m di tengah kota Palopo tidak jauh dari istana. Masjid ini sampai kini masih berdiri disebut Masjid Tua Palopo.

Masjid Tua Palopo tumbuh pada zaman madya Indonesia yang berfungsi sebagai masjid Kerajaan atau masjid istana, maka dari itu letaknya berada di sebelah barat alun-alun dan masjid merupakan gambaran struktur perkotaan pada awal masa Islam di Indonesia.

Sumber : situsbudaya

Baca Selengkapnya »


Newer Posts Older Posts

Masjid Mantingan



Masjid Mantingan adalah masjid kuno di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini didirikan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1559.

Model bangunan masjid Mantingan masih kental dengan arsitektur China, seperti ubin lantai tinggi dan kereta api-undakannya dengan mendatangkan bahan dari Makao.

Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dihiasi dengan relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari diukir di batu kuning tua.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Pengawasan pekerjaan konstruksi masjid ini tak lain adalah Babah Liem Mo Han. Di dalam kompleks masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggono, penguasa terakhir Demak. Selain itu ada juga makam Waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut sebagai nama lain Syeikh Siti Jenar.

Baca Selengkapnya »


Newer Posts Older Posts

MENGGAPAI KESEMPURNAAN IMAN


Disebutkan di dalam kitab Kasyifatus-saja hal. 9 : "Barangsiapa meninggalkan empat kata (dalam Dzat Allah) maka sempurna imannya,
1. Dimana
2. Bagaimana
3. Kapan
4. Berapa

Ketika ada yang berkata kepadamu (bisa jadi berupa lintasan hatimu),
Dimanakah Allah Subhanahu wa Ta'ala? Maka jawaban yang paling tepat adalah Allah tidak bergantung kepada tempat, Allah tidak butuh tempat dan tidak terbatasi oleh zaman.

Bagaimanakah sifat dan bentuknya Allah? Maka jawablah tidak ada satu makhluk pun yang semisal Allah baik sifat maupun bentuknya.

Mulai kapankah Allah Subhanahu wa Ta'ala‎ itu ada? Maka jawablah Allah Subhanahu wa Ta'ala‎ yang pertama tanpa ada permulaan dan Allah adalah Tuhan yang akhir tanpa ada batas.

Ada berapakah Allah? Maka jawablah, Allah Subhanahu wa Ta'ala‎ adalah Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang tunggal/satu bukan karena sedikit."

Semoga bermanfaat.

آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

[Ustadz Muhammad Al-Habsyi]

‎۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞


Related Post
  • MENULIS ILMU, MENGABADIKAN ILMU 
  • ILMU TERPENDAM 
  • MEMULIAKAN ULAMA 
  • KETIKA IMAN DIUJI

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

4 CARA MUDAH HIDUP BAHAGIA


Oleh KH. Muhammad Arifin Ilham

Sahabat-sahabatku, hidup di dunia yang hanya sebentar ini tidak akan pernah lepas dari goncangan dan godaan. Karena goncangan, kita bisa jadi menangis. Karena godaan, kita bisa jadi terlena. Dan selama kita masih hidup di dunia, maka kita tidak akan pernah bisa mengharapkan untuk tidak pernah merasakan sakit. Tapi karena sakit itulah, maka kita bisa menemukan indahnya kenikmatan Allah.

Ikhwah fillah rahimahumullah, orang beriman bukanlah orang yang tidak pernah sedih. Orang beriman bukan orang yang tidak pernah marah. Orang beriman bukan orang yang tidak mungkin tergelincir. Tapi orang beriman adalah orang yang selalu berusaha menyandarkan segala permasalahan dan kebutuhannya hanya kepada Allah.

Orang beriman selalu bahagia dan enteng (senang) menjalani hidup karena dia TAAT, ISTIQAMAH, RENDAH HATI, dan BAIK SANGKA.

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menghina mereka, mereka membalas dengan ucapan do'a ‘Salam’." (QS. Al Furqan: 63)

Sahabat, sesungguhnya setan tidak pernah dan tidak akan pernah mampu menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah Jala Jalalluh (An-Nahl: 99).

Ada orang yang taat, tapi menjalani ketaatannya tidak istiqamah. Apalagi buruk sangkanya selalu dituruti. Sudah pasti hidupnya menderita. Kenapa? Karena orang yang buruk sangka maka dunia seluas ini seakan menjadi sempit baginya. Jalan ke sana, ketemu orang yang wajahnya kusut sedikit, dia sudah fikir, “pasti dia begini, pasti dia begitu”. Melihat orang yang tiba-tiba tertawa di depannya, mendadak hatinya langsung kemrungsung (tergesa-gesa, panik), “dia pasti begini, dia pasti begitu”. Orang yang kerjanya buruk sangka itu capek (payah, lelah, penat), ikhwah.

Kalau dia taat, istiqamah, baik sangka, tapi tidak rendah hati, maka hidupnya juga tidak mungkin bahagia. Bagaimana mungkin orang yang sombong bisa bahagia? Orang yang sombong, tidak tahan celaan. Tidak tahan hinaan. Terlebih lagi, dia tidak tahan pujian.

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘ala kullihaal …”

Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang bisa memberi dan mencabut kenikmatan. Kadang, saat Allah kasih kita sakit gigi. Bisa sampai berhari-hari kita mengeluhkan sakit giginya saja. Berubat kemana-mana. Muka dan hati kusut berhari-hari. Seakan-akan kalau giginya itu tidak sembuh, maka hidupnya sudah tidak nyaman, tidak betah, tidak suka, tidak ridho.

Dia lupa, bahwa Allah masih menjaga jantungnya, agar tetap berdegub, jadi dia masih bisa hidup, darahnya masih bisa mengalir. Dia lupa, bahwa Allah masih menyehatkan kaki dan tangannya, agar bisa berjalan ke doktor dan tangannya masih bisa mengusap pipinya yang lagi sakit gigi itu. Dia lupa sama nikmat Allah yang lain.

SubhaanAllah. Semoga Allah selalu beri kita nikmat sehat yang manfaat. Aamiin Allahumma aamiin.

Shared by ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Do'a Berlindung Dari Keburukan Perbuatan


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat. (HR. Muslim 2716)

Aamiin...

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Anjuran Rasulullah ﷺ Kepada ‘Aisyah Sebelum Tidur


Suatu waktu Nabi ﷺ bersabda pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika hendak tidur, “‘Aisyah, kamu jangan tidur sebelum mengkhatamkan Al-Qur’an dan menjadikan para Nabi mensyafa’atimu kelak di hari kiamat, semua orang Islam telah ridho kepadamu serta tunaikanlah haji dan umrah”. Lalu beliau ﷺ melanjutkan shalatnya. Selesai shalat ‘Aisyah bertanya, “Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, engkau perintahkan aku melakukan empat perkara dalam waktu (yang singkat) yang aku tidak bisa melaksanakannaya”.

Beliau ﷺ dengan senyum mengatakan, “Ketika kamu membaca surat Al-Ikhlash sebanyak 3 kali, maka seakan kamu telah mengkhatamkan Al-Qur’an, ketika kamu membaca shalawat atasku juga atas para nabi sebelumku, maka kami para nabi kelak di hari kiamat mensyafa’atimu, ketika kamu memohonkan ampunan semua orang mukmin maka mereka telah ridho kepadamu dan ketika kamu membaca Tasbih (lengkap), maka berarti kamu telah berhaji dan ber’umrah”.

(Dinukil dari kitab Durrotun Nashihin, hal. 341)

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال لعائشة رضي الله عنها: يا عائشة لا تنامي حتى تعملي أربعه أشياء: حتى تختمي القران وحتى تجعليالأنبياء لك شفعاء يوم القيامة، وحتى تجعلي المسلمين راضين عنك، وحتى تجعلي لك حجة وعمرة
فدخل صلى الله عليه وسلم، فبقيت على الفراش حتى أتم الصلاة، فلما أتمها قالت: يا رسول الله، فداك أبي وأمي، أمرتني أربعه أشياء لا اقدر في هذه الساعة أن افعلها ,
فتبسم رسول الله وقال: إذا قرأت قل هو الله احد ثلاثا فكأنك ختمت القران، وإذا صليت علي وعلى الأنبياء من قبلي فقد صرنا لك شفعاء يوم القيامة، وإذا استغفرت للمؤمنين فكلهم راضون عنك، وإذا قلت : سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله والله اكبر فقد حججت واعتمرت


Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Masjid Agung Banten



Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Masjid ini dikenali dari bentuk menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar.

Masjid ini dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Banten terletak di desa Banten Lama, tepatnya di Desa Banten, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Akses ke lokasi dapat dituju dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Dari terminal Terminal Pakupatan, Serang menggunakan bis jurusan Banten Lama atau mencarter mobil angkutan kota menuju lokasi selama lebih kurang setengah jam.

Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China yang juga merupakan karya arsitek Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid ini. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel.

Menara yang menjadi ciri khas Masjid Banten terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.

Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 km.

Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.

Sumber : wikipedia

Baca Selengkapnya »


Newer Posts Older Posts

Meluruskan Sunnah Rasul Malam Jum'at


Beberapa tahun belakangan setiap hari Kamis tiba sebagian masyarakat bercanda satu sama lain dengan ucapan, “Sudah hari Kamis lagi, sunnah rasul,” “Jangan ganggu, malam ini sunnah rasul,” “Malam Jumatan, sunnah rasul,” atau sedikit rasial “Ayo membunuh Yahudi,” dan banyak istilah lain dengan makna serupa.

Semua istilah itu kerap diartikan sebagai aktivitas hubungan suami-istri. Canda atau guyon semacam ini menjadi sangat lazim didengar seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang mempercepat peredaran pesan.

Canda atau guyon sebenarnya tidak masalah dalam agama. Hanya saja kalau mau tahu kedudukan hukum agama sebenarnya, kita perlu mendapat penjelasan ahli hukum Islam terkait hubungan sunnah rasul, malam Jum'at, dan hubungan intim suami-istri.

وليس في السنة استحباب الجماع في ليال معينة كالاثنين أو الجمعة، ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة.

Artinya, “Di dalam sunnah tidak ada anjuran berhubungan seksual suami-istri di malam-malam tertentu, antara lain malam Senin atau malam Jumat. Tetapi ada segelintir ulama menyatakan anjuran hubungan seksual di malam Jumat,” (Lihat Syeikh Wahbah az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 3 halaman 556).

Keterangan Syeikh Wahbah az-Zuhayli ini dengan terang menyebutkan bahwa sunnah Rasulullah tidak menganjurkan hubungan suami-istri secara khusus di malam Jumat. Kalau pun ada anjuran, itu datang dari segelintir ulama. Meski demikian, Syeikh Wahbah sendiri tidak menyangkal bahwa hubungan intim suami-istri mengandung pahala. Hanya saja tidak ada kesunnahan melakukannya secara prioritas di malam Jum'at. Artinya, hubungan intim itu boleh dilakukan di hari apa saja tanpa mengistimewakan hari atau waktu-waktu tertentu.

Penjelasan kedudukan hukum ini menjadi penting agar tidak ada reduksi pada sunnah rasul yang begitu luas itu. Karena banyak anjuran lain yang baiknya dikerjakan di malam Jum'at seperti memperbanyak Shalawat Nabi, membaca surat Yasin, Al-Jumuah, Al-Kahfi, Al-Waqiah, istighfar, dan mendo'akan orang-orang beriman yang telah wafat. Sementara guyonan dengan istilah semacam ini tidak masalah. Kalaupun sekadar guyon, baiknya istilah-istilah ini cukup terbatas di kalangan orang dewasa saja. Wallahu a‘lam.

Sumber: NU Online

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

KH. Adlan Aly, Sosok Yang Wara’, Zuhud dan Tawadhu’


Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Putri Wali Songo, Cukir, Jombang, Jawa Timur, dan Ketua Umum pertama Jam’iyyah Ahlit-Thariqah Al-Mu’tabarahan-Nahdliyyah (JATMAN), organisasi tarekat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini dikenal sebagai sosok yang wara’, zuhud, dan tawadlu'.

Lahir pada tanggal 3 Juni 1900 di Pesantren Maskumambang, Dukun, Sedayu, Gresik, dari pasangan Nyai Hj. Muchsinah binti KH. Abdul Jabbar dan KH. Ali. Saudaranya adalah KH. Ma’shum, H.M. Mahbub, dan Nyai Mus’idah Rohimah. Kakaknya, KH. Ma’shum Ali, kemudian menjadi menantu KH. Hasyim Asy’ari dan penulis buku terkenal. Kiai Adlan Aly tumbuh dan dididik sejak kecil dalam lingkungan keluarga pesantren. Kakeknya, KH. Abdul Jabbar (wafat 1903), adalah pendiri Pondok Pesantren Maskumambang Gresik di tahun 1859. Awalnya Kiai Adlan Aly nyantri kepada sang ayah, KH. Ali, di Pesantren Maskumambang. Kemudian menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng, dan terbilang sebagai santri generasi awal KH. Hasyim Asy’ari. Adalah kebanggaan para santri di Jawa waktu itu menambah ilmu dan berguru kepada pendiri NU ini.

Kiai Adlan Aly menikah dengan Nyai Hj. Ramlah. Dari pasangan ini lahir putra-putri: Nyai Hj. Mustaghfiroh, KH. Ahmad Hamdan, Nyai Hj. Sholikhah dan KH. Abdul Djabbar. Dalam perjalanan pulang usai menunaikan ibadah haji dari Makkah pada tahun 1939, sang isteri wafat  dan dimakamkan di Pulau We, Aceh. Setelah itu beliau dijodohkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan keponakannya yang bernama Nyai Hj. Halimah,yang menemani sang kiai selama 40 tahun hingga wafat di tahun 1982. Selanjutnya Kiai Adlan Aly menikah lagi dengan Nyai Hj. Musyaffa’ah Ahmad, seorang ustazah dari Desa Keras, Diwek, Jombang, pada tahun 1982, sebelum berpulang ke Rahmatullah delapan tahun kemudian. Dari pernikahannya yang kedua dan ketiga ini, Kiai Adlan Aly tidak dikaruniai satupun anak.

Ketika kakaknya mendirikan pesantren sendiri di Seblak, Jombang, pada tahun 1926, Kiai Adlan Aly ikut pindah walau tetap menuntut ilmu di Tebuireng. Beberapa lama kemudian, beliau membangun rumah sekaligus pondok di Cukir, tetangga Tebuireng, serta membuka toko kitab di depan pasar Cukir. Setelah NU berdiri, KH. Hasyim Asy’ari memanggil santri favoritnya ini, bersama-sama KH. Abdul Karim Gresik dan H. Sufri, untuk membentuk  kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari Pesantren Cukir inilah Kiai Adlan Aly berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan Ali dipercaya sebagai pemimpin sidang. Termasuk ketika membahas masalah Tarekat Tijaniyah yang sempat bikin panas muktamar. Meski akhirnya forum perdebatan yang langsung dipimpin sendiri oleh KH. Hasyim Asy’ari itu memutuskan bahwa Tijaniyah dianggap sebagai tarekat mu’tabarah.

Kiai Adlan Aly memang dikenal sebagai tokoh tarekat dan menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Padahal gurunya sendiri, KH. Hasyim Asy‘ari, dan komunitas Pesantren Tebuireng, tidak mengamalkan satu tarekat pun. Ijazah irsyad (perkenan untuk menjadi mursyid atau guru dalam satu tarekat) beliau dapatkan dari guru tarekatnya, KH. Muslih Abdurrahman Mranggen, Demak. Yang terakhir ini memang dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan banyak memberi ijazah kepada para ulama Jawa. Selain itu, Kiai Adlan Aly juga memperoleh ijazah tarekat tersebut dari KH. Romly Tamim Rejoso, Jombang.

Kemudian, pada Muktamar NU ke-26 di Semarang tahun 1979, Kiai Adlan Aly terpilih sebagai ketua umum pertama Jam’iyyah Ahlit-Thariqah Al-Mu’tabarahan-Nahdliyyah (JATMAN). Dan memang baru pada muktamar kali ini NU punya organisasi tarekat sendiri berskala nasional. Karena sebelumnya ada organisasi tarekat yang dipimpin oleh KH. Musta’in Romly, putra KH. Romly Tamim Rejoso. Tapi para kiai dan ulama tarekat meninggalkan organisasi tarekat bernama Jam’iyyah Ahli-t-Thariqah al-Mu’tabarah ini. Soalnya KH. Musta’in Romly bergabung ke Golkar bersama dengan organisasi tarekatnya di tahun 1970-an. Ketika Kiai Adlan Aly terpilih sebagai Ketua Umum JATMAN, muncul suara miring yang menyebut beliau berambisi memimpin organisasi tarekat karena bersaing dengan Kiai Musta’in yang sama-sama ulama tarekat Jombang. Namun, tuduhan itu terbukti tidak benar. Karena ternyata yang meminta pembentukan organisasi tarekat baru itu di Muktamar NU Semarang adalah KH. Muslih Abdurrahman sendiri, guru tarekat para ulama pesantren.

Sejak itu, anak-anak Pesantren Tebuireng kalau ingin gabung ke tarekat, patronnya adalah Kiai Adlan Aly. Di Tebuireng beliau juga mengajar kitab-kitab, seperti Fathul Qarib, Fathul Wahab, al-Muhadzab, Manhaj Dzawinnazhar, Jam’ul Jawami, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Munir karya Syaikh Nawawi al-Bantani, dan juga kitab Shahih Bukhari–Muslim. Ketika Kiai KH. Hasyim Asy’ari memimpin Tebuireng (1955-1965), Kiai Adlan Aly bersama K.H. Idris Kamali juga dipercaya memimpin pengajian kitab-kitab kelas tinggi. Kiai Adlan Aly dikenal dekat dengan masyarakat, sekaligus aktif berjuang membela kepentingan mereka. Bahkan setiap undangan dari para jamaahnya selalu beliau datangi. Bahkan di usia senjanya, rela dibonceng dengan sepeda motor untuk menempuh jarak sejauh untuk mendatangi undangan seorang jamaahnya. Padahal beliau dikenal di masa mudanya – di sekitar tahun 1925 – sebagai jago balap mobil. Waktu lampu mobil masih menggunakan karbit, beliau sudah sering ngebut.

Di masa pendudukan Jepang, sewaktu menjabat sebagai Rois Syuriyah NU di Jawa Timur, Kiai Adlan Aly bersama H. Sufri aktif mengurus kepentingan warga yang keluarganya kena wajib romusha.  Bahkan beliau sempat ditangkap oleh tentara Jepang untuk dipekerjakan dalam rombongan romusha. Tapi sempat menghilang dan akhirnya kembali ke rumah dengan selamat. Usai Proklamasi Kemerdekaan 1945, beliau bergabung ke dalam Barisan Sabilillah – sebuah laskar ulama-pesantren yang dikomandani langsung oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah di tingkat nasional. Selain menggalang dana untuk perjuangan laskar-laskar santri dan ulama, Sabilillah dan Hizbullah, Kiai Adlan Aly juga ikut berperang di garis depan untuk membendung laju tentara Belanda yang bermaksud menguasai kembali daerah Jawa Timur pasca perang 10 November 1945 di Surabaya. Usai revolusi kemerdekaan, Kiai Adlan Aly kembali ke pesantren membenahi sistem pendidikan. Fokus utama beliau adalah pendirian pondok putri, mewujudkan amanah gurunya, KH. Hasyim Asy’ari. Pada awal abad ke-20 kebanyakan yang nyantri di pondok adalah laki-laki. Meski ada perempuan yang nyantri, mereka tidak mondok. Karena pesantren memang tidak menyediakan asrama putri. Beberapa lama kemudian, ada inovasi baru, sejumlah pesantren mulai membuka pondok putri. Pesantren Manba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, misalnya, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri (salah seorang pendiri NU), sudah memulai membuka pondok putri. Sementara Pesantren Tebuireng sendiri belum melakukannya, meski banyak perempuan santri yang ingin mondok di pesantren. Masalah itu segera direspons oleh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menunjuk KH. Adlan Aly, santri kesayangan beliau, untuk membuka pesantren putri di Desa Cukir.

Empat tahun setelah wafatnya sang guru di tahun 1947, Kiai Adlan Aly baru bisa merealisasikan rencana itu. Pondok putri itu diberi nama Madrasah Mu’allimat Cukir. Pondok itu juga bernilai strategis bagi masyarakat Jombang. Diketahui banyak anak-anak putri tamatan Madrasah Ibtidaiyyah tidak dapat melanjutkan belajar keluar daerah karena keterbatasan biaya. Daerah Cukir dan sekitarnya juga belum memiliki sekolah lanjutan setingkat SMP dan SMA. Akhirnya diadakan musyawarah dan sepakat mendirikan pondok dengan nama Madrasah Mu’allimat Cukir. Bersamaan dengan kedatangan para santri putri dan pelajar putri yang ingin mondok, Kiai Adlan Aly lalu membangun asrama sederhana di belakang rumahnya. Pondok itu kemudian berkembang. Para santri putri kian banyak. Terutama dari luar Jombang, sehingga pondok itu dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Wali Songo. Dan hingga kini pesantren itu berkembang menjadi sebuah pesantren modern, lengkap dengan berbagai fasilitas belajar-mengajar dan penunjang kehidupan kaum santri di dalam  pondok. Tidak terkecuali, pelajaran ngaji kitab kuning, yang wajib untuk semua santri, tetap dilestarikan dan dikembangkan.

Sukses mengembangkan pesantren dan organisasi tarekat, Kiai Adlan Aly kemudian berkecimpung dalam dunia politik, meski hanya sebatas di lingkungan Kabupaten Jombang. Menjelang Pemilu 1987, Kiai Adlan Aly berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan, lalu terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Jombang, Jawa Timur, periode 1988-1993.

KH. Adlan Aly wafat pada tanggal 17 Rabi'ul Awwal 1411 H/6 Oktober 1990 M dalam usia 90 tahun. Ulama kharismatik ini kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang.

Semoga  rahmat Allah senantiasa tercurahkan ke atas roh beliau, diampuni segala khilaf dan dosa-dosanya, dan ditempatkan beliau di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Fatihah....

Sumber: suarapesantren.net

Baca Selengkapnya »



Newer Posts Older Posts

Masjid Kuno Bayan Beleq



Kapan masjid ini didirikan tidak diketahui dengan pasti karena minimnya sumber tertulis yang ada. Namun, masyarakat setempat meyakini bahwa masjid tersebut telah berumur ratusan tahun, dan karena umurnya sangat tua maka disebut sebagai Masjid Kuno Bayan Beleq. Dalam bahasa Sasak, beleq berarti besar. Pada pertengahan abad 19 secara sosio-politik Lombok dikuasai Kerajaan Karangasem, Bali. Pengaruh Hindu, Islam, Jawa dan Bali tersebut tampak pada masjid ini.

Masjid ini memiliki denah berbentuk bujur sangkar, mengecil ke atas, berukuran 8,7 x 8,7 meter. Seperti halnya bangunan Joglo Jawa, konstruksi yang menopang bangunan berupa empat soko guru terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder setinggi 5,5 meter. Tiang-tiang tersebut menopang atap puncak yang berbentuk tajug. Besar dan kemiringan atap yang tajam ini lebih bercorak Bali.

Masjid Kuno Bayan Beleq ini acapkali disebut juga dengan masjid makam, karena di sekeliling area masjid ini ditemukan makam. Terdapat enam makam di area tersebut, yaitu makam Plawangan, makam Karangsalah, makam Anyar, makam Reak, makam Titis Mas Penghulu, dan makam Sesait. Makam Plawangan terletak di sebelah selatan masjid. Makam Karangsalah terletak di sebelah timur laut masjid. Makam Anyar terletak di sebelah barat laut masjid. Makam Titis Mas Penghulu terletak di sebelah utara masjid, sedangkan makam Sesait berada di sebelah utara masjid. Makam tersebut disinyalir merupakan makam tokoh-tokoh yang menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok. Makam tersebut didominasi bahan dasar bedek (dinding yang terbuat dari bambu).

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan bangunan tunggal dengan corak arsitektur Lombok ditandai dengan rendahnya dinding dan pintu masuk, kurang lebih 1,5 meter. Pintu dan mihrab ukurannya sama sehingga memberikan kesan simetri. Mihrab dinding sisi barat yang sangat rendah terbuat dari papan kayu suren yang berjumlah 18 bilah. Perbedaan tinggi dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan iman tidaklah sama dengan makmum.

Masjid ini berpintu satu, seperti rumah Sasak pada umumnya. Seperti halnya masjid Jawa, masjid ini dilengkapi bedug yang digantungkan ke rangka utama bangunan. Mimbar masjidnya dibuat dari kayu dengan ornamen burung lambang kemakmuran. Seluruh dinding masjid ini terbuat dari anyaman bambu. Sementara itu, fondasi lantainya terbuat dari batu kali, sedangkan lantai masjid terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh.

Meskipun masjid ini sangat sederhana dan berbahan utama dari bambu, akan tetapi bernilai sejarah dan arsitektural yang tinggi. Kini masjid ini tidak digunakan lagi untuk ibadah setiap hari. Masjid ini hanya digunakan pada hari-hari besar atau hari-hari keagamaan tertentu saja, dan tidak semua orang Islam di sana melakukan salat. Yang melakukan salat di sana hanyalah para Kyai, mulai dari Kyai Ketip (Khatib), Kyai Lebe, Kyai Penghulu, Kyai Modin, Kyai Raden, dan Kyai Santri.

Sesuai dengan papan yang berada di lingkungan masjid ini, dapat diketahui bahwa Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan situs cagar budaya yang dilindungi dengan UU tentang Cagar Budaya.

Sumber : situsbudaya.id

Baca Selengkapnya »


Newer Posts Older Posts

TUJUH KUNCI PENJURU KEBAHAGIAAN


SETIAP manusia mengidamkan kebahagiaan dalam hidupnya. Hidup yang bahagia, dilimpahi jutaan karunia dan dikeliling kebaikan. Hingga semua orang terlantas saling bergerak mengupayakan kebahagiaannya.

Beberapa memulainya dengan merencanakan masa depan, lalu secara perlahan menentukan strategi kehidupan yang diinginkannya.

Tapi kita seringkali terjebak dalam definisi kesuksesan yang materialistik; berharta triliun, berkendaraan pribadi, berperusahaan, berkantong tebal. Hingga tak kita kenali bahwa kesuksesan dan kebahagiaan adalah apa yang terlahir dari dalam hati. Ya, bahagia itu sederhana dan bahkan sangat dekat. Karena ia ada dalam hati.

Tokoh-tokoh besar yang berpenghasilan milyaran perbulannya, memiliki real estate di banyak tempat, memiliki pulau pribadi, hingga tak habis akalnya berpikir bagaimana caranya menghabiskan hartanya. Bahkan hingga tak terasa yang banyak itu seakan tak memberikan nikmat dalam penggunaannya. Lebih dari itu, banyak pula orang yang begitu berani mengakhiri hidupnya justru di kala kariernya berada di puncak.

Kemudian apakah sesungguhnya kebahagiaan itu? Dimanakah letak kebahagiaan itu? Bisakah ia dibeli atau ditukar?

Jawabannya sederhana, sahabat. Kebahagiaan itu ada dalam beberapa makna, yaitu:

✔ PERTAMA, letaknya ada dalam hati yang penuh syukur

Al-Qur'an mengingatkan;
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.” (QS. Ibrahim : 7)

Allah berikan pemakluman, bahwa insan tersering lalai dan lupa. Ia, Sang Maha Pemberi berjanji akan membalasnya berlipat kali, jika kita mensyukuri segala apa yang tertakdir untuk dijalani. Tapi, lihatlah jika kita yang telah dimafhumi juga kemudian ingkar, Ia hanya memberi jelaskan bahwa azab-Nya tak mampu kita tanggung. Maka akankah pikir kita merentang di jeda antara syukur atau kufur dengan kesadaran diri bahwa kita adalah hamba yang selayaknya memuja. Bukan senantiasa terus meminta dan terlupa ucap terima kasih kepada-Nya.

✔ KEDUA, menjelma dalam harta yang halal

Takarlah dan hisablah kali pertama sebelum segala apa yang tersuap ke dalam lambung kita. Makanan dan minuman itu, apakah semuanya terjamin dari harta yang halal atau tersubhat dengan sesuatu yang kotor lagi riba. Sedikit atau banyaknya akan merusak kebaikan, menghanguskan keberkahan dan mendatangkan siksa.

Maka mengapa kita menyerah dan berputus asa terhadap rezeki yang halal lagi baik. Karena Allah-lah yang memberi dan menggariskan jalan rezeki. Melalui kedua tangan yang terus mengais dan hati yang terus mendekat, dunia dan seisinya bahkan akan mengejar kita. Kita hanya diwajibkan berikhtiar, sisanya izinkan Allah yang melaksanakan bagiannya. Bukankah Allah Maha Segala Daya.

“Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut : 60)

✔ KETIGA, bahagia karena agama menawarkan sejuta keselamatan

Tsaqofah terhadap dien ini, menghadirkan kesejukan dan kebahagiaan ruhiyah yang luar biasa. Islam itu adalah apa yang terlahir dari pemahaman yang menghadirkan kedamaian.

✔ KEEMPAT, umur yang diberkahi

Umur yang berkah dan mendatangkan keberkahan itu terletak dalam ketaatan, menginfakkan sebagian hartanya di sepanjang jalan dakwah dan mengharapkan surga sebagai visi hidupnya.

“Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kebahagiaan.” (QS. Al-Lail : 5-7)

✔ KELIMA, pasangan yang sholeh

“…. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang…” (QS. An-Nur : 26)

✔ KEENAM, anak yang menyenangkan

Jadilah mereka sebagai qurota a’yun (sebagai penyejuk mata) yang mendatangkan kebahagiaan kala memandangnya, yang menyejukkan kala mendengar suaranya dan menghangatkan dalam dekap peluknya. Mereka buah hati yang menyenangkan kala di dunia dan menghaturkan pahala kala di surga. Sungguh bahkan betapa indah kala mereka mampu menjadi bagian dari anak-anak yang berjiwa Qur’ani dan mencintai Rabb-nya.

✔ KETUJUH, lingkungan Madani (ed: masyarakat yang berperadaban)

Kita bisa belajar dan melayani pada lingkungan. Hal ini menyemangati kebahagiaan pribadi kita untuk mendorong terciptanya kebahagiaan sesama antara kita.

Amal sosial (al-ijtimaiyah) mencipta lingkungan agar lebih madani dan sejahtera. Sehingga itu, bahagia bukan hanya milik aku, kamu atau dia. Tapi kita.

وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب

Shared by ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

SAYYIDUL ISTIGHFAR


عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ:اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ, “Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan :

ALLAHUMMA ANTA RABBII LA ILAHA ILLA ANTA KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UDZU BIKA MIN SYARRI MA SHANA’TU ABU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABU`U BIDZANBII FAGHFIRLI FA INNAHU LA YAGHFIRU ADZ DZUNUBA ILLA ANTA

(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

(Beliau bersabda) “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1. Imam al-Bukhari dalam shahîhnya (no. 6306, 6323) dan al-Adabul Mufrad (no. 617, 620)
2. Imam an-Nasa'i (VIII/279), as-Sunanul Kubra (no. 9763, 10225), dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 19, 468, dan 587)
3. Imam Ibnu Hibban (no. 928-929-at-Ta’liqatul Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban)
4. Imam ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 7172), al-Mu’jamul Ausath (no. 1018), dan dalam kitab ad-Du’aa (no. 312-313)
5. al-Hakim (II/458)
6. Imam Ahmad dalam musnadnya (IV/122, 124-125)
7. Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 1308), dan lainnya dari Shahabat Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Sanjungan Kepada Kanjeng Nabi


مولاى صلى و سلم دائما أبدا على حبيبك خير الخلق كلهم
Maula ya shalli wa sallim daiman abada 'ala habibika khairil khalqi kullihimi

Wahai Tuhan kami (Allah Subhanahu wa Ta'ala) limpahkanlah shalawat dan salam selalu selama-lamanya dan abadi kepada Kekasihmu, yang terbaik di antara semua makhluk

هو الحبيب الذي ترجى شفاعته لكل هول من الأهوال مقتحم
Huwal habibul ladhi turja syafa'atuhu likulli haulin minal ahwali muqtahami

Beliau ﷺ adalah kekasih yang diharapkan syafa'atnya dalam segala kesulitan, dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap

يا رب بالمصطفى بلغ مقاصدن واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم
Ya Rabbi bil Musthafa balligh maqashidana waghfir lana ma madha ya wasi'al karami

Wahai Allah demi Al-Musthafa Muhammad ﷺ sampaikanlah maksud dan hajat-hajat kami. Dan ampunilah dosa-dosa kami yang terdahulu wahai yang Maha Luas dan wahai yang Maha Dermawan

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Masjid Teungku Dipucok Krueng



Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa kekuasan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636 M). Dimulai sekitar tahun 1622 atas kesepakatan masyarakat Beuracan, masjid ini didirikan tak jauh dari sungai, dengan pertimbangan memudahkan dalam pengambilan air wudhu untuk bersuci. Pada tahun 1947 masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat).

Masjid Tengku Dipucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya sekawasan ini, sehingga selain digunakan warga Beuracan juga digunakan oleh warga ditiga kemukiman (desa) yakni kemukiman Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh. Selain membangun mesjid di Beuracan, Tengku Abdussalim juga diketahui membangun tiga masjid lainnya, yakni; Masjid Kuta Batei, Masjid Madinah dan Masjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Masjid Teungku Dipucok Krueng terletak di Jl. Raya lintas Banda Aceh-Medan, Simpang Beuracan, Kemukiman Beuracan, Gampong Kuta Trieng, Kecamatan Meureudu, Kab, Pidie Jaya, Nangroe Aceh Darussalam.

Baca Selengkapnya »


Newer Posts Older Posts

Perbanyak Shalawat di hari JUM’AT


أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro)

Membaca shalawat dianjurkan kapanpun dan di manapun. Namun memperbanyaknya sangat dianjurkan pada hari Jum’at, baik siang maupun malamnya.

Imam asy-Syafi’i dalam Al-Umm mengatakan,
.
وأحب كثرة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في كل حال وأنا في يوم الجمعة وليلتها أشد استحباب
.
“Saya suka membaca shalawat sebanyak-banyaknya kapanpun, tapi saya lebih banyak membacanya di hari Jum’at dan malamnya, karena disunahkan.”

Pendapat Imam asy-Syafi’i ini diperkuat oleh hadits riwayat Aws Ibn Aws, seperti yang dikutip Abu Bakar al-Maruzi dalam Al-Jum’ah wa Fadhluha bahwa Nabi bersabda,

إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة: فيه خلق آدم ، وفيه قبض، وفيه الصعقة ، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي. قلنا: يا رسول الله، كيف تعرض عليك صلاتنا وقد أرمت؟ يقولون: قد بليت؟ قال: إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء
.
“Jum’at merupakan hari yang paling mulia, sebab pada hari itu Nabi Adam diciptakan dan dicabut nyawanya, dan sangsakala Kiamat juga ditiup pada hari Jum’at. Karenanya, perbanyaklah shalawat kepadaku. Sejatinya shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

Kami berkata, “Bagaimana bisa sampai kepadamu padahal Engkau telah tiada? Bukankah jasadmu telah hancur?” tambah sahabat lainnya. “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan bumi untuk menghancurkan tubuh para nabi,” jawab Nabi.

Berdasarkan hadits dapat dipahami bahwa jasad para nabi termasuk Nabi Muhammad ﷺ tidak hancur ditelan bumi. Mereka dapat mendengar shalawat yang kita lantunkan setiap saat. Karenanya perbanyaklah shalawat terutama pada hari Jum’at. Dalam Dalilul Falihin disebutkan, Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat bahwa Nabi ﷺ mendengar dengan kedua telinganya setiap shalawat yang dilantunkan umatnya. Wallahu a’lam.


Related Post
  • Shalawat Adalah Ibadah Terdahsyat
  • Pahala Yang Tak Sanggup Dihitung Malaikat
  • Shalawat Yang Tak Akan Sirna Pahalanya

Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

RIDHA DAN PASRAH


Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi kepada dua yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu’ah Al-Islamiyyah Al-’Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya,
”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah : 8)

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati dan ketetapan dari Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahawa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam pengertian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman,
”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d : 11)

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha yang aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan lebat yang turun ketika itu. Ia ditanya, ”Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?” Umar menjawab, ”Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.”

Dengan demikian, timbullah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis. Wallahu a’lam.

Shared by ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ


Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Wasiat Allah Kepada Nabi Daud


وأوحى الله إلى داود عليه السلام: (يا داود) بشر المذنبين وأنذر الصديقين. فقال: وكيف أبشر المنذرين وأنذر الصديقين؟ فقال: بشر المذنبين أنه لا يتعاظمني ذنب أن أغفره، وأنذر الصديقين أن لا يعجبوا بأعمالهم فإني لا أضع عدلي ولا حسابي على أحد إلا هلك. (يا داود) كتبت الرحمة على نفسي وقضيت المغفرة على من استغفرني. أغفر الذنوب جميعها صغيرها وكبيرها ولا يكبر ذلك علي ولا يتعاظمني فلا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة ولا تقنطوا من رحمتي فإن رحمتي وسعت كل شيء ورحمتي سبقت غضبي، وخزائن السماوات والأرض بيدي والخير كله بيدي. ولم أخلق شيئاً مما خلقت لحاجة كانت مني إليه؛ ولكن لتعلم قدرتي، ويعلم الناظرون في حكم تدبيري وصنعي. (يا داود) اسمع مني والحق أقول: من لقيني من عبادي وهو يخاف عذابي لم أعذبه بناري (يا داود) اسمع مني والحق أقول: من لقيني من عبادي وهو مستح من معاصيه أنسيت حفظته ذنبه ولن أساله عنه(يا داود) اسمع مني والحق أقول: لو أن عبداً من عبادي عمل حشو الدنيا ذنوباً وهو مصر عليها ثم ندم واستغفرني مرة واحدة وعلمت من قلبه أنه لا يريد أن يعود إليها أبداً ألقيتها عنه أسرع من هبوط الطائر من السماء إلى الأرض، قال داود إلهي لك الحمد من أجل ذلك لا ينبغي لمن يعرفك أن يقطع رجاءه عنك

Allah memberi wahyu kepada Nabi Dawud 'alaihissalam,
“Hai Dawud, gembirakanlah orang-orang yang berdosa dan berilah ancaman orang-orang yang tulus (shiddiqin).”

Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku membei ancaman pada orang-orang jujur dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat dosa?” tanya Dawud.

“Bahagiakanlah orang-orang yang berbuat dosa, karena bagaimanapun besarnya dosa itu, Aku pun akan mengampuninya. Dan ancamlah orang-orang yang jujur, karena dalam kejujuran itu, mereka telah congkak dengan amal-amal mereka. Dan Aku tidak akan pernah menodai keadilan-Ku dan hisab-Ku, kecuali mereka sendiri yang merusakkannya.”

“Hai Dawud, Aku telah memastikan rahmat atas diri-Ku dan Akulah yang memberi ampun kepada siapa pun yang mohon ampun kepada-Ku, baik dosa besar atau kecil karena tak ada nilai dosa yang terbesar di hadapan-Ku. Janganlah kau binasakan dirimu dan putus asa dari rahmat-Ku dalam segala hal karena rahmat-Ku senantiasa mendahului murka-Ku.”

“Perbendaharaan langit, bumi dan seluruh kebaikan ada dalam kekuasaan-Ku.”
“Aku tak akan menciptakan sesuatu karena kebutuhan-Ku, tetapi agar engkau dapat mengetahui kekuasaan-Ku dan bagi orang-orang yang berakal agar mampu mengetahui hukum pengaturan-Ku”

“Hai Dawud, dengarkan suatu kebenaran yang akan Ku-katakan padamu. Barangsiapa di antara hamba-Ku yang takut akan siksa-Ku, maka Aku tak menyiksanya dengan neraka-Ku.”

“Dan barangsiapa di antara hamba-Ku yang merasa malu dengan kemaksiatannya, maka Aku pun akan melupakan dan tak meminta pertanggungjawaban atas dosa itu.”

“Hai Dawud, dengarkanlah sesuatu dari-Ku. Andaikata ada di antara hamba-Ku yang senantiasa tenggelam dalam dosa hingga dosanya memenuhi dunia, lalu ia menyesal dan mohon ampun pada-Ku, dan Aku telah mengetahui bahwa di dalam hatinya tidak ada niat untuk mengulanginya, maka Aku akan membuang dosa itu secepatnya, bahkan lebih cepat daripada melesatnya burung dari langit ke bumi.”

Lalu Dawud berdo'a,

إِلَهِيْ لَكَ الْحَمْدُ مِنْ أَجْلِ ذَالِكَ لَا يَنْبَغِيْ لِمَنْ يَعْرِفُكَ أَنْ يَقْطَعَ رَجَاءَهُ عَنْكَ.

“Wahai Tuhanku, untuk-Mu segala puja dan puji dari sebab itu. Tidak sepatutnya orang yang mengenal-Mu memutuskan harapannya dari-Mu.”


Penutup

اللهم آتنا من لدنك أجراً عظيماً واهدنا صراطاً مستقيماً، واجعلنا من الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقاً، ذلك الفضل من الله وكفى بالله عليماً، والحمد لله أولاً وآخراً وباطناً وظاهراً، هو الأول والآخر والظاهر والباطن وهو بكل شيء عليم، ما شاء الله لا قوة إلا بالله العلي العظيم، الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله. قال المؤلف قدس الله سره ونور ضريحه ونفع المسلمين به: وكان الفراغ من تأليفها في أحد شهور سنة تسع وستين وألف (1069) من الهجرة النبوية، على صاحبها- وهو سيدنا ومولانا ووسيلتنا إلى ربنا محمد رسول الله وعلى آله أفضل الصلاة والسلام، ما بقيت الليالي والأيام. والحمد لله رب العالمين

(Risalatul Mu'awwanah)


Baca Selengkapnya »
Newer Posts Older Posts

Untaian Kalam hikmah #06


“ Kita wajib membangun ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah sebagai pilar persatuan dan kesatuan di negeri tercinta ini. Dengan kata lain persatuan dan kesatuan merupakan syarat utama dan pertama membangun bangsa,”

(KH. Ahmad Saidi bin Said, Pengasuh Pon Pes Attauhidiyyah - Tegal)


Baca Selengkapnya »

Newer Posts Older Posts

Masjid Al-Anshor Pekojan


Foto jakarta100bars

Masjid Al-Anshor di Pekojan adalah masjid yang tertua yang masih ada di wilayah DKI Jakarta. Telah tercatat keberadaannya semenjak tahun 1648, masjid ini merupakan peninggalan orang-orang Moor di Jakarta.

Keberadaan masjid ini untuk pertama kalinya diketahui dari sebuah laporan berangka tahun 1648 yang ditujukan kepada Dewan Gereja di Batavia. Mesigit ini berada di perkampungan yang ketika itu ditinggali terutama oleh orang-orang koja (juga disebut kojah atau khoja, pedagang) kaum Moor, yakni muslim dari pesisir Koromandel, India. Belakangan, orang-orang Arab dari Hadramaut juga turut berdatangan menghuni kampung yang kini dinamai Pekojan.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Indonesia 

Masjid al-Anshor berdiri di atas tanah wakaf dari seorang-orang India dengan sertifikat nomor: M.166 tanggal 18-03-92 AIW/PPAIW: W3/011/c/4/1991 tanggal 8-5-1991. Kini, masjid ini juga dimasukkan sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang di bawah pengawasan Dinas Musium dan Sejarah DKI Jakarta. Status cagar budaya ini ditetapkan melalui SK Gubernur No.cb.11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 (dimuat dalam Lembaran Daerah no.60/1972).

Masjid al-Anshor adalah masjid tertua di Jakarta yang masih berdiri hingga saat ini. Masjid yang pertama didirikan di Batavia, setidaknya yang pertama tercatat, kemungkinan adalah masjid milik Gouw Cay alias Jan Con, seorang sekretaris dari Souw Beng Kong -kapitan Cina pada masa Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Gouw Cay, seorang tukang kayu Tionghoa muslim dari Banten, pada tahun 1621 memperoleh sebidang tanah di Kampung Bebek, yang terletak di sebelah utara Angke. Di atas tanah tersebut ia berniat mendirikan sebuah masjid. Tidak diketahui setepatnya mengenai pelaksanaan rencana pendirian masjid itu selanjutnya, namun pada beberapa peta dari abad-19 dapat dilihat adanya sebuah masjid di Kampung Bebek.

Baca juga : Masjid-Masjid Bersejarah Di Jakarta 

Masjid al-Anshor berbentuk sederhana, dengan empat tiang balok utama tanpa hiasan. Bagian ini masih asli dan berumur paling tua. Sebelumnya, masjid dikelilingi oleh pemakaman; namun kini lahan pekarangannya telah habis dan masjid hampir menyatu dengan rumah-rumah di sekitarnya. Masjid ini memang terletak di dalam sebuah gang kecil, Jl. Pengukiran II No.61, RT.7/RW.4, Pekojan, Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Sumber : wikipedia

Baca Selengkapnya »


Newer Posts Older Posts
Subscribe to: Comments (Atom)

Adnow Ads

loading...

Post Terbaru

Translate

SAYANGI YANG ADA DI BUMI, ENGKAU DISAYANGI PENDUDUK LANGIT

قال رسول الله  ﷺ : مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني Rasulullah ﷺ telah bersabda, ”Ba...


Daftar Pondok Pesantren
se-Indonesia


Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments

Sparkline


guest counter
Flag Counter

Adnow1

loading...

Jadwal Waktu Shalat dan Imsyakiyah



Silahkan Pilih Kota untuk melihat Jadwal Waktu Shalat
di Kota Anda.


Post Populer

  • SHALAWAT TIBBIL QULUB
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَ...
  • Risalah Awwal - Pon Pes Attauhidiyyah
    FAS-ALUU AHLADZ- DZIKRI INKUNTUM LAA TA'LAMUUN Bismillaahirrohmaanirrohiim.... Alhamdulillaahilladzii ja'ala lanaal iimaana wal is...
  • Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
    ★ ﺑﻤﺎﺫﺍ ﻳﻨﺨﻠﻖ ﺍﻟﻮﻟﺪ؟ ★  ﻳﺠﺐ ﻋﻠﮯ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﻖ ﺑﺎﻼﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﺻﻐﺮﻩ، ﻟﻴﻌﻴﺶ ﻣﺤﺒﻮﺑﺎ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ: ﻳﺮﺿﮯ ﻋﻨﻪ ﺭﺑﻪ، ﻭﻳﺤﺒﻪ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴ...
  • JADILAH ORANG 'ALIM
    قَالَ النَّبِيُّ  ﷺ  كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى Nabi...
  • Nadham Aqidatul Awam
    Aqidatul Awam adalah salah satu kitab yang membahas tentang tauhid karya ulama besar dan waliyullah Syeikh Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Mali...

Post Lainnya




Cari Post Lainnya

Kategori

Adab dan Akhlak Aqidah Aswaja Bicara Hidayah Biografi Ulama Bulughul Maram Cahaya Raudhah Do'a Harian Do'a Para Nabi Dalam Al-Qur'an Do'a dan Shalawat Fathul Qarib Fiqih HNA Habaib Habib Abubakar Assegaf Hadits Qudsi Hikmah Sufi Hujjah Aswaja Kajian Fiqih Kajian Tafsir Al-Qur'an Kisah Hikmah Kiswah TV Mahfudzot Masjid Nusantara Mutiara Hadits Mutiara Hikmah Nabi dan Rasul Nisfu Sya'ban Nurul Qur'an Pesan Sahabat Puasa Ramadhan Serba Serbi Shalat Tarawih Shalawat Nabi Sirah Nabawi Tadabbur Daily Tadzkirah Tafsir Qur'an Terjemah Ta'lim Muta'alim Terjemahan Matan kitab Safinatun Najah USWAH (Meneladani Para Pendahulu) Ulama Nusantara Ummul Mukminin Untaian Kalam Hikmah Video Wisata Religi Ziarah Wali

Blog Archive

Report Abuse